Zai
Cerpen Sutirman Eka Ardhana
IDUL Fitri tinggal tiga hari lagi. Dan, ini malam pertama aku di kampung, di rumah, setelah tiga tahun tak pernah pulang. Ya, tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku, Bengkalis. Tiga tahun aku tinggal di Yogya, melanjutkan kuliah. Sekarang aku pulang, ingin merayakan lebaran bersama Ayah dan Emak.
Sayangnya, malam ini tak lagi purnama. Bahkan sehabis sholat tarawih di surau tadi, di langit tak ada secuil bintang pun yang muncul. Hanya awan hitam yang terlihat menebal, membuat malam menjadi begitu pekat. Tapi di ujung kampung ada cahaya yang merebak ke atas. Dari kejauhan, cahaya yang tampak menyeruak di pucuk-pucuk rimbun pepohonan karet itu bagai mengirimkan daya pesona yang besar.
Lalu, terdengar ada dentang suara gong yang mendayu. Seperti halnya cahaya yang merebak, suara gong itu pun datang dari kawasan ujung kampung. Suara gong itu bagai mengandung kekuatan magis yang mampu menggerakkan orang-orang yang mendengarnya untuk datang mendekat. Alunan irama gong yang mendayu dari kejauhan itu memang terkesan khas dan aneh.
Dentang suara gong itu pun menggodaku. Dentangnya seakan-akan memiliki daya dorong yang luar biasa untuk mempengaruhi rasa ingin tahuku. Aku bergegas bangkit dari duduk di beranda rumah. Niatku sudah jelas, mendatangi tempat di mana suara gong itu berasal. Tapi, begitu aku akan melangkah, Emak muncul di pintu.
“Kauhendak ke mana, Ar?” tanya Emak seketika.
“Mak tak dengar suara gong itu? Ada apa ya, Mak? Saya mau ke tempat gong itu berbunyi,” jawabku sambil membetulkan letak krah jaket yang kupakai.
“Oh, itu di ujung kampung! Dari orang-orang di pasar tadi pagi, Mak dengar tak jauh dari rumah Tuk Penghulu malam ini ada acara tari belian,” jelas Emak.
“Tari belian? Ah, ini kan bulan puasa, Mak? Biasanya di malam bulan puasa seperti ini orang-orang bertadarus, membaca Al-Quran, bukan membuat acara tari belian,” potongku.
“Kabarnya ada anak gadis sakit. Sakitnya sudah payah, hingga seorang Bomo dari Senggoro terpaksa dipanggil untuk mengadakan upacara belian,” jelas Emak lagi.
“Ada anak gadis sakit?! Siapa dia, Mak?” aku diburu rasa ingin tahu.
“Entahlah, Mak lupa bertanya siapa anak gadis yang sakit itu.”
“Tapi, tak jauh dari rumah Tuk Penghulu itu, Mak?”
“Yang Mak dengar di pasar tadi begitu.”
“Kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja ya, Mak? Di zaman semaju ini, masih juga ada yang berobat ke Bomo.”
“Kata orang, sakitnya anak gadis itu bukan sakit sembarang sakit.”
“Ah, siapa gerangan yang sakit itu?” aku jadi gelisah.
“Apa ada anak gadis di sekitar rumah Tuk Penghulu yang kau kenal?”
Aku hanya mengangguk. Tanpa menoleh ke Emak lagi, aku segera melangkah ke luar pintu beranda.
“Kalau mau ke sana, naik kereta angin biar cepat,” kata Emak begitu melihat aku tidak menghampiri sepeda yang tersandar di dekat beranda rumah.
Entah mengapa, perasaanku tiba-tiba menjadi bergebalau begitu mendengar penjelasan Emak, ada anak gadis yang sakit di dekat rumah Tuk Penghulu, kepala desa di kampungku, sehingga lupa dengan sepeda milik ayahku itu. Padahal jika dengan mengendarai sepeda, kawasan ujung kampung itu dapat kucapai hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Walaupun hatiku ragu apakah masih bisa mengayuh sepeda dengan sempurna, maklumlah selama di Yogya aku tak pernah lagi bersepeda.
