Sabtu, 06 Agustus 2011

Perempuan Yang……. Cerpen Sutirman Eka Ardhana

Perempuan Yang…….
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

PEREMPUAN yang sendiri di kamar itu adalah perempuan yang semalaman menenggelamkan dirinya ke dalam sunyi. Perempuan yang menenggelamkan dirinya ke dalam sunyi itu adalah perempuan yang bermalam-malam telah mencoba membunuh birahinya pada lelaki. Dan, perempuan yang mencoba membunuh birahinya pada lelaki itu telah memastikan dirinya untuk segera pergi.
Pergi! Ya, pergi, dan tak akan kembali lagi. Pergi dari tempat yang bertahun-tahun telah menjadi tempatnya melabuhkan gelisah, dan menyandarkan keluh-kesah kehidupan. Pergi dari tempat yang bertahun-tahun telah menjadi tumpuan hidupnya. Tempat ia bertahun-tahun berkubang dengan nestapa dan tawa. Bergumul dengan senyum dan air mata.
Meski menyakitkan, tapi perempuan itu sadar, sepahit apa pun tempat ini telah menyelamatkan hidupnya dari keputus-asaan. Menyelamatkannya dari ketakberdayaan dan kehampaan. Tempat ini pun telah menjadi penawar kepedihannya. Ia pun ingat, betapa tak berdayanya dulu menghadapi nestapa kehidupan. Menghadapi kenyataan yang tiba-tiba muncul dan memporak-porandakan kehidupannya. Betapa tak berdayanya ia dulu mencegah suaminya pergi dengan perempuan lain, dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Dan, betapa tak berdayanya ia mencegah perceraian.
Ada yang bergejolak di dada perempuan itu. Ada rasa amarah, kecewa dan pedih. Gejolak rasa yang membuatnya seperti tersudut tak berdaya. Perempuan itu pun kemudian menitikkan air matanya. Menangis. Tanpa sadar, air matanya menetes, membasah di pipi. Padahal sudah bertahun-tahun ia mencoba tak menangis di tempat ini. Bertahun-tahun ia mencoba untuk tegar. Mencoba untuk kuat dan tidak cengeng.
Tapi kini ketegarannya mulai rapuh. Kekuatan jiwanya mulai melemah. Ia seperti telah didera ketakberdayaan yang sangat dalam. Beberapa bulan terakhir ia mudah sekali bersedih. Ia sering bermenung diri. Terlebih bila malam, setelah aktivitas kesibukan di tempat ini berakhir, ia pun tenggelam dalam kesepian dan kesendirian. Ia merasakan hidup yang sunyi. Teramat sunyi. Dan, hidup yang pahit. Teramat pahit. Kepahitan yang menyayat. Kepahitan yang menunjam pedih ke relung-relung hati.
Perempuan yang sendiri di kamar itu pun kembali mengingat-ingat perjalanan dirinya. Kembali mengingat langkah demi langkah yang telah membawanya masuk ke tempat ini dan bergelut dengan rona kehidupan di dalamnya. ”Ah, sudah lama aku hanyut dengan gelombang kehidupan di sini,” keluhnya.
Ia pun ingat, suatu hari, sekitar lima tahun lalu. Wardani, tetangganya di kampung, dan teman satu sekolahnya semasa masih di SMP, datang ke rumahnya. Ketika itu ia sedang duduk sendiri, di kursi panjang, di bawah pohon jambu merah, depan rumahnya, sambil memandang semburat senja yang turun di balik desa.
”Apa kau tidak tertarik pergi ke kota?” tanya Dani, begitu ia selalu memanggil perempuan teman semasa sekolahnya itu.
”Ke kota? Untuk apa?” ia balik bertanya.
”Ya, bekerjalah. Dari pada di sini, kau hanya bermenung-menung seperti ini, mengingat-ingat lelaki bekas suamimu yang sudah pergi itu. Lebih baik kau lupakan semuanya. Kau lupakan semua kepedihan. Apalagi kau juga memerlukan biaya untuk membesarkan anakmu, dan menyekolahkannya nanti.”
”Tapi, bagaimana dengan Dimas, anakku itu? Tahun depan dia harus sudah masuk sekolah. Siapa nanti yang harus mengurusnya masuk sekolah. Dan, bila sudah sekolah, siapa nanti yang harus mengantarkannya ke sekolah?”
”Pasrahkan atau titipkan saja kepada Bapak dan simbokmu. Bapak dan simbok pasti bisa merawatnya, apalagi kalau hanya ngurusi bagaimana dia masuk sekolah nanti. Yang penting, ada biayanya. Nah, dengan bekerja di kota, nanti kamu bisa memberikan atau mengirimi biaya untuk anakmu itu.”
Perempuan itu pun ingat, bagaimana ia dulu mengangguk, menyetujui ajakan Dani untuk bekerja di kota. Dan, ia pun ingat, teramat ingat, bagaimana Dani pertama kali membawanya ke tempat ini.
”Di sini tempat yang termudah untuk bekerja, dan mencari uang. Jangan khawatir, aku juga bekerja di sini. Jadi kita akan selalu berdekatan. Akan selalu bersama,” ini kata-kata Dani ketika itu, saat ia terpana, kehilangan daya, terhenyak, dan tak tahu harus berkata apa-apa lagi.
”Di sini, kita hanya bertugas melayani laki-laki. Itu saja. Bekerja ala-kadarnya, tapi dapat uang,” kata Dani lagi saat itu.
Perempuan yang hanyut dengan keluhnya itu lalu memandang ke arah cermin. Di dalam cermin yang kacanya tak lagi bersih dan buram itu, ia memandang wajahnya sendiri dalam-dalam. Terlihat jelas di kaca cermin, wajahnya tak lagi sekencang dan semulus lima tahun lalu. Kecantikan di wajahnya seperti telah memudar. Padahal kecantikan itulah yang dulu menjadi kebanggaan dan andalannya. Kecantikan itulah yang selama bertahun-tahun dulu telah membuat dirinya populer dan menjadi idola banyak lelaki yang bertandang ke tempat ini.
”Aku harus pergi. Ya, aku harus pergi. Tak ada lagi yang kupertahankan di sini. Tak ada lagi........,” kata-kata ini seperti saling berdesakan di dalam hatinya.
Perempuan itu mengusap air matanya yang masih membekas di pelupuk mata. Perempuan itu pun berusaha meyakinkan dirinya bahwa keinginan untuk pergi bukan semata dikarenakan alasan kecantikannya yang sudah memudar. Bukan karena takut, tak akan ada lagi lelaki yang datang mencari, dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Bukan karena takut bersaing dengan pendatang-pendatang baru, yang jauh lebih muda, lebih kenes dan cantik.
Tapi, semuanya bermula dari sms Dani yang diterima handphonenya lima hari lalu. Dani yang kebetulan sedang pulang ke desa itu mengabarkan, jika Dimas bersama kakek dan neneknya telah tewas disambar truk. ”Menurut informasi bapakmu naik sepeda menggonceng ibumu dan Dimas, sehabis menjemput Dimas di sekolah. Mereka disambar truk. Peristiwanya sudah terjadi seminggu lalu. Tapi tak ada yang memberitahumu, karena tak ada yang tahu alamatmu di kota,” begini tulis Dani di sms-nya.
Perempuan itu kembali mengusap air matanya. Ia berpikir, tak ada lagi yang bisa dipertahankannya di tempat ini. Tak ada lagi gunanya bekerja di sini. Ia dulu nekad bekerja begini, demi untuk anaknya semata wayang, Dimas. Demi untuk menyekolahkannya. Untuk membesarkannya. Namun, kini semuanya sudah sirna.
Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya ke sebilah pisau, yang sejak sore tergeletak di atas meja kecil, tak jauh dari ranjangnya. Pisau tajam itu sore tadi digunakannya untuk mengupas buah mangga, pemberian teman di kamar sebelahnya.
Perempuan itu menguatkan tekadnya untuk pergi.
Yogya, Juli 2011

SENYUM DAN SEPOTONG SENJA Cerpen : Sutirman Eka Ardhana

SENYUM DAN SEPOTONG SENJA

Cerpen : Sutirman Eka Ardhana

AKU menunggumu di pinggir jalan. Sendiri. Menunggumu lewat sambil memandang semburat senja yang akan tenggelam di balik kota. Seperti kemarin dan kemarinnya lagi, kaulewat di jalan ini, ketika senja mulai temaram.
Sudah empat hari aku di kota ini setelah 40 tahun kutinggalkan. Ya, sudah empat hari pula aku menghirup udaranya kembali. Sudah empat hari pula aku berdiri di pinggir jalan ini, setiap senja tiba. Dan, sudah empat kali senja pula aku melihat kaulewat di jalan ini.
Setiap kali lewat, engkau tersenyum. Senyummu itu dahsyat sekali. Aku tergagap. Terkesiap. Betapa tidak. Senyum itu, ya, senyummu itu, seperti lontaran senyum yang datang dari masa lalu. Senyum yang dulu pernah kukenal. Bahkan sangat kukenal. Tapi senyum siapa? Bukankah teramat banyak senyum yang kukenal? Ya, teramat banyak senyum yang hadir dalam perjalanan hidupku.
Sudah tiga malam ini, senyummu itu mengaduk-aduk perasaanku. Mengaduk-aduk kenanganku. Entah mengapa senyummu itu seakan telah membawaku jauh ke lorong kerinduan yang tak bertepi. Ke lorong masa lalu yang samar, tapi pasti.
Hampir dua jam lebih aku menunggu. Tapi kau belum juga datang. Belum juga lewat. Padahal senja sebentar lagi tenggelam. Sebentar lagi cahaya semburatnya yang indah dan mempesona itu hilang ditelan malam. Dan, bila malam telah turun, cahaya lampu listrik di pinggir jalan itu tak akan mampu membantu pandangan mataku untuk melihat senyummu. Melihat senyum yang kutunggu-tunggu itu.
Aku ingat, ketika kaulewat di senja kemarin. Dari jarak yang masih beberapa meter, senyummu sudah tersembul. Senyummu itu sempat membuatku terpana beberapa saat. Kalau saja kau tak bertanya, aku pasti hanyut bermenit-menit dalam keterpanaan itu.
“Mari, Pak. Mau pilih apa? Pisang goreng, ketela goreng atau lainnya? Bakwan dan nogosari juga ada lho, Pak,” rentetan kata dan tanyamu di senja kemarin.
Engkau pun lalu menurunkan keranjang bakul dari gendongan di punggungmu. Di bagian atas keranjang bakul itu terdapat sebuah baskom. Baskom itu berisi penuh makanan yang kau jajakan. Ada pisang goreng, ketela goreng, bakwan, nogosari, kueh lapis, donat dan banyak lainnya lagi.
Andaikan kaulewat, dan tersenyum lagi seperti kemarin, mungkin, ya mungkin saja aku akan dapat mengingat-ingat kembali siapa sebenarnya pemilik senyum itu. Rasanya dulu, aku begitu sangat mengenalnya. Begitu dekat dengannya. Sepertinya senyum itu sudah kukenal sejak empatpuluh tahun lebih yang lalu. Sejak aku masih duduk di bangku SMA, di kota ini.
Apakah itu senyum yang dulu dimiliki Astuti, adik kelasku yang matanya selalu menggoda? Atau senyum Antin? Mirna? Dahlia? Atau jangan-jangan itu senyum miliknya Miyanti? Ya, Miyanti, kembang di kelasku itu. Miyanti yang dulu kucintai habis-habisan. Kucintai sampai babak-belur. Aku ingat, siang itu ketika pulang sekolah bersama Miyanti, empat lelaki muda mencegatku. Tanpa bertanya sepatah kata pun, mereka langsung menghajarku. Tak pelak lagi, akibatnya wajahku biru lebam dan badanku babak-belur.
Tiga hari kemudian baru aku tahu jika empat lelaki yang menghajarku itu adalah suruhan tunangannya Miyanti. Ternyata oleh orangtuanya, Miyanti sudah ditunangkan dengan pemuda tetangganya. Tapi ia tak pernah mengatakannya kepadaku. Tak pernah menceritakan perihal tunangannya itu.
Dan, sehari setelah peristiwa itu, Miyanti tak pernah lagi datang ke sekolah. Beberapa minggu kemudian tersiar kabar di sekolah, bila ia sudah resmi keluar dari sekolah karena dinikahkan oleh orangtuanya dengan pemuda tunangannya itu.
Dalam usiaku yang sekarang ini ternyata bukan persoalan yang mudah juga untuk mencoba membongkar-bongkar kembali semua ingatan atau kenangan tentang senyum-senyum yang dulu pernah kuterima. Terus terang memang teramat banyak senyum yang kuterima. Senyum yang berarti. Senyum yang berkesan dalam hidupku. Dan, salah satu yang berarti serta penuh kesan dalam hidupku itu adalah senyum seperti yang dimiliki Miyanti. Seperti senyum yang ada padamu dan kauberikan kepadaku dalam beberapa kali senja itu.
Tapi kau tak datang juga. Tak kunjung lewat di jalan ini. Itu artinya, senyummu tak akan kutemui. Senja menjadi terasa hambar. Semburat cahayanya menjadi buram, tak seindah senja-senja yang kemarin.
Aku kecewa. Sambil bersandar pada pohon rindang di pinggir jalan, kupandangi senja yang mulai tenggelam dan hilang di balik kota. Pandanganku hampa.
“Sedang menunggu siapa, Pak?” sebuah tanya mengejutkanku.
Seorang lelaki muda telah berdiri di sampingku. Aku ingat, lelaki muda ini adalah pekerja di hotel tempatku menginap, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari pinggir jalan tempatku menunggumu.
“Sudah beberapa senja ini saya melihat Bapak selalu di sini, seperti sedang menunggu seseorang. Siapa yang ditunggu, Pak?” tanyanya lagi.
“Saya sedang menunggu perempuan penjual makanan yang setiap menjelang senja itu lewat di sini,” jawabku apa adanya.
“Perempuan yang menjual pisang goreng, ketela goreng dan lainnya itu? Yang membawa dagangannya dengan keranjang bakul di gendongannya itu?” lelaki muda itu balik bertanya.
“Ya…, ya itu. Perempuan itu yang saya tunggu,” kataku spontan.
“Ooo…menunggu Bu Miyanti, tho?”
Aku terkesiap.
“Siapa? Miyanti!? Perempuan itu bernama Miyanti? Betul, dia bernama Miyanti!?” tanya beruntun pun tak mampu kutahan.
“Ya betul, Pak. Perempuan penjual makanan itu bernama Bu Miyanti. Saya sangat mengenalnya, karena dia tetangga saya. Tapi…..,” kata-kata lelaki muda itu seperti terputus.
“Tapi .., kenapa?” tanyaku tak sabar.
“Dia tak akan lewat di jalan ini lagi, Pak.”
“Lho, kenapa?” tanyaku terkejut. Ya, aku memang terkejut dengan kata-kata itu.
“Dia sudah meninggal dunia, Pak. Semalam, dalam perjalanan pulang sehabis menjajakan dagangannya, ia tertabrak sepedamotor. Lukanya parah sekali. Beberapa jam di rumah sakit, ia pun meninggal dunia. Dan, siang tadi, jenazahnya telah dimakamkan,” kata lelaki muda itu lagi, seraya kemudian pamit untuk bergegas ke hotel.
Betapa tak berdayanya aku setelah itu. Tubuhku lemas, tersandar di pepohonan. Lunglai. Senja pun menjadi buram.
Yogya, Januari 2011

Lereng Sunyi Merapi Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

Lereng Sunyi Merapi
Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

(1)
MALAM baru saja turun. Tapi kesunyian sudah menelan desa di lereng Merapi itu. Dari ujung desa, dua ekor burung gagak terbang beriringan dan meneriakkan suaranya yang menyibak sunyi malam. Oak! Oak! Oak!
Dua ekor burung gagak itu kemudian melintas di atas rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak-teriak – Oak! Oak! Oak! – lalu hinggap secara bersamaan di sebuah pohon besar di depan rumah. Meski sudah bertengger di sebuah dahan, keduanya masih saja mengepak-ngepakkan sayapnya sambil tetap berteriak – Oak! Oak! Oak! Sepertinya ada yang ingin dikabarkan oleh kedua burung gagak itu kepada warga desa yang sejak petang sudah mengurung diri di dalam rumah.
Sejak malam turun, jalanan desa yang kiri-kanannya dipenuhi rimbun pepohonan itu dipagut sepi. Tidak seorang warga pun ada di jalanan. Entah mengapa, dalam beberapa hari terakhir, semua warga desa seakan sepakat bila sehabis mahgrib tidak lagi berada di jalanan atau di luar rumah. Mereka seakan-akan sedang berjaga-jaga di dalam rumah dengan penuh kecemasan.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak di langit malam. Teriakan nyaringnya mencemaskan empat orang lelaki yang sedang berkumpul di sebuah rumah. Keempat lelaki itu bertetangga. Rumah-rumah mereka saling berdekatan. Dan, keempatnya berkumpul di rumah Parmo, yang paling tua di antara mereka.
“Burung-burung gagak itu datang lagi. Berteriak-teriak lagi,” kata salah seorang yang bertubuh tinggi dan berkumis.
“Ya, suara-suara gagak itu membuat aku jadi cemas,” ujar si pemilik rumah, Parmo.
“Jangan-jangan akan ada ……….., ah aku tak bisa meneruskannya. Aku ngeri. Aku takut untuk mengatakannya. Aku khawatir apa yang akan kukatakan itu nanti benar-benar terjadi. Ah, aku tak ingin lagi itu terjadi. Cukuplah …. Ya cukuplah sudah …….,” timpal salah seorang di antaranya yang berbadan kurus.
“Beberapa waktu lalu, ketika ada burung gagak berteriak-teriak seperti itu, sehari kemudian ada dua orang yang terbunuh di desa ini. Mereka adalah para pencuri sapi yang kepergok warga desa. Mereka diamuk, dan tewas,” kata seorang lagi yang berbadan gempal. “Malam ini burung-burung gagak itu datang lagi. Entah kabar buruk apa yang disampaikannya,” tambahnya.
Oak! Oak! Oak! Teriakan burung-burung gagak itu membahana lagi membelah malam. Suaranya semakin nyaring. Semakin keras. Semakin panjang.
“Sepertinya burung-burung itu hinggap di pohon rumah sebelah,” ujar Parmo.
“Rumah Pak Kasan, maksudmu?” tanya yang kurus.
“Ya. Cobalah dengar baik-baik, suara burung-burung gagak itu menjerit-jerit di depan rumah sebelah. Itu pasti di pohon rambutan depan rumah. Suaranya begitu nyaring. Begitu dekat.”
Oak! Oak! Oak! Terdengar pula suara ranting pohon yang jatuh. Sebatang ranting kering yang sudah lama rapuh patah, tak kuat menahan pijakan burung-burung gagak itu.
“Ah, kalau saja aku punya senapan, sudah kutembak burung-burung sial itu,” suara si kurus bernada geram.
“Heh, kenapa pula? Apa salahnya gagak-gagak itu hingga mau kau tembak?” lelaki tinggi dan berkumis terpancing pula untuk bertanya.
“Gagak-gagak itu pembawa bencana. Kalau dia datang dan berteriak-teriak malam-malam seperti ini, pasti akan ada bencana di desa kita. Akan ada jiwa yang melayang. Akan ada yang mati lagi. Besok entah siapa lagi yang mati?”
“Itu bukan salahnya gagak. Justru sebaliknya kita harus berterimakasih kepada gagak-gagak itu. Karena dia sudah memberitahu kita lebih dulu tentang akan adanya bahaya, adanya bencana, atau kematian. Dengan pertanda yang diberikan gagak-gagak itu, kita bisa berjaga-jaga dan bersiap-siap lebih dulu. Jadi, jangan salahkan gagak. Burung-burung itu tak bersalah dan tidak membawa bencana. Pembawa dan penyebab bencana itu biasanya ya manusia sendiri,” kata Parmo serius.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak.

(2)
Akan halnya di rumah Pak Kasan, Narti kembali membaca isi pesan singkat di telepon selularnya – Minggu dpn aku akn plang ke yogya. Aku pasti ke rumahmu. Aku ingin sekali mmandang Merapi yang indah itu lagi bsamamu. Tunggu, ya. – Wahyu.
Sejak diterimanya petang hari, setidaknya lebih dari enam kali sms dari Wahyu itu dibacanya. Hatinya berbinar-binar. Gembira. Betapa tidak, minggu depan ia akan bertemu lagi dengan Wahyu, pemuda sedesanya yang merantau ke Jakarta, dan yang selama ini diyakininya dengan sepenuh hati sebagai satu-satunya lelaki pujaan.
Pertemuannya yang terakhir dengan Wahyu terjadi enam bulan lalu. Dan, Narti ingat, sederetan kata-kata Wahyu ketika itu, yang diucapkan ketika mereka berdua duduk di pinggiran sungai, sambil memandang ke puncak Merapi yang mempesona. “Jika aku nanti pulang lagi ke desa, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku tak akan ingin berjauhan lagi denganmu. Aku akan selalu berada di dekatmu,” ini kata-kata Wahyu saat itu.
“Maksudmu?” Narti ingat, tanya inilah yang spontan dilontarnya sore itu.
“Ya, maksudnya, kita akan selalu bersama. Berdua. Aku akan melamarmu. Lalu kita menikah. Akan kita jalani kehidupan ini bersama. Pendek kata, aku ingin sehidup dan semati denganmu. Kau bersedia kan, Nar?”
Narti tersenyum sendiri. Lalu, ia pun membayangkan saat-saat mendebarkan itu. Wahyu dan keluarganya datang ke rumahnya melamar, kemudian mereka menikah, duduk berdua di pelaminan, disaksikan sanak keluarga, kawan-kawan, para tetangga dan handai-tolan lainnya. Ah, kebahagiaan yang tiada tara!
Narti melangkah ke jendela, lalu dibukanya jendela itu sedikit. Dipandangnya malam di luar rumah. Malam seperti dipeluk kelam. Cahaya lampu listrik di depan rumah yang hanya 25 watt tak mampu melawan kegelapan. Tapi dengan cahaya yang tipis itu ia sempat melihat awan hitam seakan bergerombol tebal di pucuk-pucuk pepohonan.

(3)
Wahyu gelisah membaca berita di koran-koran dan menonton tayangan berita di televisi bahwa Gunung Merapi beraksi lagi. Mulai meletus lagi! Dan, melontarkan awan panas! Ia pun sontak teringat desanya di lereng Merapi. Teringat kedua orangtuanya, adik-adiknya dan kerabatnya. Juga, Narti!
Tak ada pilihan lain. Selain secepatnya pulang ke Yogya. Hari itu juga ia minta izin di tempat kerjanya, lalu ke stasiun kereta api, naik kereta api apa pun yang paling awal bisa membawanya pulang ke Yogya.
Wahyu naik kereta api jurusan Jakarta – Surabaya yang berhenti di Yogya. Tengah malam ia sampai di Yogya. Lalu, sepedamotor ojek membawanya menembus dingin malam menuju desanya. Semula pengemudi ojek agak keberatan membawanya ke desa di lereng Merapi itu, tapi setelah disodori ongkos yang berlipat, pengemudi ojek itu pun mengangguk.
Ketika memasuki desa, kedatangannya disambut dengan suara nyaring burung-burung gagak – Oak! Oak! Oak!
(4)
KEESOKAN harinya stasiun-stasiun televisi sibuk memberitakan sebuah desa di lereng Merapi, yang terletak di pinggiran sungai diterjang awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi pada dini hari. Sejumlah warga desa itu ditemukan tewas.
Keesokan harinya lagi, tim evakuasi yang terdiri para relawan, anggota TNI dan Polri menemukan mayat Parmo tergeletak di depan rumahnya. Di sebelah rumah Parmo, tim evakuasi menemukan mayat seorang gadis tergeletak di depan pintu rumah. Dari dalam dompet di saku celana panjang yang dikenakannya ditemukan KTP atas nama Sunarti, usia 23 tahun. Kemudian di dalam rumah, ditemukan jasad lelaki tua berdampingan dengan perempuann tua. Sementara di depan rumah, tak sampai empat meter dari depan pintu, ditemukan pula seorang lelaki muda tergeletak tak bernyawa.
Desa di lereng Merapi itu sunyi, bagaikan desa mati. Burung gagak pun pergi.
Yogya, November 2010

Senin, 08 Februari 2010

Lurahing Pacino

Lurahing Pacino
Kapitan Tan Jin Sing
Pertautkan Budaya Jawa dan Budaya Tionghoa

Oleh: Sutirman Eka Ardhana

KAPITAN Tan Jin Sing, sebuah nama yang terpatri hingga hari ini, khususnya di dada sebagian besar masyarakat keturunan Tionghoa di Yogyakarta dan sekitarnya. Nama ini tidak saja sebagai lambang kebanggaan masa lalu, tetapi juga merupakan bukti sejarah dari pengabdian masyarakat Tionghoa dalam sejarah perjalanan Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat.
Dan, pengabdian masyarakat keturunan Tionghoa itu ternyata sangat besar artinya. Ini terbukti dengan terdapatnya tiga keturunan Tionghoa di lingkungan Keraton Yogyakarta, masing-masing Trah Secodiningrat, Trah Honggodrono, dan Trah Kartodirjo.
Trah Secodiningrat merupakan trah yang diturunkan oleh KRT Secodiningrat, seorang Bupati Nayoko (setingkat menteri) di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Raja.
Siapakah Kanjeng Raden Temenggung Secodiningrat itu? Nama bangsawan ini tidak dapat dipisahkan dengan nama Kapitan Tan Jin Sing. Karena nama KRT Secodiningrat merupakan nama gelar kebangsawanan Kapitan Tan Jin Sing yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Dan sebagai Kapitan yang merupakan pimpinan masyarakat Cina (Tionghoa) atau disebut Lurahing Pacino di masa itu, ia merupakan tokoh yang telah mengawali mempertemukan budaya Jawa dengan budaya Tionghoa.

Siapa Dia Sebenarnya?
Karena namanya Tan Jin Sing, banyak yang mengira bahwa ia adalah seorang lelaki gagah, tampan, bermata agak sipit dan berkulit kuning dengan rambut berkucir. Padahal dugaan itu meleset. Tan Jin Sing seorang lelaki tampan, berwibawa, berkulit hitam manis, dan tidak bermata sipit. Sorot matanya tajam dan bersih, seperti bangsawan-bangsawan Jawa lainnya di masa itu.
Tan Jin Sing memang tumbuh dan besar di lingkungan keluarga Oei The Long, seorang kaya dan juragan gadai di Wonosobo (sekarang masuk Jawa Tengah). Meski kulit dan matanya berbeda jauh dengan keluarga Oei The Long atau oleh masyarakat sekitar waktu itu dikenal dengan panggilan Bah Teng Long, namun tidak banyak yang percaya jika Tan Jin Sing sesungguhnya bukan berasal dari darah keturunan Oei The Long. Hingga sekarang, masih ada yang meyakini jika Kapitan Tan Jin Sing yang terkenal dan perkasa itu benar-benar berdarah Tionghoa dan putera kandung dari juragan gadai Oei The Long.
Sesungguhnya Tan Jin Sing keturunan asli bangsawan Jawa. Ia merupakan cicit dari Adipati Danurejo I, patih pada pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Bahkan jika ingin menelusurinya lagi ke atas, Tan Jin Sing merupakan keturunan dari Sunan Amangkurat Agung di Mataram.
Kenapa bisa begitu? Beginilah riwayatnya. Bupati Banyumas Raden Temenggung Yudonegoro III yang merupakan keturunan dari Sunan Amangkurat Agung itu berputera 27 orang dari tiga isteri dan enam orang selir. Anaknya yang ke-16 seorang puteri bernama Raden Ayu Patrawijaya diperisteri Demang Kalibeber, Wonosobo.
Dari perkawinannya dengan Demang Kalibeber, Ray Patrawijaya memperoleh tiga orang putera. Anaknya yang bungsu seorang lelaki, diberi nama Raden Luwar.
Belum lagi Raden Luwar dewasa, ayahnya yang Demang Kalibeber meninggal dunia. Seorang kaya di Wonosobo, teman dekat Demang Kalibeber, yakni juragan gadai Oei The Long menaruh kasihan pada si kecil Raden Luwar yang sudah menjadi yatim itu. Oei The Long lalu meminta kepada RAy Patrawijaya agar diperkenankan memelihara dan membesarkan Raden Luwar.
Permintaan Oei The Long dikabulkan. Raden Luwar pun lalu diangkat sebagai anak angkatnya. Tetapi perkembangan tidak berhenti di situ. Pertautan batin antara seorang ibu dengan anaknya ternyata tak dapat diputuskan begitu saja. Hampir tiap hari RAy Patrawijaya selalu ingin bertemu dengan anaknya. Demikian pula halnya dengan si kecil Raden Luwar, ia selalu bermurung diri dan menangis ingin bersama ibunya.
Perkembangan itu membuahkan situasi yang baru pula. Karena sering bertemu, cinta pun tumbuh di hati Oei The Long dan RAy Patrawijaya. Demi perkembangan jiwa Raden Luwar, akhirnya RAy Patrawijaya menikah dengan Oei The Long secara Islam. Karena secara kebetulan, Oei The Long juga seorang Tionghoa penganut Islam.
Begitu resmi menjadi anak tirinya, Oei The Long yang anak Kapitan Oei Tiong Haw di Semarang itu lalu memberi nama Tionghoa kepada Raden Luar. Nama Tionghoa yang diberikan kepada Raden Luar itu, adalah Tan Jin Sing.

Pindah ke Yogyakarta
Ketika Pangeran Mangkubumi berhasil mendapat sebagian wilayah Mataram sesuai dengan Perjanjian Giyanti dan mendirikan Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat di tahun 1757, kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, Bupati Banyumas Yudonegoro III ditarik ke Yogyakarta. Ia lalu diangkat sebagai Patih dan diberi gelar Kanjeng Adipati Danurejo I.
Pengangkatan Yudonegoro III sebagai patih dikarenakan jasanya yang besar terhadap Pangeran Mangkubumi dalam perjuangan untuk mendapatkan haknya di Mataram. Anak Yudonegoro III yang sulung menggantikan kedudukannya sebagai Bupati Banyumas dengan gelar Yudonegoro IV.
Kepindahan Yudonegoro II ke pusat pemerintahan di Yogyakarta dan memangku jabatan baru sebagai Patih, diikuti oleh sejumlah keluarganya bahkan juga juragan Oei The Long yang menjadi menantunya itu. Sejak itulah Raden Luwar yang sudah bernama Tan Jin Sing itu menetap di pusat Kesultanan Yogyakarta.
Setelah dewasa Tan Jing Sing menikah dengan salah seorang puteri Kapitan Yap Sa Ting Ho, Kapitan Cina di Yogyakarta masa itu. Pernikahannya dengan puteri Kapitan Yap Sa Ting Ho inilah yang membawa derajat Tan Jin Sing menjadi naik.
Sebagai menantu seorang Kapitan, Tan Jin Sing cukup disegani oleh masyarakat Tionghoa di Yogyakarta waktu itu. Terlebih lagi ia memang seorang lelaki perkasa dan memiliki kedigdayaan yang cukup tinggi. Sehingga ketika Kapitan Yap Sa Ting Ho meninggal, Tan Jin Sing lalu diangkat sebagai Kapitan atau Lurahing Pacino di Yogyakarta.


Diangkat Bupati Nayoko
Ketika Raffles dengan pemerintahan Inggerisnya berkuasa di Jawa (1813 – 1815) terjadi keguncangan di Kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono II menolak tunduk kepada perintah Raffles. Penolakan itu membuat Raffles mengirim pasukannya untuk menghukum Sultan. Pasukan yang dikirim Raffles terdiri dari pasukan India dan Gurkha, yang oleh rakyat di Yogyakarta ketika itu disebut sebagai pasukan Sepehi.
Sementara ketika itu di dalam keraton terjadi perselisihan antara Sri Sultan Hamengku Buwono II dengan putera mahkotanya yang bernama Sultan Raja. Perselisihan itu dimanfaatkan oleh Raffles untuk menyingkirkan Sri Sultan Hamengku Buwono II dari tahta singgasananya. Akibatnya di Yogyakarta waktu itu terjadi peristiwa berdarah yang diebut “Geger Sepehi”.
Perselisihan antara ayah dan anak itu berlanjut dengan kontak senjata antara prajurit-prajurit pengikut Putera Mahkota dengan prajurit-prajurit yang setia kepada Sri Sultan Hamengku Biwono II atau dikenal juga dengan sebutan Sultan Sepuh. Dalam perang saudara itu Kapitan Tan Jin Sing berpihak kepada Sultan Raja dengan memberikan bantuan berupa segala kebutuhan perang sampai kebutuhan bahan makanan.
Ketika Sultan Sepuh berhasil diasingkan Raffles ke Pulau Pinang (Malaysia), Sultan Raja naik tahta dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono III. Naiknya Sultan Raja sebagai Sultan, derajat Tan Jin Sing pun terus menaik. Sri Sultan yang merasa berhutang budi kepada Kapitan Tan Jin Sing atas bantuan dan peranannya yang besar, lalu mengangkatnya sebagai seorang Bupati Nayoko di Keraton Yogyakarta dan diberi nama Raden Temenggung Secodiningrat.
Selain mendapat kedudukan sebagai Bupati Nayoko, ia pun mendapat tunjangan dari Sri Sultan sebesar 1000 ringgit setiap bulannya. Dalam keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono III saat itu disebutkan bahwa tunjangan jabatan itu diberikan turun temurun, asal yang menjadi raja masih berdarah Sultan Raja.
Sri Sultan juga memberikan hadiah tanah kepada Kapitan Tan Jin Sing. Tanah yang dihadiahkan itu terletak di Desa Padokan, Bantul, di samping wilayah tertentu di dalam pusat kota yang berada di bawah pengawasannya. Wilayah yang berada di bawah pengawasan Kapitan Tan Jin Sing yang sudah bergelar KRT Secodiningrat itu disebut tlatah atau Bumi Secodiningrat. Wilayah pengawasannya meliputi Pajeksan, Pecinan (Malioboro), Gondomanan dan lainnya.
Kemudian setiap anak lelaki dari keturunan KRT Secodiningrat diberi hak untuk mendapatkan gelar Raden, dan bila anak sulung lelaki diharuskan mempergunakan nama kebangsawanan Jawa. Sedang setiap anak perempuan dari keturunannya berhak menggunakan gelar Raden Roro, dan bila menikah dengan seorang bangsawan memperoleh gelar Raden Nganten.

Trah Secodiningrat
Semasa hidupnya KRT Secodiningrat atau Kapitan Tan Jin Sing (1760-1831) mempunyai tiga isteri, isteri pertama berdarah Tionghoa Peranakan dengan sebutan Nyonya Kapitan. Isteri kedua, perempuan Jawa bergelar Mas Ajeng Secodiningrat Sedang isteri ketiganya juga seorang perempuan yang dipanggil dengan sebutan Raden Nganten Secodiningrat.
Dari kedua orang isteri itulah kemudian keturunan KRT Secodiningrat terus berkembang hingga hari ini. Ketika meninggal dunia, ia dimakamkan di Desa Padokan, Bantul. Kedudukannya sebagai Bupati Nayoko kemudian digantikan oleh putera sulungnya dari isteri anak Kapitan Yap Sa Ting Ho, yang kemudian bergelar KRT Secodiningrat II.
Dikarenakan mempunyai dua orang isteri yang berbeda darah keturunannya, berdarah Tionghoa dan Jawa, hingga hari ini keturunan Secodiningrat yang tersebar di berbagai kota terdiri dari dua kelompok budaya, yakni kelompok budaya Tionghoa dan kelompok budaya Jawa.
Meskipun secara sepintas terlihat adanya perbedaan latar belakang budaya di antara dua kelompok keturunan Secodiningrat ini, namun pada dasarnya mereka tetap satu, yaitu keluarga besar KRT Secodiningrat, dan bersatu di dalam wadah Trah Secodiningrat.
Jumlah anggota Trah Secodiningrat cukup banyak, dan tersebar di berbagai kota, terutama di Jawa. Untuk mengikat tali hubungan satu sama lain, dulu setiap bulan sekali anggota trah ini selalu bertemu. Dan, bila Hari Raya Idul Fitri tiba, sudah dapat dipastikan semua keluarga besar Trah Secodiningrat berkumpul mengadakan syawalan bersama. Pertemuan syawalan bersama itu tidak saja dihadiri oleh anggota trah yang beragama Islam, tetapi juga dihadiri anggota trah yang beragama lainnya, seperti Katholik, Kristen, dan Buddha.
Ini merupakan bukti bahwa keturunan KRT Secodiningrat atau Kapitan Tan Jing Sing hingga hari ini masih tetap menjaga warisan yang teramat mahal dan berharga yakni perpaduan budaya Jawa dan budaya Tionghoa, yang sekaligus menjaga kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa.
KRT Secodiningrat atau Kapitan Tan Jin Sing meninggal dunia pada 10 mei 1831, dan dimakamkan secara Islam. Kemudian kedudukannya sebagai Bupati Nayoko dan sekaligus Kapitan Cina digantikan oleh puteranya, Raden Dadang, yang bergelar Raden Temenggung Secodiningrat II. ***

Sabtu, 06 Februari 2010

"Wong Kalang" Membangun Diri dengan Budaya Bisnis

“Wong Kalang”
Membangun Diri dengan Budaya Bisnis

Oleh: Sutirman Eka Ardhana

TIDAK semua orang Jawa tahu bila di dalam masyarakat mereka terdapat satu kelompok masyarakat yang disebut Wong Kalang. Padahal “Wong Kalang” bukanlah suatu kelompok eksklusif yang baru saja muncul di dalam masyarakat Jawa. Di kalangan Wong Kalang sendiri diyakini, keberadaan mereka sudah ada sejak awal Kerajaan Mataram. Tepatnya ketika Mataram diperintah Sultan Agung.
Tetapi ada pendapat lain yang menduga keberadaan Wong Kalang sudah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Jawa. Pendapat itu berdasar pada terdapatnya istilah Kalang dalam prasasti Kuburan Candi di Tegalsari, Tegalharjo, Kabupaten Magelang, berangka tahun 753 saka atau 831 masehi.
Dewasa ini keluarga atau keturunan Wong Kalang banyak terdapat di kawasan pinggiran pegunungan selatan Jawa Tangah, seperti di Kebumen, Purworejo, Cilacap, dan Surakarta. Di Kabupaten Kebumen, keluarga Kalang tersebar di Petanahan, Puring, Gombong, Karanganyar dan Ambal. Di Cilacap, banyak terdapat di sekitar Adipala.
Sedangkan di Yogyakarta, pada zaman kolonial Belanda dulu mereka banyak tinggal di Kotagede (Ada juga pendapat yang mengatakan mereka sudah tinggal di tempat ini sejak zaman Kerajaan Mataram). Kini keluarga Kalang di Yogyakarta menyebar di sejumlah wilayah. Sisa-sisa kejayaan Wong Kalang di Kotagede (Tegalgendu dan Mondoraka) sampai sekarang masih terdapat.
Bangunan-bangunan lama (kuno) di seputar Tegal Gendu dan Mondaraka yang besar, bertembok tebal, dengan hiasan kaca-kaca Art Deco, dan bentuk arsitekturnya berbeda dengan lazimnya rumah-rumah biasa orang Jawa, merupakan sisa-sisa peninggalan keluarga Kalang. Dan, salah satu di antaranya adalah rumah besar, mewah dan antik, di Tegal Gendu, yang terkenal dengan sebutan Omah Dhuwur.
Di kawasan pesisir utara Jawa Tengah, keluarga Kalang banyak tinggal di Tegal, Pekalongan, Kendal, Kaliwungu, Semarang, dan Pati. Di Jawa Timur, keluarga Kalang banyak terdapat di Bojonegoro, Surabaya, Bangil, Pasuruan, Tulungagung dan Malang.

Pembisnis Ulung
Sesungguhnya secara fisik, budaya dan tatanan kehidupan Wong Kalang tidak ada yang berbeda dengan orang Jawa pada umumnya. Dengan kata lain, Wong Kalang tetap merupakan bagian di dalam keluarga besar suku Jawa itu sendiri.
Akan tetapi seorang peneliti Belanda, AB Meyer, di dalam “die Kalang auf Java” (1877) menyatakan, bahwa Wong Kalang termasuk golongan suku bangsa berambut keriting dan berkulit hitam. Dan, Wong Kalang masih serumpun atau sekeluarga dengan bangsa Negrito dari Filipina, suku Semang dari Malaya (Malaysia), atau penduduk di Kepulauan Andaman.
Namun pendapat Meyer itu ditentang oleh sejarahwan dan peneliti Belanda lainnya. Menurut E Ketjen, Dr H Ten Kate, dan van Rigg, Wong Kalang bukan merupakan suku bangsa sendiri yang berbeda dan berlainan dengan Suku Jawa. Menurut mereka, Wong Kalang merupakan orang Jawa yang tersisih oleh sistem pegangkastaan pada masa pengaruh Hindu. Jadi, nenek moyang Wong Kalang termasuk golongan yang tidak berkasta.
Sementara di dalam buku “Orang-orang Golongan Kalang” (1971), Soelardjo Pontjosutirto dkk, menyatakan Wong Kalang pada mulanya merupakan kelompok yang tersisih secara sosial, yang kemudian dipaksa tinggal di daerah-daerah pengasingan, seperti pantai yang berpaya-paya, tepi sungai, lereng-lereng gunung-gunung, serta tanah-tanah tandus yang belum dibuka. Karena itu mereka hidup dengan mengembara di hutan-hutan. Perjuangan hidup yang keras membuat Wong Kalang menjadi pekerja-pekerja keras, ulet, tangguh dan pantang menyerah.
Sejak awal Wong Kalang memang membangun dirinya dengan budaya bisnis. Kebanyakan keluarga Kalang tak mau bekerja di lingkungan pemerintahan. Bahkan sejak zaman Mataram dulu, ada semacam pantangan bagi mereka untuk bekerja atau mengabdi di dalam istana. Sejak zaman Mataram Wong Kalang sudah terjun ke dunia wirausaha. Pada awalnya mereka menjadi pengrajin, kemudian berdagang, sampai membuka usaha-usaha jasa, dan beragam sektor usaha lainnya.
Karena kuatnya kerukunan dan kebersamaan di antara sesama Wong Kalang, membuat usaha-usaha yang mereka tekuni cepat berhasil. Wong Kalang pun kemudian menyandang predikat sebagai pembisnis ulungnya orang Jawa. Di zaman kolonial Belanda dulu, bisnis-bisnis besar di Yogyakarta banyak dijalankan oleh keluarga Kalang. Dan, sampai kini, di kawasan selatan Jawa Tengah seperti Kebumen sampai Cilacap, sektor perdagangan banyak dijalankan oleh keluarga Kalang. ***

Rabu, 28 Oktober 2009

Zai

Zai
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

IDUL Fitri tinggal tiga hari lagi. Dan, ini malam pertama aku di kampung, di rumah, setelah tiga tahun tak pernah pulang. Ya, tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku, Bengkalis. Tiga tahun aku tinggal di Yogya, melanjutkan kuliah. Sekarang aku pulang, ingin merayakan lebaran bersama Ayah dan Emak.
Sayangnya, malam ini tak lagi purnama. Bahkan sehabis sholat tarawih di surau tadi, di langit tak ada secuil bintang pun yang muncul. Hanya awan hitam yang terlihat menebal, membuat malam menjadi begitu pekat. Tapi di ujung kampung ada cahaya yang merebak ke atas. Dari kejauhan, cahaya yang tampak menyeruak di pucuk-pucuk rimbun pepohonan karet itu bagai mengirimkan daya pesona yang besar.
Lalu, terdengar ada dentang suara gong yang mendayu. Seperti halnya cahaya yang merebak, suara gong itu pun datang dari kawasan ujung kampung. Suara gong itu bagai mengandung kekuatan magis yang mampu menggerakkan orang-orang yang mendengarnya untuk datang mendekat. Alunan irama gong yang mendayu dari kejauhan itu memang terkesan khas dan aneh.
Dentang suara gong itu pun menggodaku. Dentangnya seakan-akan memiliki daya dorong yang luar biasa untuk mempengaruhi rasa ingin tahuku. Aku bergegas bangkit dari duduk di beranda rumah. Niatku sudah jelas, mendatangi tempat di mana suara gong itu berasal. Tapi, begitu aku akan melangkah, Emak muncul di pintu.
“Kauhendak ke mana, Ar?” tanya Emak seketika.
“Mak tak dengar suara gong itu? Ada apa ya, Mak? Saya mau ke tempat gong itu berbunyi,” jawabku sambil membetulkan letak krah jaket yang kupakai.
“Oh, itu di ujung kampung! Dari orang-orang di pasar tadi pagi, Mak dengar tak jauh dari rumah Tuk Penghulu malam ini ada acara tari belian,” jelas Emak.
“Tari belian? Ah, ini kan bulan puasa, Mak? Biasanya di malam bulan puasa seperti ini orang-orang bertadarus, membaca Al-Quran, bukan membuat acara tari belian,” potongku.
“Kabarnya ada anak gadis sakit. Sakitnya sudah payah, hingga seorang Bomo dari Senggoro terpaksa dipanggil untuk mengadakan upacara belian,” jelas Emak lagi.
“Ada anak gadis sakit?! Siapa dia, Mak?” aku diburu rasa ingin tahu.
“Entahlah, Mak lupa bertanya siapa anak gadis yang sakit itu.”
“Tapi, tak jauh dari rumah Tuk Penghulu itu, Mak?”
“Yang Mak dengar di pasar tadi begitu.”
“Kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja ya, Mak? Di zaman semaju ini, masih juga ada yang berobat ke Bomo.”
“Kata orang, sakitnya anak gadis itu bukan sakit sembarang sakit.”
“Ah, siapa gerangan yang sakit itu?” aku jadi gelisah.
“Apa ada anak gadis di sekitar rumah Tuk Penghulu yang kau kenal?”
Aku hanya mengangguk. Tanpa menoleh ke Emak lagi, aku segera melangkah ke luar pintu beranda.
“Kalau mau ke sana, naik kereta angin biar cepat,” kata Emak begitu melihat aku tidak menghampiri sepeda yang tersandar di dekat beranda rumah.
Entah mengapa, perasaanku tiba-tiba menjadi bergebalau begitu mendengar penjelasan Emak, ada anak gadis yang sakit di dekat rumah Tuk Penghulu, kepala desa di kampungku, sehingga lupa dengan sepeda milik ayahku itu. Padahal jika dengan mengendarai sepeda, kawasan ujung kampung itu dapat kucapai hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Walaupun hatiku ragu apakah masih bisa mengayuh sepeda dengan sempurna, maklumlah selama di Yogya aku tak pernah lagi bersepeda.
***
SEHABIS memarkir sepeda di bawah sebuah pohon, aku segera menyeruak di antara kerumunan orang yang berjejal melingkar di halaman rumah panggung yang besar. Halaman rumah itu terang benderang dengan sejumlah lampu petromak yang digantung di beberapa tempat. Resah dan debar di dadaku sejak di ujung jalan yang menuju ke lokasi berkerumunnya banyak orang semakin mengencang. Zai-kah yang sakit?! Bukankah rumah panggung itu rumahnya Pakcik Awang, ayahnya Zai?! Kalau bukan Zai yang sakit, lantas siapa? Pakcik Awang tak punya anak gadis lain, selain Zai!
Tetapi, aku belum melihat Zai di tengah-tengah kerumunan orang itu. Yang ada hanya seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Lelaki itu sedang menengadahkan tangannya ke atas dengan mulut bergerak-gerak bagai sedang membacakan mantera persis di depan nyala api yang membara dari timbunan kayu, yang sengaja disediakan untuk menjadi api unggun. Cahaya nyala api itulah yang dari kejauhan terlihat menyeruak di pucuk-pucuk pepohonan karet. Dan lelaki tua itu sudah pasti Tuk Bomo yang diundang untuk memimpin upacara belian.
Sekitar tiga meter sebelah barat api unggun tampak jung kecil atau perahu-perahuan sepanjang satu meter. Di dekatnya terdapat balai kecil. Jung maupun balai kecil itu terbuat dari pelepah pohon kelapa. Di dalam balai kecil itu terlihat beberapa butir telur ayam, sepiring beras kunyit, sepiring beras putih, segenggam bunga dan segelas air putih.
Tiba-tiba Tuk Bomo menghentakkan kaki kanannya ke tanah tiga kali seraya mulutnya bergerak-gerak seperti sedang membacakan mantera. Secara bersamaan dentang suara gong yang ditabuh seorang lelaki muda itu berdentang lebih cepat lagi. Penabuh gendang panjang yang duduk di sebelah penabuh gong itupun meningkahkan gendangnya dengan irama yang tak kalah cepatnya.
Tak sampai tiga menit kemudian, dari dalam rumah panggung itu sekitar enam lelaki turun menggotong tempat tidur yang terbuat dari kayu. Di atas tempat tidur terbaring seorang perempuan muda berselimutkan kain putih. Di belakanganya tampak Pakcik Awang dan isterinya, Makcik Hasnah.
Aku terperangah. Wajah itu masih kuingat. Masih sangat kukenal. Mata yang terpejam dan bibir yang terkatup itu masih melekat di ingatan. Ya Tuhan, dia Zai! Tak salah lagi, dia memang Zai! Aku mencoba mendekat, melangkah lebih dekat. Tetapi beberapa lelaki yang mengawal Tuk Bomo dengan cepat menghalangi langkahku.
“Ayo mundur!” salah seorang dari pengawal Tuk Bomo menggertakku.
Dengan perasaan terpaksa aku mengundurkan langkah. Kembali ke dalam kerumunan. Aku menyadari, bila nekat mendekat ke tempat Zai terbaring, mungkin banyak orang akan marah karena menganggap perbuatanku itu mengganggu Tuk Bomo.
Orang-orang di kerumunan itu pun saling berbisik. Saling bercakap satu sama lain. Tidak sedikit pula yang berkata agak sedikit keras.
“Kabarnya baru sebulan ini dia sakit. Tak mau makan. Tak mau keluar kamar. Tak mau bercakap-cakap dengan siapapun. Mandi pun, kalau tak dipaksa, dia tak mau. Bahkan, beberapa hari lalu dia mengamuk. Segala barang yang ada di dekatnya dibuang, dilemparnya keluar rumah. Piring-piring dilempar. Gelas-gelas dilempar keluar. Banyak yang pecah,” ada yang berkata begini.
“Kenapa bisa begitu? Padahal dia itu gadis cantik, gadis periang.”
“Kabarnya juga, penyebabnya karena dia mau dinikahkan dengan pemuda dari kampung sebelah. Lelaki yang mau dijodohkan dengan dia itu anak orang kaya juga. Tapi dia menolak. Dia tak mau dinikahkan dengan pemuda pilihan ayahnya itu. Konon, ayahnya tetap memaksa. Mungkin karena dipaksa terus, dia jadi stress. Dan terus, ya jadi seperti sekarang ini.”
“Kenapa ya dia menolak? Padahal umurnya sudah cukup untuk bersuami.”
“Mungkin dia sudah punya pilihan yang lain. Mungkin ada yang ditunggunya.”
Dadaku terguncang. Terguncang bukan kepalang. Jadi dia mau dinikahkan?! Tapi dia tak mau! Ah, apa benar ada yang ditunggunya?! Jadi??? Aku didera kebingungan.
Ah, aku jadi ingat hari-hari manis bersamanya dulu. Hari-hari indah saat berkeliling kota. Hari-hari penuh kesan saat bercengkerama memandang laut. Memandang riak gelombang di Selat Bengkalis. Memandang burung-burung camar yang terbang dan hilang di kejauhan. Dan aku ingat, bagaimana ia meneteskan air mata ketika kucium pertama kali di bawah rimbunan kebun karet. Aku pun juga ingat bagaimana wajahnya terlihat sendu saat mengantarku di pelabuhan ketika akan berangkat ke Jawa tiga tahun lalu.
“Bang Ar, tak akan melupakan Zai, kan?” katanya dengan air mata berderai.
“Percayalah, Abang pasti akan selalu ingat Zai,” ucapku sambil mengusap air mata yang di pipinya.
“Abang janji?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Bang, Zai tetap akan menunggu Abang,” ujarnya lirih ketika akan melangkah masuk ke kapal.
Tiba-tiba terdengar orang ramai berteriak. Ribut. Gaduh. Aku terkesiap. Teriakan itu membuyarkan lamunanku.
“Ya Allah, dia bangun dan mengamuk!” ada yang berseru begini.
“Dia memukul Tuk Bomo!”
“Astaga, batangan kayu berapi di api unggun itu dipukulkannya ke Tuk Bomo,” teriak yang lain.
Benar! Aku tidak salah lihat. Zai mengamuk bagai seekor singa betina yang marah. Semua peralatan dan sesaji yang ada tercerai-berai. Jung dan balai kecil luluh-lantak diinjak dan ditendangnya. Piring tempat beras kunyit dilemparkannya ke arah pengawal Tuk Bomo. Tepat mengena di kepala. Pengawal Tuk Bomo itu terjatuh, dan piring pun pecah berantakan. Zai seperti ingin memburu orang-orang di sekitarnya dengan mengibas-ibaskan potongan kayu yang masih ada bara apinya.
Suasana jadi kacau-balau. Makcik Hasnah, emaknya Zai, berteriak-teriak menangis. Pakcik Awang juga berteriak, tak jelas apa yang diteriakkannya. Beberapa orang berusaha menyelamatkan Tuk Bomo dan berusaha menggotongnya menjauh. Orang-orang yang semula berkerumun menonton di sekitarnya menghindar menyelamatkan diri, takut jadi korban amukan. Hanya aku yang tetap berdiri di tempat. Terpana menyaksikan semuanya. Menyaksikan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ada yang mencoba menarik lenganku, mengajakku menjauh, ada pula yang berteriak menyuruhku menghindar, tapi semua tak kuhiraukan.
Aku masih tetap berdiri. Terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Dan, Zai tiba-tiba sudah berada tepat di depanku. Hanya berjarak sekitar dua meter. Di tangannya tetap melekat sepotong kayu yang ujungnya masih membara api. Orang-orang berteriak, menyuruhku segera lari. Matanya yang membara memandang tajam, tak berkedip.
“Zai,” aku mencoba menyapa, ramah. “Masih ingat dengan Abang?”
Belum ada reaksi. Ia tetap berdiri di tempatnya. Memandang tajam.
“Masih ingat Abang, Zai?” suaraku lagi.
Ia masih tetap tak berkedip memandangku. Tapi mata itu sudah tidak lagi menyala. Nyala api di matanya tampak meredup.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Kayu di tangannya dilepaskan. Setelah itu ia menghambur ke arahku. Memeluk tubuhku erat-erat.
“Bang Ar, kapan pulangnya? Kenapa tak bilang-bilang ke Zai? Bang, Zai mau ikut Abang. Mau ikut Abang,” katanya sambil menangis terisak-isak di dadaku.
Aku terperangah. Benar-benar terperangah. **
Yogya, menjelang Idul Fitri 1430 H
Catatan:
- Tari belian = tarian untuk penyembuhan
- Bomo = semacam dukun.

