Rabu, 28 Oktober 2009

Zai

Zai
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

IDUL Fitri tinggal tiga hari lagi. Dan, ini malam pertama aku di kampung, di rumah, setelah tiga tahun tak pernah pulang. Ya, tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku, Bengkalis. Tiga tahun aku tinggal di Yogya, melanjutkan kuliah. Sekarang aku pulang, ingin merayakan lebaran bersama Ayah dan Emak.
Sayangnya, malam ini tak lagi purnama. Bahkan sehabis sholat tarawih di surau tadi, di langit tak ada secuil bintang pun yang muncul. Hanya awan hitam yang terlihat menebal, membuat malam menjadi begitu pekat. Tapi di ujung kampung ada cahaya yang merebak ke atas. Dari kejauhan, cahaya yang tampak menyeruak di pucuk-pucuk rimbun pepohonan karet itu bagai mengirimkan daya pesona yang besar.
Lalu, terdengar ada dentang suara gong yang mendayu. Seperti halnya cahaya yang merebak, suara gong itu pun datang dari kawasan ujung kampung. Suara gong itu bagai mengandung kekuatan magis yang mampu menggerakkan orang-orang yang mendengarnya untuk datang mendekat. Alunan irama gong yang mendayu dari kejauhan itu memang terkesan khas dan aneh.
Dentang suara gong itu pun menggodaku. Dentangnya seakan-akan memiliki daya dorong yang luar biasa untuk mempengaruhi rasa ingin tahuku. Aku bergegas bangkit dari duduk di beranda rumah. Niatku sudah jelas, mendatangi tempat di mana suara gong itu berasal. Tapi, begitu aku akan melangkah, Emak muncul di pintu.
“Kauhendak ke mana, Ar?” tanya Emak seketika.
“Mak tak dengar suara gong itu? Ada apa ya, Mak? Saya mau ke tempat gong itu berbunyi,” jawabku sambil membetulkan letak krah jaket yang kupakai.
“Oh, itu di ujung kampung! Dari orang-orang di pasar tadi pagi, Mak dengar tak jauh dari rumah Tuk Penghulu malam ini ada acara tari belian,” jelas Emak.
“Tari belian? Ah, ini kan bulan puasa, Mak? Biasanya di malam bulan puasa seperti ini orang-orang bertadarus, membaca Al-Quran, bukan membuat acara tari belian,” potongku.
“Kabarnya ada anak gadis sakit. Sakitnya sudah payah, hingga seorang Bomo dari Senggoro terpaksa dipanggil untuk mengadakan upacara belian,” jelas Emak lagi.
“Ada anak gadis sakit?! Siapa dia, Mak?” aku diburu rasa ingin tahu.
“Entahlah, Mak lupa bertanya siapa anak gadis yang sakit itu.”
“Tapi, tak jauh dari rumah Tuk Penghulu itu, Mak?”
“Yang Mak dengar di pasar tadi begitu.”
“Kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja ya, Mak? Di zaman semaju ini, masih juga ada yang berobat ke Bomo.”
“Kata orang, sakitnya anak gadis itu bukan sakit sembarang sakit.”
“Ah, siapa gerangan yang sakit itu?” aku jadi gelisah.
“Apa ada anak gadis di sekitar rumah Tuk Penghulu yang kau kenal?”
Aku hanya mengangguk. Tanpa menoleh ke Emak lagi, aku segera melangkah ke luar pintu beranda.
“Kalau mau ke sana, naik kereta angin biar cepat,” kata Emak begitu melihat aku tidak menghampiri sepeda yang tersandar di dekat beranda rumah.
Entah mengapa, perasaanku tiba-tiba menjadi bergebalau begitu mendengar penjelasan Emak, ada anak gadis yang sakit di dekat rumah Tuk Penghulu, kepala desa di kampungku, sehingga lupa dengan sepeda milik ayahku itu. Padahal jika dengan mengendarai sepeda, kawasan ujung kampung itu dapat kucapai hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Walaupun hatiku ragu apakah masih bisa mengayuh sepeda dengan sempurna, maklumlah selama di Yogya aku tak pernah lagi bersepeda.
***
SEHABIS memarkir sepeda di bawah sebuah pohon, aku segera menyeruak di antara kerumunan orang yang berjejal melingkar di halaman rumah panggung yang besar. Halaman rumah itu terang benderang dengan sejumlah lampu petromak yang digantung di beberapa tempat. Resah dan debar di dadaku sejak di ujung jalan yang menuju ke lokasi berkerumunnya banyak orang semakin mengencang. Zai-kah yang sakit?! Bukankah rumah panggung itu rumahnya Pakcik Awang, ayahnya Zai?! Kalau bukan Zai yang sakit, lantas siapa? Pakcik Awang tak punya anak gadis lain, selain Zai!
Tetapi, aku belum melihat Zai di tengah-tengah kerumunan orang itu. Yang ada hanya seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Lelaki itu sedang menengadahkan tangannya ke atas dengan mulut bergerak-gerak bagai sedang membacakan mantera persis di depan nyala api yang membara dari timbunan kayu, yang sengaja disediakan untuk menjadi api unggun. Cahaya nyala api itulah yang dari kejauhan terlihat menyeruak di pucuk-pucuk pepohonan karet. Dan lelaki tua itu sudah pasti Tuk Bomo yang diundang untuk memimpin upacara belian.
Sekitar tiga meter sebelah barat api unggun tampak jung kecil atau perahu-perahuan sepanjang satu meter. Di dekatnya terdapat balai kecil. Jung maupun balai kecil itu terbuat dari pelepah pohon kelapa. Di dalam balai kecil itu terlihat beberapa butir telur ayam, sepiring beras kunyit, sepiring beras putih, segenggam bunga dan segelas air putih.
Tiba-tiba Tuk Bomo menghentakkan kaki kanannya ke tanah tiga kali seraya mulutnya bergerak-gerak seperti sedang membacakan mantera. Secara bersamaan dentang suara gong yang ditabuh seorang lelaki muda itu berdentang lebih cepat lagi. Penabuh gendang panjang yang duduk di sebelah penabuh gong itupun meningkahkan gendangnya dengan irama yang tak kalah cepatnya.
Tak sampai tiga menit kemudian, dari dalam rumah panggung itu sekitar enam lelaki turun menggotong tempat tidur yang terbuat dari kayu. Di atas tempat tidur terbaring seorang perempuan muda berselimutkan kain putih. Di belakanganya tampak Pakcik Awang dan isterinya, Makcik Hasnah.
Aku terperangah. Wajah itu masih kuingat. Masih sangat kukenal. Mata yang terpejam dan bibir yang terkatup itu masih melekat di ingatan. Ya Tuhan, dia Zai! Tak salah lagi, dia memang Zai! Aku mencoba mendekat, melangkah lebih dekat. Tetapi beberapa lelaki yang mengawal Tuk Bomo dengan cepat menghalangi langkahku.
“Ayo mundur!” salah seorang dari pengawal Tuk Bomo menggertakku.
Dengan perasaan terpaksa aku mengundurkan langkah. Kembali ke dalam kerumunan. Aku menyadari, bila nekat mendekat ke tempat Zai terbaring, mungkin banyak orang akan marah karena menganggap perbuatanku itu mengganggu Tuk Bomo.
Orang-orang di kerumunan itu pun saling berbisik. Saling bercakap satu sama lain. Tidak sedikit pula yang berkata agak sedikit keras.
“Kabarnya baru sebulan ini dia sakit. Tak mau makan. Tak mau keluar kamar. Tak mau bercakap-cakap dengan siapapun. Mandi pun, kalau tak dipaksa, dia tak mau. Bahkan, beberapa hari lalu dia mengamuk. Segala barang yang ada di dekatnya dibuang, dilemparnya keluar rumah. Piring-piring dilempar. Gelas-gelas dilempar keluar. Banyak yang pecah,” ada yang berkata begini.
“Kenapa bisa begitu? Padahal dia itu gadis cantik, gadis periang.”
“Kabarnya juga, penyebabnya karena dia mau dinikahkan dengan pemuda dari kampung sebelah. Lelaki yang mau dijodohkan dengan dia itu anak orang kaya juga. Tapi dia menolak. Dia tak mau dinikahkan dengan pemuda pilihan ayahnya itu. Konon, ayahnya tetap memaksa. Mungkin karena dipaksa terus, dia jadi stress. Dan terus, ya jadi seperti sekarang ini.”
“Kenapa ya dia menolak? Padahal umurnya sudah cukup untuk bersuami.”
“Mungkin dia sudah punya pilihan yang lain. Mungkin ada yang ditunggunya.”
Dadaku terguncang. Terguncang bukan kepalang. Jadi dia mau dinikahkan?! Tapi dia tak mau! Ah, apa benar ada yang ditunggunya?! Jadi??? Aku didera kebingungan.
Ah, aku jadi ingat hari-hari manis bersamanya dulu. Hari-hari indah saat berkeliling kota. Hari-hari penuh kesan saat bercengkerama memandang laut. Memandang riak gelombang di Selat Bengkalis. Memandang burung-burung camar yang terbang dan hilang di kejauhan. Dan aku ingat, bagaimana ia meneteskan air mata ketika kucium pertama kali di bawah rimbunan kebun karet. Aku pun juga ingat bagaimana wajahnya terlihat sendu saat mengantarku di pelabuhan ketika akan berangkat ke Jawa tiga tahun lalu.
“Bang Ar, tak akan melupakan Zai, kan?” katanya dengan air mata berderai.
“Percayalah, Abang pasti akan selalu ingat Zai,” ucapku sambil mengusap air mata yang di pipinya.
“Abang janji?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Bang, Zai tetap akan menunggu Abang,” ujarnya lirih ketika akan melangkah masuk ke kapal.
Tiba-tiba terdengar orang ramai berteriak. Ribut. Gaduh. Aku terkesiap. Teriakan itu membuyarkan lamunanku.
“Ya Allah, dia bangun dan mengamuk!” ada yang berseru begini.
“Dia memukul Tuk Bomo!”
“Astaga, batangan kayu berapi di api unggun itu dipukulkannya ke Tuk Bomo,” teriak yang lain.
Benar! Aku tidak salah lihat. Zai mengamuk bagai seekor singa betina yang marah. Semua peralatan dan sesaji yang ada tercerai-berai. Jung dan balai kecil luluh-lantak diinjak dan ditendangnya. Piring tempat beras kunyit dilemparkannya ke arah pengawal Tuk Bomo. Tepat mengena di kepala. Pengawal Tuk Bomo itu terjatuh, dan piring pun pecah berantakan. Zai seperti ingin memburu orang-orang di sekitarnya dengan mengibas-ibaskan potongan kayu yang masih ada bara apinya.
Suasana jadi kacau-balau. Makcik Hasnah, emaknya Zai, berteriak-teriak menangis. Pakcik Awang juga berteriak, tak jelas apa yang diteriakkannya. Beberapa orang berusaha menyelamatkan Tuk Bomo dan berusaha menggotongnya menjauh. Orang-orang yang semula berkerumun menonton di sekitarnya menghindar menyelamatkan diri, takut jadi korban amukan. Hanya aku yang tetap berdiri di tempat. Terpana menyaksikan semuanya. Menyaksikan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ada yang mencoba menarik lenganku, mengajakku menjauh, ada pula yang berteriak menyuruhku menghindar, tapi semua tak kuhiraukan.
Aku masih tetap berdiri. Terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Dan, Zai tiba-tiba sudah berada tepat di depanku. Hanya berjarak sekitar dua meter. Di tangannya tetap melekat sepotong kayu yang ujungnya masih membara api. Orang-orang berteriak, menyuruhku segera lari. Matanya yang membara memandang tajam, tak berkedip.
“Zai,” aku mencoba menyapa, ramah. “Masih ingat dengan Abang?”
Belum ada reaksi. Ia tetap berdiri di tempatnya. Memandang tajam.
“Masih ingat Abang, Zai?” suaraku lagi.
Ia masih tetap tak berkedip memandangku. Tapi mata itu sudah tidak lagi menyala. Nyala api di matanya tampak meredup.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Kayu di tangannya dilepaskan. Setelah itu ia menghambur ke arahku. Memeluk tubuhku erat-erat.
“Bang Ar, kapan pulangnya? Kenapa tak bilang-bilang ke Zai? Bang, Zai mau ikut Abang. Mau ikut Abang,” katanya sambil menangis terisak-isak di dadaku.
Aku terperangah. Benar-benar terperangah. **
Yogya, menjelang Idul Fitri 1430 H
Catatan:
- Tari belian = tarian untuk penyembuhan
- Bomo = semacam dukun.

Dimuat: Harian “SUARA KARYA”, Sabtu, 24 Oktober 2009

Selasa, 20 Oktober 2009

Cerpen "Rahasia Lelaki"

Rahasia Lelaki

Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

KEGEMBIRAAN lelaki itu seketika lenyap, ketika anak lelakinya datang dan memperkenalkan perempuan muda yang menjadi calon isterinya. Kegembiraan yang sudah dipendamnya selama tiga hari tiga malam itu mendadak berubah drastis menjadi kegelisahan yang dahsyat. Kegelisahan itu bercampurbaur dengan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat.
Tiga hari lalu, pagi-pagi sekali anak lelakinya yang baru sebulan diwisuda menjadi sarjana komunikasi itu datang menemuinya di beranda rumah.
“Pak, saya mau menikah,” kata anak lelakinya dengan suara agak tergagap.
Lelaki itu terpana. Ia merasa tak yakin dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
“Bapak merestui kan kalau saya mau menikah?” lagi anak lelakinya bersuara.
“Kamu mau menikah? Apa telinga Bapak tidak salah dengar?” lelaki itu bertanya dengan keheranan yang masih mengental.
“Tidak, Pak. Bapak tidak salah dengar. Saya kepingin menikah. Untuk itu saya minta Bapak dan Ibu segera melamar gadis calon isteri saya itu ke orangtuanya.”
Isteri lelaki itu muncul di beranda. Pembicaraan menjadi berhenti seketika.
“Lagi membicarakan apa? Saya datang kok langsung diam?” tanya isterinya, curiga.
Mereka saling pandang. Anak lelakinya mencoba tersenyum. Tapi di balik senyum itu terlihat jelas ada ketegangan di wajahnya.
“Ada apa, tho?” suara isterinya tak sabar.
“Ini lho, anak lelakimu ini menyatakan keinginannya untuk menikah. Ia minta kita untuk melamar seorang gadis, calon isterinya itu,” lelaki itu berkata apa adanya.
“Menikah? Melamar?” gumam isterinya, seperti tak yakin.
“Ya, itu yang tadi dikatakan anak lelakimu ini.”
“Tapi yang mau dilamar itu siapa? Anak siapa? Dan tinggal di mana? Apa perempuan Yogya? Perempuan Solo? Perempuan Magelang? Atau perempuan dari Gunungkidul?” tanya beruntun dari isterinya.
“Nah, itu tadi yang ingin kutanyakan. Tapi keburu kamu datang, pertanyaannya jadi buyar.”
“Ayo, sekarang jelaskan, siapa gadis pilihanmu itu? Siapa orangtuanya? Dan di mana tinggalnya?” tanya isterinya ini ditujukan kepada anak lelakinya.
Dicecar pertanyaan seperti itu, anak lelakinya pun gugup.
“Ayo, cepat katakan. Biar semuanya jadi jelas.”
“Namanya …… namanya ….. Trisnani. Nama orangtuanya …….. wah …. saya masih belum jelas. Nantilah saya tanyakan. Tapi orangtuanya tinggal di Jakarta,” jawab anak lelakinya terbata-bata.
“Dan perempuan yang ingin kau lamar itu sekarang tinggalnya di mana? Di Jakarta atau di Yogya?”
“Dia kost di Yogya. Dia baru saja lulus D-3 Perhotelan.”
“Sudah berapa lama kau kenal dia?”
“Sekitar satu tahun. Tapi pacarannya ya baru enam bulanan ini.”
“Belum pernah diajak kemari?”
“Belum. Saya sengaja tidak pernah mengajaknya ke rumah dan mengenalkannya kepada Bapak dan Ibu, soalnya biar jadi kejutan.”
“Apakah niatmu ini sudah bulat?”
“Sudah.”
“Baiklah, nanti biar Bapak dan Ibu rundingkan dulu. Dan yang penting, ajak anak perempuan itu ke mari, kenalkan pada Bapak dan Ibu.”
“Baik, nanti tiga hari lagi dia saya kenalkan kepada Bapak dan Ibu.”
Malam hari, lelaki itu dan isterinya pun sibuk membicarakan keinginan anak lelakinya untuk menikah.
“Tentang keinginan anak kita itu, menurutmu bagaimana, Bu?” tanya lelaki itu ketika bersama isterinya sudah berada di atas tempat tidur.
“Ya, terserah Bapak saja.”