***
SEHABIS memarkir sepeda di bawah sebuah pohon, aku segera menyeruak di antara kerumunan orang yang berjejal melingkar di halaman rumah panggung yang besar. Halaman rumah itu terang benderang dengan sejumlah lampu petromak yang digantung di beberapa tempat. Resah dan debar di dadaku sejak di ujung jalan yang menuju ke lokasi berkerumunnya banyak orang semakin mengencang. Zai-kah yang sakit?! Bukankah rumah panggung itu rumahnya Pakcik Awang, ayahnya Zai?! Kalau bukan Zai yang sakit, lantas siapa? Pakcik Awang tak punya anak gadis lain, selain Zai!
Tetapi, aku belum melihat Zai di tengah-tengah kerumunan orang itu. Yang ada hanya seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Lelaki itu sedang menengadahkan tangannya ke atas dengan mulut bergerak-gerak bagai sedang membacakan mantera persis di depan nyala api yang membara dari timbunan kayu, yang sengaja disediakan untuk menjadi api unggun. Cahaya nyala api itulah yang dari kejauhan terlihat menyeruak di pucuk-pucuk pepohonan karet. Dan lelaki tua itu sudah pasti Tuk Bomo yang diundang untuk memimpin upacara belian.
Sekitar tiga meter sebelah barat api unggun tampak jung kecil atau perahu-perahuan sepanjang satu meter. Di dekatnya terdapat balai kecil. Jung maupun balai kecil itu terbuat dari pelepah pohon kelapa. Di dalam balai kecil itu terlihat beberapa butir telur ayam, sepiring beras kunyit, sepiring beras putih, segenggam bunga dan segelas air putih.
Tiba-tiba Tuk Bomo menghentakkan kaki kanannya ke tanah tiga kali seraya mulutnya bergerak-gerak seperti sedang membacakan mantera. Secara bersamaan dentang suara gong yang ditabuh seorang lelaki muda itu berdentang lebih cepat lagi. Penabuh gendang panjang yang duduk di sebelah penabuh gong itupun meningkahkan gendangnya dengan irama yang tak kalah cepatnya.
Tak sampai tiga menit kemudian, dari dalam rumah panggung itu sekitar enam lelaki turun menggotong tempat tidur yang terbuat dari kayu. Di atas tempat tidur terbaring seorang perempuan muda berselimutkan kain putih. Di belakanganya tampak Pakcik Awang dan isterinya, Makcik Hasnah.
Aku terperangah. Wajah itu masih kuingat. Masih sangat kukenal. Mata yang terpejam dan bibir yang terkatup itu masih melekat di ingatan. Ya Tuhan, dia Zai! Tak salah lagi, dia memang Zai! Aku mencoba mendekat, melangkah lebih dekat. Tetapi beberapa lelaki yang mengawal Tuk Bomo dengan cepat menghalangi langkahku.
“Ayo mundur!” salah seorang dari pengawal Tuk Bomo menggertakku.
Dengan perasaan terpaksa aku mengundurkan langkah. Kembali ke dalam kerumunan. Aku menyadari, bila nekat mendekat ke tempat Zai terbaring, mungkin banyak orang akan marah karena menganggap perbuatanku itu mengganggu Tuk Bomo.
Orang-orang di kerumunan itu pun saling berbisik. Saling bercakap satu sama lain. Tidak sedikit pula yang berkata agak sedikit keras.
“Kabarnya baru sebulan ini dia sakit. Tak mau makan. Tak mau keluar kamar. Tak mau bercakap-cakap dengan siapapun. Mandi pun, kalau tak dipaksa, dia tak mau. Bahkan, beberapa hari lalu dia mengamuk. Segala barang yang ada di dekatnya dibuang, dilemparnya keluar rumah. Piring-piring dilempar. Gelas-gelas dilempar keluar. Banyak yang pecah,” ada yang berkata begini.
“Kenapa bisa begitu? Padahal dia itu gadis cantik, gadis periang.”
“Kabarnya juga, penyebabnya karena dia mau dinikahkan dengan pemuda dari kampung sebelah. Lelaki yang mau dijodohkan dengan dia itu anak orang kaya juga. Tapi dia menolak. Dia tak mau dinikahkan dengan pemuda pilihan ayahnya itu. Konon, ayahnya tetap memaksa. Mungkin karena dipaksa terus, dia jadi stress. Dan terus, ya jadi seperti sekarang ini.”
“Kenapa ya dia menolak? Padahal umurnya sudah cukup untuk bersuami.”
“Mungkin dia sudah punya pilihan yang lain. Mungkin ada yang ditunggunya.”
Dadaku terguncang. Terguncang bukan kepalang. Jadi dia mau dinikahkan?! Tapi dia tak mau! Ah, apa benar ada yang ditunggunya?! Jadi??? Aku didera kebingungan.
Ah, aku jadi ingat hari-hari manis bersamanya dulu. Hari-hari indah saat berkeliling kota. Hari-hari penuh kesan saat bercengkerama memandang laut. Memandang riak gelombang di Selat Bengkalis. Memandang burung-burung camar yang terbang dan hilang di kejauhan. Dan aku ingat, bagaimana ia meneteskan air mata ketika kucium pertama kali di bawah rimbunan kebun karet. Aku pun juga ingat bagaimana wajahnya terlihat sendu saat mengantarku di pelabuhan ketika akan berangkat ke Jawa tiga tahun lalu.
“Bang Ar, tak akan melupakan Zai, kan?” katanya dengan air mata berderai.
“Percayalah, Abang pasti akan selalu ingat Zai,” ucapku sambil mengusap air mata yang di pipinya.
“Abang janji?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Bang, Zai tetap akan menunggu Abang,” ujarnya lirih ketika akan melangkah masuk ke kapal.
Tiba-tiba terdengar orang ramai berteriak. Ribut. Gaduh. Aku terkesiap. Teriakan itu membuyarkan lamunanku.
“Ya Allah, dia bangun dan mengamuk!” ada yang berseru begini.
“Dia memukul Tuk Bomo!”
“Astaga, batangan kayu berapi di api unggun itu dipukulkannya ke Tuk Bomo,” teriak yang lain.
Benar! Aku tidak salah lihat. Zai mengamuk bagai seekor singa betina yang marah. Semua peralatan dan sesaji yang ada tercerai-berai. Jung dan balai kecil luluh-lantak diinjak dan ditendangnya. Piring tempat beras kunyit dilemparkannya ke arah pengawal Tuk Bomo. Tepat mengena di kepala. Pengawal Tuk Bomo itu terjatuh, dan piring pun pecah berantakan. Zai seperti ingin memburu orang-orang di sekitarnya dengan mengibas-ibaskan potongan kayu yang masih ada bara apinya.
Suasana jadi kacau-balau. Makcik Hasnah, emaknya Zai, berteriak-teriak menangis. Pakcik Awang juga berteriak, tak jelas apa yang diteriakkannya. Beberapa orang berusaha menyelamatkan Tuk Bomo dan berusaha menggotongnya menjauh. Orang-orang yang semula berkerumun menonton di sekitarnya menghindar menyelamatkan diri, takut jadi korban amukan. Hanya aku yang tetap berdiri di tempat. Terpana menyaksikan semuanya. Menyaksikan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ada yang mencoba menarik lenganku, mengajakku menjauh, ada pula yang berteriak menyuruhku menghindar, tapi semua tak kuhiraukan.
Aku masih tetap berdiri. Terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Dan, Zai tiba-tiba sudah berada tepat di depanku. Hanya berjarak sekitar dua meter. Di tangannya tetap melekat sepotong kayu yang ujungnya masih membara api. Orang-orang berteriak, menyuruhku segera lari. Matanya yang membara memandang tajam, tak berkedip.
“Zai,” aku mencoba menyapa, ramah. “Masih ingat dengan Abang?”
Belum ada reaksi. Ia tetap berdiri di tempatnya. Memandang tajam.
“Masih ingat Abang, Zai?” suaraku lagi.
Ia masih tetap tak berkedip memandangku. Tapi mata itu sudah tidak lagi menyala. Nyala api di matanya tampak meredup.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Kayu di tangannya dilepaskan. Setelah itu ia menghambur ke arahku. Memeluk tubuhku erat-erat.
“Bang Ar, kapan pulangnya? Kenapa tak bilang-bilang ke Zai? Bang, Zai mau ikut Abang. Mau ikut Abang,” katanya sambil menangis terisak-isak di dadaku.
Aku terperangah. Benar-benar terperangah. **
Yogya, menjelang Idul Fitri 1430 H
Catatan:
- Tari belian = tarian untuk penyembuhan
- Bomo = semacam dukun.
Dimuat: Harian “SUARA KARYA”, Sabtu, 24 Oktober 2009
Rabu, 28 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar