Rahasia Lelaki
Cerpen: Sutirman Eka Ardhana
KEGEMBIRAAN lelaki itu seketika lenyap, ketika anak lelakinya datang dan memperkenalkan perempuan muda yang menjadi calon isterinya. Kegembiraan yang sudah dipendamnya selama tiga hari tiga malam itu mendadak berubah drastis menjadi kegelisahan yang dahsyat. Kegelisahan itu bercampurbaur dengan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat.
Tiga hari lalu, pagi-pagi sekali anak lelakinya yang baru sebulan diwisuda menjadi sarjana komunikasi itu datang menemuinya di beranda rumah.
“Pak, saya mau menikah,” kata anak lelakinya dengan suara agak tergagap.
Lelaki itu terpana. Ia merasa tak yakin dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
“Bapak merestui kan kalau saya mau menikah?” lagi anak lelakinya bersuara.
“Kamu mau menikah? Apa telinga Bapak tidak salah dengar?” lelaki itu bertanya dengan keheranan yang masih mengental.
“Tidak, Pak. Bapak tidak salah dengar. Saya kepingin menikah. Untuk itu saya minta Bapak dan Ibu segera melamar gadis calon isteri saya itu ke orangtuanya.”
Isteri lelaki itu muncul di beranda. Pembicaraan menjadi berhenti seketika.
“Lagi membicarakan apa? Saya datang kok langsung diam?” tanya isterinya, curiga.
Mereka saling pandang. Anak lelakinya mencoba tersenyum. Tapi di balik senyum itu terlihat jelas ada ketegangan di wajahnya.
“Ada apa, tho?” suara isterinya tak sabar.
“Ini lho, anak lelakimu ini menyatakan keinginannya untuk menikah. Ia minta kita untuk melamar seorang gadis, calon isterinya itu,” lelaki itu berkata apa adanya.
“Menikah? Melamar?” gumam isterinya, seperti tak yakin.
“Ya, itu yang tadi dikatakan anak lelakimu ini.”
“Tapi yang mau dilamar itu siapa? Anak siapa? Dan tinggal di mana? Apa perempuan Yogya? Perempuan Solo? Perempuan Magelang? Atau perempuan dari Gunungkidul?” tanya beruntun dari isterinya.
“Nah, itu tadi yang ingin kutanyakan. Tapi keburu kamu datang, pertanyaannya jadi buyar.”
“Ayo, sekarang jelaskan, siapa gadis pilihanmu itu? Siapa orangtuanya? Dan di mana tinggalnya?” tanya isterinya ini ditujukan kepada anak lelakinya.
Dicecar pertanyaan seperti itu, anak lelakinya pun gugup.
“Ayo, cepat katakan. Biar semuanya jadi jelas.”
“Namanya …… namanya ….. Trisnani. Nama orangtuanya …….. wah …. saya masih belum jelas. Nantilah saya tanyakan. Tapi orangtuanya tinggal di Jakarta,” jawab anak lelakinya terbata-bata.
“Dan perempuan yang ingin kau lamar itu sekarang tinggalnya di mana? Di Jakarta atau di Yogya?”
“Dia kost di Yogya. Dia baru saja lulus D-3 Perhotelan.”
“Sudah berapa lama kau kenal dia?”
“Sekitar satu tahun. Tapi pacarannya ya baru enam bulanan ini.”
“Belum pernah diajak kemari?”
“Belum. Saya sengaja tidak pernah mengajaknya ke rumah dan mengenalkannya kepada Bapak dan Ibu, soalnya biar jadi kejutan.”
“Apakah niatmu ini sudah bulat?”
“Sudah.”
“Baiklah, nanti biar Bapak dan Ibu rundingkan dulu. Dan yang penting, ajak anak perempuan itu ke mari, kenalkan pada Bapak dan Ibu.”
“Baik, nanti tiga hari lagi dia saya kenalkan kepada Bapak dan Ibu.”
Malam hari, lelaki itu dan isterinya pun sibuk membicarakan keinginan anak lelakinya untuk menikah.
“Tentang keinginan anak kita itu, menurutmu bagaimana, Bu?” tanya lelaki itu ketika bersama isterinya sudah berada di atas tempat tidur.
“Ya, terserah Bapak saja.”
“Kalau menurutku, ya senang-senang saja kalau dia mau menikah. Mau punya isteri. Apalagi dia sudah sarjana. Dan terus terang, di usia-usia menjelang senja seperti ini aku memang sudah kepingin punya cucu. Kepingin momong cucu. Wah, betapa bahagianya kalau punya cucu.”
“Ah, melamar saja belum. Apalagi menikah. Kok, sudah menghayal momong cucu. Bapak ini mengada-ada saja.”
“Aku tidak mengada-ada, Bu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya akan terjadi nanti. Karenanya kita harus segera memenuhi keinginan anak kita itu, melamar calon isterinya. Melamar secepatnya. Biar cepat pula mereka menikah. Dan kemudian akan cepat pula kita punya cucu.”
“Tapi, anak kita itu kan belum bekerja, Pak. Bagaimana nanti ia mengurusi rumahtangganya?”
“Ah, soal bekerja itu soal nanti. Yang penting, aku ingin cepat-cepat punya cucu. Apalagi kita kan masih sanggup bila hanya membiayai kehidupan seorang menantu dan seorang cucu. Bahkan beberapa cucu pun masih sanggup.”
Tiga hari yang dijanjikan anak lelakinya pun tiba. Menjelang petang anak lelakinya datang bersama seorang perempuan muda. Perempuan muda itu cantik. Berkulit kuning langsat. Rambutnya tergerai ikal sebahu. Dan, ada lesung pipit di kedua pipinya.
Lelaki itu sudah tak sabar lagi untuk melihat wajah calon menantunya. Isterinya yang sedang berada di dapur langsung ditariknya menuju ke ruang tamu.
“Ayo Bu, calon menantu kita sudah datang,” serunya gembira sambil menarik lengan isterinya.
“Sabar dulu tho, Pak. Biarkan dia duduk dulu di ruang tamu.”
“Aku sudah tidak sabar untuk segera melihatnya, Bu.”
Begitu muncul di ruang tamu, lelaki itu terpana sesaat. Matanya nyaris tak berkedip sedikitpun. Perempuan muda yang dibawa anak lelakinya itu benar-benar cantik. Luar biasa! Dia benar-benar cantik! Betapa bangganya punya menantu secantik itu! Isterinya pun terpesona. Ada kegembiraan yang meledak-ledak dalam hatinya menyaksikan anak lelaki semata wayangnya itu begitu pandai memilih calon isteri.
“Pak …Bu…, kenalkan ini Trisnani yang saya ceritakan itu,” kata anak lelakinya memperkenalkan perempuan muda yang bersamanya.
Trisnani, perempuan cantik yang dibawa anaknya itupun mengulurkan tangan dengan sopan dan malu-malu. Lelaki itupun menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Isterinya juga melakukan hal yang sama.
Mereka lalu terlibat pembicaraan yang hangat dan menyenangkan.
“Orangtua Nak Trisnani tinggal di Jakarta?” lelaki itu mulai bertanya.
“Betul, Pak,” perempuan yang dikenalkan anaknya itu menjawab lembut.
“Boleh kami tahu, siapa nama orangtua Nak Trisnani?” lelaki itu bertanya lagi, untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga sang calon menantu.
“Nama ayah saya, Pramono. Lengkapnya, Pramono Sulistyo.”
“Oooo,” lelaki itu manggut-manggut. Juga isterinya.
“Kalau nama ibunya, siapa?” isteri lelaki itu ikut bertanya, ketika perempuan kekasih anaknya baru saja akan melanjutkan kata-katanya.
“Ibu saya, namanya Farida.”
“Siapa?” tanya lelaki itu untuk lebih meyakinkan lagi nama yang baru saja didengarnya.
“Farida, Pak. Lengkapnya Farida Utaminingsih.”
Lelaki itu tergetar. Nama yang diucapkan itu mengingatkannya pada seseorang. Pada seorang perempuan yang dulu sempat singgah dalam kehidupannya.
“Farida Utaminingsih?” tanpa sadar lelaki itu mengucapkannya, meski lirih.
“Betul. Dan waktu muda dulu, ibu saya lebih dikenal dengan nama Farida Santoso.”
Dada lelaki itu tak hanya tergetar, tapi tergoncang. Lelaki itu menahan napas, dan mencoba menahan getaran serta goncangan di dadanya.
“Ya, Farida Santoso. Santoso itu kakek saya, tapi sekarang sudah almarhum. Kakek saya itu orang Yogya, dan sekarang saya tinggal di rumah kakek.”
“Di mana?”
‘Di Kotagede.’
Getaran dan goncangan di dada lelaki itu semakin dahsyat. Tubuhnya terasa lemas dan berkeringat dingin. Tapi ia masih belum yakin sepenuhnya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia masih ingin bertanya. Bertanya lebih jelas lagi.
“Berapa usia Nak Trisnani sekarang?” lelaki itu bertanya lagi dengan harap-harap cemas.
“Duapuluh satu tahun, Pak. Saya lahir tahun 82.”
Dada lelaki itu seperti ditusuk tombak.
“Oh iya, saya ada membawa foto ibu saya, tapi fotonya waktu muda dulu, semasa masih di Yogya,” kata perempuan kekasih anaknya lagi sambil membuka dompet dan mengeluarkan sehelai foto, lalu menyerahkannya ke lelaki itu.
Tangan lelaki itu tergetar menerimanya. Dan, jantungnya seperti berhenti berdetak, takkala memandang sehelai foto perempuan yang ada di tangannya. Betapa tidak. Wajah di foto itu tak mungkin dilupakannya. Wajah itu, wajah yang pernah punya arti. Wajah yang dulu sempat menyelusup ke dalam hatinya. Wajah Farida Santoso. Wajah kekasih gelapnya kala itu.
Lelaki itu tak mampu bersuara lagi. Getaran dan goncangan di dadanya kian memuncak. Dadanya sesak. Kepalanya memberat, bagai dibebani bongkahan-bongkahan batu. Dan matanya mendadak berkunang-kunang.
Setelah meletakkan foto itu di meja, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mencoba bangkit dari duduk. Tapi tubuhnya limbung dan terhuyung-huyung.
“Eh ……..Pak, kenapa?” isterinya terkejut melihat lelaki itu nyaris terjatuh.
“Kepalaku mendadak pusing. Pusing sekali,” lelaki itu masih sempat berkata begini.
Lelaki itu dipapah, dibawa ke kamar oleh isteri dan anaknya. Sementara perempuan yang menjadi kekasih anaknya hanya bingung dan terheran-heran.
****
DI DALAM kamar, setelah ditinggal isteri dan anaknya keluar, lelaki itu berbaring dengan kegelisahan yang sulit dikendalikannya lagi. Kegelisahan itu begitu dahsyat. Begitu luar biasa. Seumur hidup belum pernah ia merasakan kegelisahan sedahsyat ini.
Ingatannya lalu melayang ke masa-masa duapuluh tahun lebih yang lalu. Ingatannya tertuju ke sebuah nama, Farida Santoso. Nama yang tadi disebutkan oleh kekasih anak lelakinya sebagai nama ibunya. Padahal, nama itu adalah nama kekasih gelapnya dulu. Nama pasangan selingkuhnya waktu itu.
Ia pun lalu ingat, suatu hari duapuluh satu tahun lalu, Farida Santoso datang menemui dan mengatakan dirinya hamil. Dan, iapun ingat, bagaimana terlukanya hati Farida waktu itu, karena ia mengatakan tidak bisa bertanggungjawab, karena sudah punya anak isteri. Untunglah Farida tidak terus mendesaknya, bahkan memilih membawa luka hatinya ke Jakarta.
“Kalau begitu, perempuan kekasih anakku itu pasti anakku juga. Pasti anak dari benihku yang dikandung Farida dulu, dan yang dibawanya pergi meninggalkan Yogya. Kalau begitu, ia tidak boleh jadi menantuku. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Ia adalah anakku juga,” deretan kata-kata ini menerjang keras di dalam dadanya.
Dan, ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk memberitahukan kepada anak lelakinya, juga kepada isterinya, tentang siapa Trisnani sebenarnya. Tapi ia tak kuasa melakukannya. Ia tidak punya keberanian untuk membuka rahasia kelam masa lalunya. Ia tak kuasa untuk membuat hati isterinya terluka. Mulutnya seakan terkatup rapat, tak bisa digerakkan.
Di dalam kamar, ia pun terkulai, tak berdaya.***
Yogya, 2003.
Selasa, 20 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar