Perempuan Yang…….
Cerpen Sutirman Eka Ardhana
PEREMPUAN yang sendiri di kamar itu adalah perempuan yang semalaman menenggelamkan dirinya ke dalam sunyi. Perempuan yang menenggelamkan dirinya ke dalam sunyi itu adalah perempuan yang bermalam-malam telah mencoba membunuh birahinya pada lelaki. Dan, perempuan yang mencoba membunuh birahinya pada lelaki itu telah memastikan dirinya untuk segera pergi.
Pergi! Ya, pergi, dan tak akan kembali lagi. Pergi dari tempat yang bertahun-tahun telah menjadi tempatnya melabuhkan gelisah, dan menyandarkan keluh-kesah kehidupan. Pergi dari tempat yang bertahun-tahun telah menjadi tumpuan hidupnya. Tempat ia bertahun-tahun berkubang dengan nestapa dan tawa. Bergumul dengan senyum dan air mata.
Meski menyakitkan, tapi perempuan itu sadar, sepahit apa pun tempat ini telah menyelamatkan hidupnya dari keputus-asaan. Menyelamatkannya dari ketakberdayaan dan kehampaan. Tempat ini pun telah menjadi penawar kepedihannya. Ia pun ingat, betapa tak berdayanya dulu menghadapi nestapa kehidupan. Menghadapi kenyataan yang tiba-tiba muncul dan memporak-porandakan kehidupannya. Betapa tak berdayanya ia dulu mencegah suaminya pergi dengan perempuan lain, dan kemudian meninggalkannya begitu saja. Dan, betapa tak berdayanya ia mencegah perceraian.
Ada yang bergejolak di dada perempuan itu. Ada rasa amarah, kecewa dan pedih. Gejolak rasa yang membuatnya seperti tersudut tak berdaya. Perempuan itu pun kemudian menitikkan air matanya. Menangis. Tanpa sadar, air matanya menetes, membasah di pipi. Padahal sudah bertahun-tahun ia mencoba tak menangis di tempat ini. Bertahun-tahun ia mencoba untuk tegar. Mencoba untuk kuat dan tidak cengeng.
Tapi kini ketegarannya mulai rapuh. Kekuatan jiwanya mulai melemah. Ia seperti telah didera ketakberdayaan yang sangat dalam. Beberapa bulan terakhir ia mudah sekali bersedih. Ia sering bermenung diri. Terlebih bila malam, setelah aktivitas kesibukan di tempat ini berakhir, ia pun tenggelam dalam kesepian dan kesendirian. Ia merasakan hidup yang sunyi. Teramat sunyi. Dan, hidup yang pahit. Teramat pahit. Kepahitan yang menyayat. Kepahitan yang menunjam pedih ke relung-relung hati.
Perempuan yang sendiri di kamar itu pun kembali mengingat-ingat perjalanan dirinya. Kembali mengingat langkah demi langkah yang telah membawanya masuk ke tempat ini dan bergelut dengan rona kehidupan di dalamnya. ”Ah, sudah lama aku hanyut dengan gelombang kehidupan di sini,” keluhnya.
Ia pun ingat, suatu hari, sekitar lima tahun lalu. Wardani, tetangganya di kampung, dan teman satu sekolahnya semasa masih di SMP, datang ke rumahnya. Ketika itu ia sedang duduk sendiri, di kursi panjang, di bawah pohon jambu merah, depan rumahnya, sambil memandang semburat senja yang turun di balik desa.
”Apa kau tidak tertarik pergi ke kota?” tanya Dani, begitu ia selalu memanggil perempuan teman semasa sekolahnya itu.
”Ke kota? Untuk apa?” ia balik bertanya.
”Ya, bekerjalah. Dari pada di sini, kau hanya bermenung-menung seperti ini, mengingat-ingat lelaki bekas suamimu yang sudah pergi itu. Lebih baik kau lupakan semuanya. Kau lupakan semua kepedihan. Apalagi kau juga memerlukan biaya untuk membesarkan anakmu, dan menyekolahkannya nanti.”
”Tapi, bagaimana dengan Dimas, anakku itu? Tahun depan dia harus sudah masuk sekolah. Siapa nanti yang harus mengurusnya masuk sekolah. Dan, bila sudah sekolah, siapa nanti yang harus mengantarkannya ke sekolah?”
”Pasrahkan atau titipkan saja kepada Bapak dan simbokmu. Bapak dan simbok pasti bisa merawatnya, apalagi kalau hanya ngurusi bagaimana dia masuk sekolah nanti. Yang penting, ada biayanya. Nah, dengan bekerja di kota, nanti kamu bisa memberikan atau mengirimi biaya untuk anakmu itu.”
Perempuan itu pun ingat, bagaimana ia dulu mengangguk, menyetujui ajakan Dani untuk bekerja di kota. Dan, ia pun ingat, teramat ingat, bagaimana Dani pertama kali membawanya ke tempat ini.
”Di sini tempat yang termudah untuk bekerja, dan mencari uang. Jangan khawatir, aku juga bekerja di sini. Jadi kita akan selalu berdekatan. Akan selalu bersama,” ini kata-kata Dani ketika itu, saat ia terpana, kehilangan daya, terhenyak, dan tak tahu harus berkata apa-apa lagi.
”Di sini, kita hanya bertugas melayani laki-laki. Itu saja. Bekerja ala-kadarnya, tapi dapat uang,” kata Dani lagi saat itu.
Perempuan yang hanyut dengan keluhnya itu lalu memandang ke arah cermin. Di dalam cermin yang kacanya tak lagi bersih dan buram itu, ia memandang wajahnya sendiri dalam-dalam. Terlihat jelas di kaca cermin, wajahnya tak lagi sekencang dan semulus lima tahun lalu. Kecantikan di wajahnya seperti telah memudar. Padahal kecantikan itulah yang dulu menjadi kebanggaan dan andalannya. Kecantikan itulah yang selama bertahun-tahun dulu telah membuat dirinya populer dan menjadi idola banyak lelaki yang bertandang ke tempat ini.
”Aku harus pergi. Ya, aku harus pergi. Tak ada lagi yang kupertahankan di sini. Tak ada lagi........,” kata-kata ini seperti saling berdesakan di dalam hatinya.
Perempuan itu mengusap air matanya yang masih membekas di pelupuk mata. Perempuan itu pun berusaha meyakinkan dirinya bahwa keinginan untuk pergi bukan semata dikarenakan alasan kecantikannya yang sudah memudar. Bukan karena takut, tak akan ada lagi lelaki yang datang mencari, dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Bukan karena takut bersaing dengan pendatang-pendatang baru, yang jauh lebih muda, lebih kenes dan cantik.
Tapi, semuanya bermula dari sms Dani yang diterima handphonenya lima hari lalu. Dani yang kebetulan sedang pulang ke desa itu mengabarkan, jika Dimas bersama kakek dan neneknya telah tewas disambar truk. ”Menurut informasi bapakmu naik sepeda menggonceng ibumu dan Dimas, sehabis menjemput Dimas di sekolah. Mereka disambar truk. Peristiwanya sudah terjadi seminggu lalu. Tapi tak ada yang memberitahumu, karena tak ada yang tahu alamatmu di kota,” begini tulis Dani di sms-nya.
Perempuan itu kembali mengusap air matanya. Ia berpikir, tak ada lagi yang bisa dipertahankannya di tempat ini. Tak ada lagi gunanya bekerja di sini. Ia dulu nekad bekerja begini, demi untuk anaknya semata wayang, Dimas. Demi untuk menyekolahkannya. Untuk membesarkannya. Namun, kini semuanya sudah sirna.
Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya ke sebilah pisau, yang sejak sore tergeletak di atas meja kecil, tak jauh dari ranjangnya. Pisau tajam itu sore tadi digunakannya untuk mengupas buah mangga, pemberian teman di kamar sebelahnya.
Perempuan itu menguatkan tekadnya untuk pergi.
Yogya, Juli 2011
Sabtu, 06 Agustus 2011
SENYUM DAN SEPOTONG SENJA Cerpen : Sutirman Eka Ardhana
SENYUM DAN SEPOTONG SENJA
Cerpen : Sutirman Eka Ardhana
AKU menunggumu di pinggir jalan. Sendiri. Menunggumu lewat sambil memandang semburat senja yang akan tenggelam di balik kota. Seperti kemarin dan kemarinnya lagi, kaulewat di jalan ini, ketika senja mulai temaram.
Sudah empat hari aku di kota ini setelah 40 tahun kutinggalkan. Ya, sudah empat hari pula aku menghirup udaranya kembali. Sudah empat hari pula aku berdiri di pinggir jalan ini, setiap senja tiba. Dan, sudah empat kali senja pula aku melihat kaulewat di jalan ini.
Setiap kali lewat, engkau tersenyum. Senyummu itu dahsyat sekali. Aku tergagap. Terkesiap. Betapa tidak. Senyum itu, ya, senyummu itu, seperti lontaran senyum yang datang dari masa lalu. Senyum yang dulu pernah kukenal. Bahkan sangat kukenal. Tapi senyum siapa? Bukankah teramat banyak senyum yang kukenal? Ya, teramat banyak senyum yang hadir dalam perjalanan hidupku.
Sudah tiga malam ini, senyummu itu mengaduk-aduk perasaanku. Mengaduk-aduk kenanganku. Entah mengapa senyummu itu seakan telah membawaku jauh ke lorong kerinduan yang tak bertepi. Ke lorong masa lalu yang samar, tapi pasti.
Hampir dua jam lebih aku menunggu. Tapi kau belum juga datang. Belum juga lewat. Padahal senja sebentar lagi tenggelam. Sebentar lagi cahaya semburatnya yang indah dan mempesona itu hilang ditelan malam. Dan, bila malam telah turun, cahaya lampu listrik di pinggir jalan itu tak akan mampu membantu pandangan mataku untuk melihat senyummu. Melihat senyum yang kutunggu-tunggu itu.
Aku ingat, ketika kaulewat di senja kemarin. Dari jarak yang masih beberapa meter, senyummu sudah tersembul. Senyummu itu sempat membuatku terpana beberapa saat. Kalau saja kau tak bertanya, aku pasti hanyut bermenit-menit dalam keterpanaan itu.
“Mari, Pak. Mau pilih apa? Pisang goreng, ketela goreng atau lainnya? Bakwan dan nogosari juga ada lho, Pak,” rentetan kata dan tanyamu di senja kemarin.
Engkau pun lalu menurunkan keranjang bakul dari gendongan di punggungmu. Di bagian atas keranjang bakul itu terdapat sebuah baskom. Baskom itu berisi penuh makanan yang kau jajakan. Ada pisang goreng, ketela goreng, bakwan, nogosari, kueh lapis, donat dan banyak lainnya lagi.
Andaikan kaulewat, dan tersenyum lagi seperti kemarin, mungkin, ya mungkin saja aku akan dapat mengingat-ingat kembali siapa sebenarnya pemilik senyum itu. Rasanya dulu, aku begitu sangat mengenalnya. Begitu dekat dengannya. Sepertinya senyum itu sudah kukenal sejak empatpuluh tahun lebih yang lalu. Sejak aku masih duduk di bangku SMA, di kota ini.
Apakah itu senyum yang dulu dimiliki Astuti, adik kelasku yang matanya selalu menggoda? Atau senyum Antin? Mirna? Dahlia? Atau jangan-jangan itu senyum miliknya Miyanti? Ya, Miyanti, kembang di kelasku itu. Miyanti yang dulu kucintai habis-habisan. Kucintai sampai babak-belur. Aku ingat, siang itu ketika pulang sekolah bersama Miyanti, empat lelaki muda mencegatku. Tanpa bertanya sepatah kata pun, mereka langsung menghajarku. Tak pelak lagi, akibatnya wajahku biru lebam dan badanku babak-belur.
Tiga hari kemudian baru aku tahu jika empat lelaki yang menghajarku itu adalah suruhan tunangannya Miyanti. Ternyata oleh orangtuanya, Miyanti sudah ditunangkan dengan pemuda tetangganya. Tapi ia tak pernah mengatakannya kepadaku. Tak pernah menceritakan perihal tunangannya itu.
Dan, sehari setelah peristiwa itu, Miyanti tak pernah lagi datang ke sekolah. Beberapa minggu kemudian tersiar kabar di sekolah, bila ia sudah resmi keluar dari sekolah karena dinikahkan oleh orangtuanya dengan pemuda tunangannya itu.
Dalam usiaku yang sekarang ini ternyata bukan persoalan yang mudah juga untuk mencoba membongkar-bongkar kembali semua ingatan atau kenangan tentang senyum-senyum yang dulu pernah kuterima. Terus terang memang teramat banyak senyum yang kuterima. Senyum yang berarti. Senyum yang berkesan dalam hidupku. Dan, salah satu yang berarti serta penuh kesan dalam hidupku itu adalah senyum seperti yang dimiliki Miyanti. Seperti senyum yang ada padamu dan kauberikan kepadaku dalam beberapa kali senja itu.
Tapi kau tak datang juga. Tak kunjung lewat di jalan ini. Itu artinya, senyummu tak akan kutemui. Senja menjadi terasa hambar. Semburat cahayanya menjadi buram, tak seindah senja-senja yang kemarin.
Aku kecewa. Sambil bersandar pada pohon rindang di pinggir jalan, kupandangi senja yang mulai tenggelam dan hilang di balik kota. Pandanganku hampa.
“Sedang menunggu siapa, Pak?” sebuah tanya mengejutkanku.
Seorang lelaki muda telah berdiri di sampingku. Aku ingat, lelaki muda ini adalah pekerja di hotel tempatku menginap, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari pinggir jalan tempatku menunggumu.
“Sudah beberapa senja ini saya melihat Bapak selalu di sini, seperti sedang menunggu seseorang. Siapa yang ditunggu, Pak?” tanyanya lagi.
“Saya sedang menunggu perempuan penjual makanan yang setiap menjelang senja itu lewat di sini,” jawabku apa adanya.
“Perempuan yang menjual pisang goreng, ketela goreng dan lainnya itu? Yang membawa dagangannya dengan keranjang bakul di gendongannya itu?” lelaki muda itu balik bertanya.
“Ya…, ya itu. Perempuan itu yang saya tunggu,” kataku spontan.
“Ooo…menunggu Bu Miyanti, tho?”
Aku terkesiap.
“Siapa? Miyanti!? Perempuan itu bernama Miyanti? Betul, dia bernama Miyanti!?” tanya beruntun pun tak mampu kutahan.
“Ya betul, Pak. Perempuan penjual makanan itu bernama Bu Miyanti. Saya sangat mengenalnya, karena dia tetangga saya. Tapi…..,” kata-kata lelaki muda itu seperti terputus.
“Tapi .., kenapa?” tanyaku tak sabar.
“Dia tak akan lewat di jalan ini lagi, Pak.”
“Lho, kenapa?” tanyaku terkejut. Ya, aku memang terkejut dengan kata-kata itu.
“Dia sudah meninggal dunia, Pak. Semalam, dalam perjalanan pulang sehabis menjajakan dagangannya, ia tertabrak sepedamotor. Lukanya parah sekali. Beberapa jam di rumah sakit, ia pun meninggal dunia. Dan, siang tadi, jenazahnya telah dimakamkan,” kata lelaki muda itu lagi, seraya kemudian pamit untuk bergegas ke hotel.
Betapa tak berdayanya aku setelah itu. Tubuhku lemas, tersandar di pepohonan. Lunglai. Senja pun menjadi buram.
Yogya, Januari 2011
Cerpen : Sutirman Eka Ardhana
AKU menunggumu di pinggir jalan. Sendiri. Menunggumu lewat sambil memandang semburat senja yang akan tenggelam di balik kota. Seperti kemarin dan kemarinnya lagi, kaulewat di jalan ini, ketika senja mulai temaram.
Sudah empat hari aku di kota ini setelah 40 tahun kutinggalkan. Ya, sudah empat hari pula aku menghirup udaranya kembali. Sudah empat hari pula aku berdiri di pinggir jalan ini, setiap senja tiba. Dan, sudah empat kali senja pula aku melihat kaulewat di jalan ini.
Setiap kali lewat, engkau tersenyum. Senyummu itu dahsyat sekali. Aku tergagap. Terkesiap. Betapa tidak. Senyum itu, ya, senyummu itu, seperti lontaran senyum yang datang dari masa lalu. Senyum yang dulu pernah kukenal. Bahkan sangat kukenal. Tapi senyum siapa? Bukankah teramat banyak senyum yang kukenal? Ya, teramat banyak senyum yang hadir dalam perjalanan hidupku.
Sudah tiga malam ini, senyummu itu mengaduk-aduk perasaanku. Mengaduk-aduk kenanganku. Entah mengapa senyummu itu seakan telah membawaku jauh ke lorong kerinduan yang tak bertepi. Ke lorong masa lalu yang samar, tapi pasti.
Hampir dua jam lebih aku menunggu. Tapi kau belum juga datang. Belum juga lewat. Padahal senja sebentar lagi tenggelam. Sebentar lagi cahaya semburatnya yang indah dan mempesona itu hilang ditelan malam. Dan, bila malam telah turun, cahaya lampu listrik di pinggir jalan itu tak akan mampu membantu pandangan mataku untuk melihat senyummu. Melihat senyum yang kutunggu-tunggu itu.
Aku ingat, ketika kaulewat di senja kemarin. Dari jarak yang masih beberapa meter, senyummu sudah tersembul. Senyummu itu sempat membuatku terpana beberapa saat. Kalau saja kau tak bertanya, aku pasti hanyut bermenit-menit dalam keterpanaan itu.
“Mari, Pak. Mau pilih apa? Pisang goreng, ketela goreng atau lainnya? Bakwan dan nogosari juga ada lho, Pak,” rentetan kata dan tanyamu di senja kemarin.
Engkau pun lalu menurunkan keranjang bakul dari gendongan di punggungmu. Di bagian atas keranjang bakul itu terdapat sebuah baskom. Baskom itu berisi penuh makanan yang kau jajakan. Ada pisang goreng, ketela goreng, bakwan, nogosari, kueh lapis, donat dan banyak lainnya lagi.
Andaikan kaulewat, dan tersenyum lagi seperti kemarin, mungkin, ya mungkin saja aku akan dapat mengingat-ingat kembali siapa sebenarnya pemilik senyum itu. Rasanya dulu, aku begitu sangat mengenalnya. Begitu dekat dengannya. Sepertinya senyum itu sudah kukenal sejak empatpuluh tahun lebih yang lalu. Sejak aku masih duduk di bangku SMA, di kota ini.
Apakah itu senyum yang dulu dimiliki Astuti, adik kelasku yang matanya selalu menggoda? Atau senyum Antin? Mirna? Dahlia? Atau jangan-jangan itu senyum miliknya Miyanti? Ya, Miyanti, kembang di kelasku itu. Miyanti yang dulu kucintai habis-habisan. Kucintai sampai babak-belur. Aku ingat, siang itu ketika pulang sekolah bersama Miyanti, empat lelaki muda mencegatku. Tanpa bertanya sepatah kata pun, mereka langsung menghajarku. Tak pelak lagi, akibatnya wajahku biru lebam dan badanku babak-belur.
Tiga hari kemudian baru aku tahu jika empat lelaki yang menghajarku itu adalah suruhan tunangannya Miyanti. Ternyata oleh orangtuanya, Miyanti sudah ditunangkan dengan pemuda tetangganya. Tapi ia tak pernah mengatakannya kepadaku. Tak pernah menceritakan perihal tunangannya itu.
Dan, sehari setelah peristiwa itu, Miyanti tak pernah lagi datang ke sekolah. Beberapa minggu kemudian tersiar kabar di sekolah, bila ia sudah resmi keluar dari sekolah karena dinikahkan oleh orangtuanya dengan pemuda tunangannya itu.
Dalam usiaku yang sekarang ini ternyata bukan persoalan yang mudah juga untuk mencoba membongkar-bongkar kembali semua ingatan atau kenangan tentang senyum-senyum yang dulu pernah kuterima. Terus terang memang teramat banyak senyum yang kuterima. Senyum yang berarti. Senyum yang berkesan dalam hidupku. Dan, salah satu yang berarti serta penuh kesan dalam hidupku itu adalah senyum seperti yang dimiliki Miyanti. Seperti senyum yang ada padamu dan kauberikan kepadaku dalam beberapa kali senja itu.
Tapi kau tak datang juga. Tak kunjung lewat di jalan ini. Itu artinya, senyummu tak akan kutemui. Senja menjadi terasa hambar. Semburat cahayanya menjadi buram, tak seindah senja-senja yang kemarin.
Aku kecewa. Sambil bersandar pada pohon rindang di pinggir jalan, kupandangi senja yang mulai tenggelam dan hilang di balik kota. Pandanganku hampa.
“Sedang menunggu siapa, Pak?” sebuah tanya mengejutkanku.
Seorang lelaki muda telah berdiri di sampingku. Aku ingat, lelaki muda ini adalah pekerja di hotel tempatku menginap, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari pinggir jalan tempatku menunggumu.
“Sudah beberapa senja ini saya melihat Bapak selalu di sini, seperti sedang menunggu seseorang. Siapa yang ditunggu, Pak?” tanyanya lagi.
“Saya sedang menunggu perempuan penjual makanan yang setiap menjelang senja itu lewat di sini,” jawabku apa adanya.
“Perempuan yang menjual pisang goreng, ketela goreng dan lainnya itu? Yang membawa dagangannya dengan keranjang bakul di gendongannya itu?” lelaki muda itu balik bertanya.
“Ya…, ya itu. Perempuan itu yang saya tunggu,” kataku spontan.
“Ooo…menunggu Bu Miyanti, tho?”
Aku terkesiap.
“Siapa? Miyanti!? Perempuan itu bernama Miyanti? Betul, dia bernama Miyanti!?” tanya beruntun pun tak mampu kutahan.
“Ya betul, Pak. Perempuan penjual makanan itu bernama Bu Miyanti. Saya sangat mengenalnya, karena dia tetangga saya. Tapi…..,” kata-kata lelaki muda itu seperti terputus.
“Tapi .., kenapa?” tanyaku tak sabar.
“Dia tak akan lewat di jalan ini lagi, Pak.”
“Lho, kenapa?” tanyaku terkejut. Ya, aku memang terkejut dengan kata-kata itu.
“Dia sudah meninggal dunia, Pak. Semalam, dalam perjalanan pulang sehabis menjajakan dagangannya, ia tertabrak sepedamotor. Lukanya parah sekali. Beberapa jam di rumah sakit, ia pun meninggal dunia. Dan, siang tadi, jenazahnya telah dimakamkan,” kata lelaki muda itu lagi, seraya kemudian pamit untuk bergegas ke hotel.
Betapa tak berdayanya aku setelah itu. Tubuhku lemas, tersandar di pepohonan. Lunglai. Senja pun menjadi buram.
Yogya, Januari 2011
Lereng Sunyi Merapi Cerpen: Sutirman Eka Ardhana
Lereng Sunyi Merapi
Cerpen: Sutirman Eka Ardhana
(1)
MALAM baru saja turun. Tapi kesunyian sudah menelan desa di lereng Merapi itu. Dari ujung desa, dua ekor burung gagak terbang beriringan dan meneriakkan suaranya yang menyibak sunyi malam. Oak! Oak! Oak!
Dua ekor burung gagak itu kemudian melintas di atas rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak-teriak – Oak! Oak! Oak! – lalu hinggap secara bersamaan di sebuah pohon besar di depan rumah. Meski sudah bertengger di sebuah dahan, keduanya masih saja mengepak-ngepakkan sayapnya sambil tetap berteriak – Oak! Oak! Oak! Sepertinya ada yang ingin dikabarkan oleh kedua burung gagak itu kepada warga desa yang sejak petang sudah mengurung diri di dalam rumah.
Sejak malam turun, jalanan desa yang kiri-kanannya dipenuhi rimbun pepohonan itu dipagut sepi. Tidak seorang warga pun ada di jalanan. Entah mengapa, dalam beberapa hari terakhir, semua warga desa seakan sepakat bila sehabis mahgrib tidak lagi berada di jalanan atau di luar rumah. Mereka seakan-akan sedang berjaga-jaga di dalam rumah dengan penuh kecemasan.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak di langit malam. Teriakan nyaringnya mencemaskan empat orang lelaki yang sedang berkumpul di sebuah rumah. Keempat lelaki itu bertetangga. Rumah-rumah mereka saling berdekatan. Dan, keempatnya berkumpul di rumah Parmo, yang paling tua di antara mereka.
“Burung-burung gagak itu datang lagi. Berteriak-teriak lagi,” kata salah seorang yang bertubuh tinggi dan berkumis.
“Ya, suara-suara gagak itu membuat aku jadi cemas,” ujar si pemilik rumah, Parmo.
“Jangan-jangan akan ada ……….., ah aku tak bisa meneruskannya. Aku ngeri. Aku takut untuk mengatakannya. Aku khawatir apa yang akan kukatakan itu nanti benar-benar terjadi. Ah, aku tak ingin lagi itu terjadi. Cukuplah …. Ya cukuplah sudah …….,” timpal salah seorang di antaranya yang berbadan kurus.
“Beberapa waktu lalu, ketika ada burung gagak berteriak-teriak seperti itu, sehari kemudian ada dua orang yang terbunuh di desa ini. Mereka adalah para pencuri sapi yang kepergok warga desa. Mereka diamuk, dan tewas,” kata seorang lagi yang berbadan gempal. “Malam ini burung-burung gagak itu datang lagi. Entah kabar buruk apa yang disampaikannya,” tambahnya.
Oak! Oak! Oak! Teriakan burung-burung gagak itu membahana lagi membelah malam. Suaranya semakin nyaring. Semakin keras. Semakin panjang.
“Sepertinya burung-burung itu hinggap di pohon rumah sebelah,” ujar Parmo.
“Rumah Pak Kasan, maksudmu?” tanya yang kurus.
“Ya. Cobalah dengar baik-baik, suara burung-burung gagak itu menjerit-jerit di depan rumah sebelah. Itu pasti di pohon rambutan depan rumah. Suaranya begitu nyaring. Begitu dekat.”
Oak! Oak! Oak! Terdengar pula suara ranting pohon yang jatuh. Sebatang ranting kering yang sudah lama rapuh patah, tak kuat menahan pijakan burung-burung gagak itu.
“Ah, kalau saja aku punya senapan, sudah kutembak burung-burung sial itu,” suara si kurus bernada geram.
“Heh, kenapa pula? Apa salahnya gagak-gagak itu hingga mau kau tembak?” lelaki tinggi dan berkumis terpancing pula untuk bertanya.
“Gagak-gagak itu pembawa bencana. Kalau dia datang dan berteriak-teriak malam-malam seperti ini, pasti akan ada bencana di desa kita. Akan ada jiwa yang melayang. Akan ada yang mati lagi. Besok entah siapa lagi yang mati?”
“Itu bukan salahnya gagak. Justru sebaliknya kita harus berterimakasih kepada gagak-gagak itu. Karena dia sudah memberitahu kita lebih dulu tentang akan adanya bahaya, adanya bencana, atau kematian. Dengan pertanda yang diberikan gagak-gagak itu, kita bisa berjaga-jaga dan bersiap-siap lebih dulu. Jadi, jangan salahkan gagak. Burung-burung itu tak bersalah dan tidak membawa bencana. Pembawa dan penyebab bencana itu biasanya ya manusia sendiri,” kata Parmo serius.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak.
(2)
Akan halnya di rumah Pak Kasan, Narti kembali membaca isi pesan singkat di telepon selularnya – Minggu dpn aku akn plang ke yogya. Aku pasti ke rumahmu. Aku ingin sekali mmandang Merapi yang indah itu lagi bsamamu. Tunggu, ya. – Wahyu.
Sejak diterimanya petang hari, setidaknya lebih dari enam kali sms dari Wahyu itu dibacanya. Hatinya berbinar-binar. Gembira. Betapa tidak, minggu depan ia akan bertemu lagi dengan Wahyu, pemuda sedesanya yang merantau ke Jakarta, dan yang selama ini diyakininya dengan sepenuh hati sebagai satu-satunya lelaki pujaan.
Pertemuannya yang terakhir dengan Wahyu terjadi enam bulan lalu. Dan, Narti ingat, sederetan kata-kata Wahyu ketika itu, yang diucapkan ketika mereka berdua duduk di pinggiran sungai, sambil memandang ke puncak Merapi yang mempesona. “Jika aku nanti pulang lagi ke desa, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku tak akan ingin berjauhan lagi denganmu. Aku akan selalu berada di dekatmu,” ini kata-kata Wahyu saat itu.
“Maksudmu?” Narti ingat, tanya inilah yang spontan dilontarnya sore itu.
“Ya, maksudnya, kita akan selalu bersama. Berdua. Aku akan melamarmu. Lalu kita menikah. Akan kita jalani kehidupan ini bersama. Pendek kata, aku ingin sehidup dan semati denganmu. Kau bersedia kan, Nar?”
Narti tersenyum sendiri. Lalu, ia pun membayangkan saat-saat mendebarkan itu. Wahyu dan keluarganya datang ke rumahnya melamar, kemudian mereka menikah, duduk berdua di pelaminan, disaksikan sanak keluarga, kawan-kawan, para tetangga dan handai-tolan lainnya. Ah, kebahagiaan yang tiada tara!
Narti melangkah ke jendela, lalu dibukanya jendela itu sedikit. Dipandangnya malam di luar rumah. Malam seperti dipeluk kelam. Cahaya lampu listrik di depan rumah yang hanya 25 watt tak mampu melawan kegelapan. Tapi dengan cahaya yang tipis itu ia sempat melihat awan hitam seakan bergerombol tebal di pucuk-pucuk pepohonan.
(3)
Wahyu gelisah membaca berita di koran-koran dan menonton tayangan berita di televisi bahwa Gunung Merapi beraksi lagi. Mulai meletus lagi! Dan, melontarkan awan panas! Ia pun sontak teringat desanya di lereng Merapi. Teringat kedua orangtuanya, adik-adiknya dan kerabatnya. Juga, Narti!
Tak ada pilihan lain. Selain secepatnya pulang ke Yogya. Hari itu juga ia minta izin di tempat kerjanya, lalu ke stasiun kereta api, naik kereta api apa pun yang paling awal bisa membawanya pulang ke Yogya.
Wahyu naik kereta api jurusan Jakarta – Surabaya yang berhenti di Yogya. Tengah malam ia sampai di Yogya. Lalu, sepedamotor ojek membawanya menembus dingin malam menuju desanya. Semula pengemudi ojek agak keberatan membawanya ke desa di lereng Merapi itu, tapi setelah disodori ongkos yang berlipat, pengemudi ojek itu pun mengangguk.
Ketika memasuki desa, kedatangannya disambut dengan suara nyaring burung-burung gagak – Oak! Oak! Oak!
(4)
KEESOKAN harinya stasiun-stasiun televisi sibuk memberitakan sebuah desa di lereng Merapi, yang terletak di pinggiran sungai diterjang awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi pada dini hari. Sejumlah warga desa itu ditemukan tewas.
Keesokan harinya lagi, tim evakuasi yang terdiri para relawan, anggota TNI dan Polri menemukan mayat Parmo tergeletak di depan rumahnya. Di sebelah rumah Parmo, tim evakuasi menemukan mayat seorang gadis tergeletak di depan pintu rumah. Dari dalam dompet di saku celana panjang yang dikenakannya ditemukan KTP atas nama Sunarti, usia 23 tahun. Kemudian di dalam rumah, ditemukan jasad lelaki tua berdampingan dengan perempuann tua. Sementara di depan rumah, tak sampai empat meter dari depan pintu, ditemukan pula seorang lelaki muda tergeletak tak bernyawa.
Desa di lereng Merapi itu sunyi, bagaikan desa mati. Burung gagak pun pergi.
Yogya, November 2010
Cerpen: Sutirman Eka Ardhana
(1)
MALAM baru saja turun. Tapi kesunyian sudah menelan desa di lereng Merapi itu. Dari ujung desa, dua ekor burung gagak terbang beriringan dan meneriakkan suaranya yang menyibak sunyi malam. Oak! Oak! Oak!
Dua ekor burung gagak itu kemudian melintas di atas rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak-teriak – Oak! Oak! Oak! – lalu hinggap secara bersamaan di sebuah pohon besar di depan rumah. Meski sudah bertengger di sebuah dahan, keduanya masih saja mengepak-ngepakkan sayapnya sambil tetap berteriak – Oak! Oak! Oak! Sepertinya ada yang ingin dikabarkan oleh kedua burung gagak itu kepada warga desa yang sejak petang sudah mengurung diri di dalam rumah.
Sejak malam turun, jalanan desa yang kiri-kanannya dipenuhi rimbun pepohonan itu dipagut sepi. Tidak seorang warga pun ada di jalanan. Entah mengapa, dalam beberapa hari terakhir, semua warga desa seakan sepakat bila sehabis mahgrib tidak lagi berada di jalanan atau di luar rumah. Mereka seakan-akan sedang berjaga-jaga di dalam rumah dengan penuh kecemasan.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak di langit malam. Teriakan nyaringnya mencemaskan empat orang lelaki yang sedang berkumpul di sebuah rumah. Keempat lelaki itu bertetangga. Rumah-rumah mereka saling berdekatan. Dan, keempatnya berkumpul di rumah Parmo, yang paling tua di antara mereka.
“Burung-burung gagak itu datang lagi. Berteriak-teriak lagi,” kata salah seorang yang bertubuh tinggi dan berkumis.
“Ya, suara-suara gagak itu membuat aku jadi cemas,” ujar si pemilik rumah, Parmo.
“Jangan-jangan akan ada ……….., ah aku tak bisa meneruskannya. Aku ngeri. Aku takut untuk mengatakannya. Aku khawatir apa yang akan kukatakan itu nanti benar-benar terjadi. Ah, aku tak ingin lagi itu terjadi. Cukuplah …. Ya cukuplah sudah …….,” timpal salah seorang di antaranya yang berbadan kurus.
“Beberapa waktu lalu, ketika ada burung gagak berteriak-teriak seperti itu, sehari kemudian ada dua orang yang terbunuh di desa ini. Mereka adalah para pencuri sapi yang kepergok warga desa. Mereka diamuk, dan tewas,” kata seorang lagi yang berbadan gempal. “Malam ini burung-burung gagak itu datang lagi. Entah kabar buruk apa yang disampaikannya,” tambahnya.
Oak! Oak! Oak! Teriakan burung-burung gagak itu membahana lagi membelah malam. Suaranya semakin nyaring. Semakin keras. Semakin panjang.
“Sepertinya burung-burung itu hinggap di pohon rumah sebelah,” ujar Parmo.
“Rumah Pak Kasan, maksudmu?” tanya yang kurus.
“Ya. Cobalah dengar baik-baik, suara burung-burung gagak itu menjerit-jerit di depan rumah sebelah. Itu pasti di pohon rambutan depan rumah. Suaranya begitu nyaring. Begitu dekat.”
Oak! Oak! Oak! Terdengar pula suara ranting pohon yang jatuh. Sebatang ranting kering yang sudah lama rapuh patah, tak kuat menahan pijakan burung-burung gagak itu.
“Ah, kalau saja aku punya senapan, sudah kutembak burung-burung sial itu,” suara si kurus bernada geram.
“Heh, kenapa pula? Apa salahnya gagak-gagak itu hingga mau kau tembak?” lelaki tinggi dan berkumis terpancing pula untuk bertanya.
“Gagak-gagak itu pembawa bencana. Kalau dia datang dan berteriak-teriak malam-malam seperti ini, pasti akan ada bencana di desa kita. Akan ada jiwa yang melayang. Akan ada yang mati lagi. Besok entah siapa lagi yang mati?”
“Itu bukan salahnya gagak. Justru sebaliknya kita harus berterimakasih kepada gagak-gagak itu. Karena dia sudah memberitahu kita lebih dulu tentang akan adanya bahaya, adanya bencana, atau kematian. Dengan pertanda yang diberikan gagak-gagak itu, kita bisa berjaga-jaga dan bersiap-siap lebih dulu. Jadi, jangan salahkan gagak. Burung-burung itu tak bersalah dan tidak membawa bencana. Pembawa dan penyebab bencana itu biasanya ya manusia sendiri,” kata Parmo serius.
Burung-burung gagak itu kembali berteriak-teriak.
(2)
Akan halnya di rumah Pak Kasan, Narti kembali membaca isi pesan singkat di telepon selularnya – Minggu dpn aku akn plang ke yogya. Aku pasti ke rumahmu. Aku ingin sekali mmandang Merapi yang indah itu lagi bsamamu. Tunggu, ya. – Wahyu.
Sejak diterimanya petang hari, setidaknya lebih dari enam kali sms dari Wahyu itu dibacanya. Hatinya berbinar-binar. Gembira. Betapa tidak, minggu depan ia akan bertemu lagi dengan Wahyu, pemuda sedesanya yang merantau ke Jakarta, dan yang selama ini diyakininya dengan sepenuh hati sebagai satu-satunya lelaki pujaan.
Pertemuannya yang terakhir dengan Wahyu terjadi enam bulan lalu. Dan, Narti ingat, sederetan kata-kata Wahyu ketika itu, yang diucapkan ketika mereka berdua duduk di pinggiran sungai, sambil memandang ke puncak Merapi yang mempesona. “Jika aku nanti pulang lagi ke desa, sudah kubulatkan tekad, bahwa aku tak akan ingin berjauhan lagi denganmu. Aku akan selalu berada di dekatmu,” ini kata-kata Wahyu saat itu.
“Maksudmu?” Narti ingat, tanya inilah yang spontan dilontarnya sore itu.
“Ya, maksudnya, kita akan selalu bersama. Berdua. Aku akan melamarmu. Lalu kita menikah. Akan kita jalani kehidupan ini bersama. Pendek kata, aku ingin sehidup dan semati denganmu. Kau bersedia kan, Nar?”
Narti tersenyum sendiri. Lalu, ia pun membayangkan saat-saat mendebarkan itu. Wahyu dan keluarganya datang ke rumahnya melamar, kemudian mereka menikah, duduk berdua di pelaminan, disaksikan sanak keluarga, kawan-kawan, para tetangga dan handai-tolan lainnya. Ah, kebahagiaan yang tiada tara!
Narti melangkah ke jendela, lalu dibukanya jendela itu sedikit. Dipandangnya malam di luar rumah. Malam seperti dipeluk kelam. Cahaya lampu listrik di depan rumah yang hanya 25 watt tak mampu melawan kegelapan. Tapi dengan cahaya yang tipis itu ia sempat melihat awan hitam seakan bergerombol tebal di pucuk-pucuk pepohonan.
(3)
Wahyu gelisah membaca berita di koran-koran dan menonton tayangan berita di televisi bahwa Gunung Merapi beraksi lagi. Mulai meletus lagi! Dan, melontarkan awan panas! Ia pun sontak teringat desanya di lereng Merapi. Teringat kedua orangtuanya, adik-adiknya dan kerabatnya. Juga, Narti!
Tak ada pilihan lain. Selain secepatnya pulang ke Yogya. Hari itu juga ia minta izin di tempat kerjanya, lalu ke stasiun kereta api, naik kereta api apa pun yang paling awal bisa membawanya pulang ke Yogya.
Wahyu naik kereta api jurusan Jakarta – Surabaya yang berhenti di Yogya. Tengah malam ia sampai di Yogya. Lalu, sepedamotor ojek membawanya menembus dingin malam menuju desanya. Semula pengemudi ojek agak keberatan membawanya ke desa di lereng Merapi itu, tapi setelah disodori ongkos yang berlipat, pengemudi ojek itu pun mengangguk.
Ketika memasuki desa, kedatangannya disambut dengan suara nyaring burung-burung gagak – Oak! Oak! Oak!
(4)
KEESOKAN harinya stasiun-stasiun televisi sibuk memberitakan sebuah desa di lereng Merapi, yang terletak di pinggiran sungai diterjang awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi pada dini hari. Sejumlah warga desa itu ditemukan tewas.
Keesokan harinya lagi, tim evakuasi yang terdiri para relawan, anggota TNI dan Polri menemukan mayat Parmo tergeletak di depan rumahnya. Di sebelah rumah Parmo, tim evakuasi menemukan mayat seorang gadis tergeletak di depan pintu rumah. Dari dalam dompet di saku celana panjang yang dikenakannya ditemukan KTP atas nama Sunarti, usia 23 tahun. Kemudian di dalam rumah, ditemukan jasad lelaki tua berdampingan dengan perempuann tua. Sementara di depan rumah, tak sampai empat meter dari depan pintu, ditemukan pula seorang lelaki muda tergeletak tak bernyawa.
Desa di lereng Merapi itu sunyi, bagaikan desa mati. Burung gagak pun pergi.
Yogya, November 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