Dimuat: Harian “SUARA KARYA”, Sabtu, 24 Oktober 2009

Selasa, 20 Oktober 2009

Cerpen "Rahasia Lelaki"

Rahasia Lelaki

Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

KEGEMBIRAAN lelaki itu seketika lenyap, ketika anak lelakinya datang dan memperkenalkan perempuan muda yang menjadi calon isterinya. Kegembiraan yang sudah dipendamnya selama tiga hari tiga malam itu mendadak berubah drastis menjadi kegelisahan yang dahsyat. Kegelisahan itu bercampurbaur dengan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat.
Tiga hari lalu, pagi-pagi sekali anak lelakinya yang baru sebulan diwisuda menjadi sarjana komunikasi itu datang menemuinya di beranda rumah.
“Pak, saya mau menikah,” kata anak lelakinya dengan suara agak tergagap.
Lelaki itu terpana. Ia merasa tak yakin dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
“Bapak merestui kan kalau saya mau menikah?” lagi anak lelakinya bersuara.
“Kamu mau menikah? Apa telinga Bapak tidak salah dengar?” lelaki itu bertanya dengan keheranan yang masih mengental.
“Tidak, Pak. Bapak tidak salah dengar. Saya kepingin menikah. Untuk itu saya minta Bapak dan Ibu segera melamar gadis calon isteri saya itu ke orangtuanya.”
Isteri lelaki itu muncul di beranda. Pembicaraan menjadi berhenti seketika.
“Lagi membicarakan apa? Saya datang kok langsung diam?” tanya isterinya, curiga.
Mereka saling pandang. Anak lelakinya mencoba tersenyum. Tapi di balik senyum itu terlihat jelas ada ketegangan di wajahnya.
“Ada apa, tho?” suara isterinya tak sabar.
“Ini lho, anak lelakimu ini menyatakan keinginannya untuk menikah. Ia minta kita untuk melamar seorang gadis, calon isterinya itu,” lelaki itu berkata apa adanya.
“Menikah? Melamar?” gumam isterinya, seperti tak yakin.
“Ya, itu yang tadi dikatakan anak lelakimu ini.”
“Tapi yang mau dilamar itu siapa? Anak siapa? Dan tinggal di mana? Apa perempuan Yogya? Perempuan Solo? Perempuan Magelang? Atau perempuan dari Gunungkidul?” tanya beruntun dari isterinya.
“Nah, itu tadi yang ingin kutanyakan. Tapi keburu kamu datang, pertanyaannya jadi buyar.”
“Ayo, sekarang jelaskan, siapa gadis pilihanmu itu? Siapa orangtuanya? Dan di mana tinggalnya?” tanya isterinya ini ditujukan kepada anak lelakinya.
Dicecar pertanyaan seperti itu, anak lelakinya pun gugup.
“Ayo, cepat katakan. Biar semuanya jadi jelas.”
“Namanya …… namanya ….. Trisnani. Nama orangtuanya …….. wah …. saya masih belum jelas. Nantilah saya tanyakan. Tapi orangtuanya tinggal di Jakarta,” jawab anak lelakinya terbata-bata.
“Dan perempuan yang ingin kau lamar itu sekarang tinggalnya di mana? Di Jakarta atau di Yogya?”
“Dia kost di Yogya. Dia baru saja lulus D-3 Perhotelan.”
“Sudah berapa lama kau kenal dia?”
“Sekitar satu tahun. Tapi pacarannya ya baru enam bulanan ini.”
“Belum pernah diajak kemari?”
“Belum. Saya sengaja tidak pernah mengajaknya ke rumah dan mengenalkannya kepada Bapak dan Ibu, soalnya biar jadi kejutan.”
“Apakah niatmu ini sudah bulat?”
“Sudah.”
“Baiklah, nanti biar Bapak dan Ibu rundingkan dulu. Dan yang penting, ajak anak perempuan itu ke mari, kenalkan pada Bapak dan Ibu.”
“Baik, nanti tiga hari lagi dia saya kenalkan kepada Bapak dan Ibu.”
Malam hari, lelaki itu dan isterinya pun sibuk membicarakan keinginan anak lelakinya untuk menikah.
“Tentang keinginan anak kita itu, menurutmu bagaimana, Bu?” tanya lelaki itu ketika bersama isterinya sudah berada di atas tempat tidur.
“Ya, terserah Bapak saja.”
“Kalau menurutku, ya senang-senang saja kalau dia mau menikah. Mau punya isteri. Apalagi dia sudah sarjana. Dan terus terang, di usia-usia menjelang senja seperti ini aku memang sudah kepingin punya cucu. Kepingin momong cucu. Wah, betapa bahagianya kalau punya cucu.”
“Ah, melamar saja belum. Apalagi menikah. Kok, sudah menghayal momong cucu. Bapak ini mengada-ada saja.”
“Aku tidak mengada-ada, Bu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya akan terjadi nanti. Karenanya kita harus segera memenuhi keinginan anak kita itu, melamar calon isterinya. Melamar secepatnya. Biar cepat pula mereka menikah. Dan kemudian akan cepat pula kita punya cucu.”
“Tapi, anak kita itu kan belum bekerja, Pak. Bagaimana nanti ia mengurusi rumahtangganya?”
“Ah, soal bekerja itu soal nanti. Yang penting, aku ingin cepat-cepat punya cucu. Apalagi kita kan masih sanggup bila hanya membiayai kehidupan seorang menantu dan seorang cucu. Bahkan beberapa cucu pun masih sanggup.”
Tiga hari yang dijanjikan anak lelakinya pun tiba. Menjelang petang anak lelakinya datang bersama seorang perempuan muda. Perempuan muda itu cantik. Berkulit kuning langsat. Rambutnya tergerai ikal sebahu. Dan, ada lesung pipit di kedua pipinya.
Lelaki itu sudah tak sabar lagi untuk melihat wajah calon menantunya. Isterinya yang sedang berada di dapur langsung ditariknya menuju ke ruang tamu.
“Ayo Bu, calon menantu kita sudah datang,” serunya gembira sambil menarik lengan isterinya.
“Sabar dulu tho, Pak. Biarkan dia duduk dulu di ruang tamu.”
“Aku sudah tidak sabar untuk segera melihatnya, Bu.”
Begitu muncul di ruang tamu, lelaki itu terpana sesaat. Matanya nyaris tak berkedip sedikitpun. Perempuan muda yang dibawa anak lelakinya itu benar-benar cantik. Luar biasa! Dia benar-benar cantik! Betapa bangganya punya menantu secantik itu! Isterinya pun terpesona. Ada kegembiraan yang meledak-ledak dalam hatinya menyaksikan anak lelaki semata wayangnya itu begitu pandai memilih calon isteri.
“Pak …Bu…, kenalkan ini Trisnani yang saya ceritakan itu,” kata anak lelakinya memperkenalkan perempuan muda yang bersamanya.
Trisnani, perempuan cantik yang dibawa anaknya itupun mengulurkan tangan dengan sopan dan malu-malu. Lelaki itupun menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Isterinya juga melakukan hal yang sama.
Mereka lalu terlibat pembicaraan yang hangat dan menyenangkan.
“Orangtua Nak Trisnani tinggal di Jakarta?” lelaki itu mulai bertanya.
“Betul, Pak,” perempuan yang dikenalkan anaknya itu menjawab lembut.
“Boleh kami tahu, siapa nama orangtua Nak Trisnani?” lelaki itu bertanya lagi, untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga sang calon menantu.
“Nama ayah saya, Pramono. Lengkapnya, Pramono Sulistyo.”
“Oooo,” lelaki itu manggut-manggut. Juga isterinya.
“Kalau nama ibunya, siapa?” isteri lelaki itu ikut bertanya, ketika perempuan kekasih anaknya baru saja akan melanjutkan kata-katanya.
“Ibu saya, namanya Farida.”
“Siapa?” tanya lelaki itu untuk lebih meyakinkan lagi nama yang baru saja didengarnya.
“Farida, Pak. Lengkapnya Farida Utaminingsih.”
Lelaki itu tergetar. Nama yang diucapkan itu mengingatkannya pada seseorang. Pada seorang perempuan yang dulu sempat singgah dalam kehidupannya.
“Farida Utaminingsih?” tanpa sadar lelaki itu mengucapkannya, meski lirih.
“Betul. Dan waktu muda dulu, ibu saya lebih dikenal dengan nama Farida Santoso.”
Dada lelaki itu tak hanya tergetar, tapi tergoncang. Lelaki itu menahan napas, dan mencoba menahan getaran serta goncangan di dadanya.
“Ya, Farida Santoso. Santoso itu kakek saya, tapi sekarang sudah almarhum. Kakek saya itu orang Yogya, dan sekarang saya tinggal di rumah kakek.”
“Di mana?”
‘Di Kotagede.’
Getaran dan goncangan di dada lelaki itu semakin dahsyat. Tubuhnya terasa lemas dan berkeringat dingin. Tapi ia masih belum yakin sepenuhnya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia masih ingin bertanya. Bertanya lebih jelas lagi.
“Berapa usia Nak Trisnani sekarang?” lelaki itu bertanya lagi dengan harap-harap cemas.
“Duapuluh satu tahun, Pak. Saya lahir tahun 82.”
Dada lelaki itu seperti ditusuk tombak.
“Oh iya, saya ada membawa foto ibu saya, tapi fotonya waktu muda dulu, semasa masih di Yogya,” kata perempuan kekasih anaknya lagi sambil membuka dompet dan mengeluarkan sehelai foto, lalu menyerahkannya ke lelaki itu.
Tangan lelaki itu tergetar menerimanya. Dan, jantungnya seperti berhenti berdetak, takkala memandang sehelai foto perempuan yang ada di tangannya. Betapa tidak. Wajah di foto itu tak mungkin dilupakannya. Wajah itu, wajah yang pernah punya arti. Wajah yang dulu sempat menyelusup ke dalam hatinya. Wajah Farida Santoso. Wajah kekasih gelapnya kala itu.
Lelaki itu tak mampu bersuara lagi. Getaran dan goncangan di dadanya kian memuncak. Dadanya sesak. Kepalanya memberat, bagai dibebani bongkahan-bongkahan batu. Dan matanya mendadak berkunang-kunang.
Setelah meletakkan foto itu di meja, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mencoba bangkit dari duduk. Tapi tubuhnya limbung dan terhuyung-huyung.
“Eh ……..Pak, kenapa?” isterinya terkejut melihat lelaki itu nyaris terjatuh.
“Kepalaku mendadak pusing. Pusing sekali,” lelaki itu masih sempat berkata begini.
Lelaki itu dipapah, dibawa ke kamar oleh isteri dan anaknya. Sementara perempuan yang menjadi kekasih anaknya hanya bingung dan terheran-heran.
****
DI DALAM kamar, setelah ditinggal isteri dan anaknya keluar, lelaki itu berbaring dengan kegelisahan yang sulit dikendalikannya lagi. Kegelisahan itu begitu dahsyat. Begitu luar biasa. Seumur hidup belum pernah ia merasakan kegelisahan sedahsyat ini.
Ingatannya lalu melayang ke masa-masa duapuluh tahun lebih yang lalu. Ingatannya tertuju ke sebuah nama, Farida Santoso. Nama yang tadi disebutkan oleh kekasih anak lelakinya sebagai nama ibunya. Padahal, nama itu adalah nama kekasih gelapnya dulu. Nama pasangan selingkuhnya waktu itu.
Ia pun lalu ingat, suatu hari duapuluh satu tahun lalu, Farida Santoso datang menemui dan mengatakan dirinya hamil. Dan, iapun ingat, bagaimana terlukanya hati Farida waktu itu, karena ia mengatakan tidak bisa bertanggungjawab, karena sudah punya anak isteri. Untunglah Farida tidak terus mendesaknya, bahkan memilih membawa luka hatinya ke Jakarta.
“Kalau begitu, perempuan kekasih anakku itu pasti anakku juga. Pasti anak dari benihku yang dikandung Farida dulu, dan yang dibawanya pergi meninggalkan Yogya. Kalau begitu, ia tidak boleh jadi menantuku. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Ia adalah anakku juga,” deretan kata-kata ini menerjang keras di dalam dadanya.
Dan, ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk memberitahukan kepada anak lelakinya, juga kepada isterinya, tentang siapa Trisnani sebenarnya. Tapi ia tak kuasa melakukannya. Ia tidak punya keberanian untuk membuka rahasia kelam masa lalunya. Ia tak kuasa untuk membuat hati isterinya terluka. Mulutnya seakan terkatup rapat, tak bisa digerakkan.
Di dalam kamar, ia pun terkulai, tak berdaya.***
Yogya, 2003.