“Kalau menurutku, ya senang-senang saja kalau dia mau menikah. Mau punya isteri. Apalagi dia sudah sarjana. Dan terus terang, di usia-usia menjelang senja seperti ini aku memang sudah kepingin punya cucu. Kepingin momong cucu. Wah, betapa bahagianya kalau punya cucu.”
“Ah, melamar saja belum. Apalagi menikah. Kok, sudah menghayal momong cucu. Bapak ini mengada-ada saja.”
“Aku tidak mengada-ada, Bu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya akan terjadi nanti. Karenanya kita harus segera memenuhi keinginan anak kita itu, melamar calon isterinya. Melamar secepatnya. Biar cepat pula mereka menikah. Dan kemudian akan cepat pula kita punya cucu.”
“Tapi, anak kita itu kan belum bekerja, Pak. Bagaimana nanti ia mengurusi rumahtangganya?”
“Ah, soal bekerja itu soal nanti. Yang penting, aku ingin cepat-cepat punya cucu. Apalagi kita kan masih sanggup bila hanya membiayai kehidupan seorang menantu dan seorang cucu. Bahkan beberapa cucu pun masih sanggup.”
Tiga hari yang dijanjikan anak lelakinya pun tiba. Menjelang petang anak lelakinya datang bersama seorang perempuan muda. Perempuan muda itu cantik. Berkulit kuning langsat. Rambutnya tergerai ikal sebahu. Dan, ada lesung pipit di kedua pipinya.
Lelaki itu sudah tak sabar lagi untuk melihat wajah calon menantunya. Isterinya yang sedang berada di dapur langsung ditariknya menuju ke ruang tamu.
“Ayo Bu, calon menantu kita sudah datang,” serunya gembira sambil menarik lengan isterinya.
“Sabar dulu tho, Pak. Biarkan dia duduk dulu di ruang tamu.”
“Aku sudah tidak sabar untuk segera melihatnya, Bu.”
Begitu muncul di ruang tamu, lelaki itu terpana sesaat. Matanya nyaris tak berkedip sedikitpun. Perempuan muda yang dibawa anak lelakinya itu benar-benar cantik. Luar biasa! Dia benar-benar cantik! Betapa bangganya punya menantu secantik itu! Isterinya pun terpesona. Ada kegembiraan yang meledak-ledak dalam hatinya menyaksikan anak lelaki semata wayangnya itu begitu pandai memilih calon isteri.
“Pak …Bu…, kenalkan ini Trisnani yang saya ceritakan itu,” kata anak lelakinya memperkenalkan perempuan muda yang bersamanya.
Trisnani, perempuan cantik yang dibawa anaknya itupun mengulurkan tangan dengan sopan dan malu-malu. Lelaki itupun menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Isterinya juga melakukan hal yang sama.
Mereka lalu terlibat pembicaraan yang hangat dan menyenangkan.
“Orangtua Nak Trisnani tinggal di Jakarta?” lelaki itu mulai bertanya.
“Betul, Pak,” perempuan yang dikenalkan anaknya itu menjawab lembut.
“Boleh kami tahu, siapa nama orangtua Nak Trisnani?” lelaki itu bertanya lagi, untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga sang calon menantu.
“Nama ayah saya, Pramono. Lengkapnya, Pramono Sulistyo.”
“Oooo,” lelaki itu manggut-manggut. Juga isterinya.
“Kalau nama ibunya, siapa?” isteri lelaki itu ikut bertanya, ketika perempuan kekasih anaknya baru saja akan melanjutkan kata-katanya.
“Ibu saya, namanya Farida.”
“Siapa?” tanya lelaki itu untuk lebih meyakinkan lagi nama yang baru saja didengarnya.
“Farida, Pak. Lengkapnya Farida Utaminingsih.”
Lelaki itu tergetar. Nama yang diucapkan itu mengingatkannya pada seseorang. Pada seorang perempuan yang dulu sempat singgah dalam kehidupannya.
“Farida Utaminingsih?” tanpa sadar lelaki itu mengucapkannya, meski lirih.
“Betul. Dan waktu muda dulu, ibu saya lebih dikenal dengan nama Farida Santoso.”
Dada lelaki itu tak hanya tergetar, tapi tergoncang. Lelaki itu menahan napas, dan mencoba menahan getaran serta goncangan di dadanya.
“Ya, Farida Santoso. Santoso itu kakek saya, tapi sekarang sudah almarhum. Kakek saya itu orang Yogya, dan sekarang saya tinggal di rumah kakek.”
“Di mana?”
‘Di Kotagede.’
Getaran dan goncangan di dada lelaki itu semakin dahsyat. Tubuhnya terasa lemas dan berkeringat dingin. Tapi ia masih belum yakin sepenuhnya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia masih ingin bertanya. Bertanya lebih jelas lagi.
“Berapa usia Nak Trisnani sekarang?” lelaki itu bertanya lagi dengan harap-harap cemas.
“Duapuluh satu tahun, Pak. Saya lahir tahun 82.”
Dada lelaki itu seperti ditusuk tombak.
“Oh iya, saya ada membawa foto ibu saya, tapi fotonya waktu muda dulu, semasa masih di Yogya,” kata perempuan kekasih anaknya lagi sambil membuka dompet dan mengeluarkan sehelai foto, lalu menyerahkannya ke lelaki itu.
Tangan lelaki itu tergetar menerimanya. Dan, jantungnya seperti berhenti berdetak, takkala memandang sehelai foto perempuan yang ada di tangannya. Betapa tidak. Wajah di foto itu tak mungkin dilupakannya. Wajah itu, wajah yang pernah punya arti. Wajah yang dulu sempat menyelusup ke dalam hatinya. Wajah Farida Santoso. Wajah kekasih gelapnya kala itu.
Lelaki itu tak mampu bersuara lagi. Getaran dan goncangan di dadanya kian memuncak. Dadanya sesak. Kepalanya memberat, bagai dibebani bongkahan-bongkahan batu. Dan matanya mendadak berkunang-kunang.
Setelah meletakkan foto itu di meja, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mencoba bangkit dari duduk. Tapi tubuhnya limbung dan terhuyung-huyung.
“Eh ……..Pak, kenapa?” isterinya terkejut melihat lelaki itu nyaris terjatuh.
“Kepalaku mendadak pusing. Pusing sekali,” lelaki itu masih sempat berkata begini.
Lelaki itu dipapah, dibawa ke kamar oleh isteri dan anaknya. Sementara perempuan yang menjadi kekasih anaknya hanya bingung dan terheran-heran.
****
DI DALAM kamar, setelah ditinggal isteri dan anaknya keluar, lelaki itu berbaring dengan kegelisahan yang sulit dikendalikannya lagi. Kegelisahan itu begitu dahsyat. Begitu luar biasa. Seumur hidup belum pernah ia merasakan kegelisahan sedahsyat ini.
Ingatannya lalu melayang ke masa-masa duapuluh tahun lebih yang lalu. Ingatannya tertuju ke sebuah nama, Farida Santoso. Nama yang tadi disebutkan oleh kekasih anak lelakinya sebagai nama ibunya. Padahal, nama itu adalah nama kekasih gelapnya dulu. Nama pasangan selingkuhnya waktu itu.
Ia pun lalu ingat, suatu hari duapuluh satu tahun lalu, Farida Santoso datang menemui dan mengatakan dirinya hamil. Dan, iapun ingat, bagaimana terlukanya hati Farida waktu itu, karena ia mengatakan tidak bisa bertanggungjawab, karena sudah punya anak isteri. Untunglah Farida tidak terus mendesaknya, bahkan memilih membawa luka hatinya ke Jakarta.
“Kalau begitu, perempuan kekasih anakku itu pasti anakku juga. Pasti anak dari benihku yang dikandung Farida dulu, dan yang dibawanya pergi meninggalkan Yogya. Kalau begitu, ia tidak boleh jadi menantuku. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Ia adalah anakku juga,” deretan kata-kata ini menerjang keras di dalam dadanya.
Dan, ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk memberitahukan kepada anak lelakinya, juga kepada isterinya, tentang siapa Trisnani sebenarnya. Tapi ia tak kuasa melakukannya. Ia tidak punya keberanian untuk membuka rahasia kelam masa lalunya. Ia tak kuasa untuk membuat hati isterinya terluka. Mulutnya seakan terkatup rapat, tak bisa digerakkan.
Di dalam kamar, ia pun terkulai, tak berdaya.***
Yogya, 2003.

Senin, 05 Oktober 2009

Keris Melayu

Keris Melayu
Awalnya Dibuat Seorang Empu dari Jawa

KERIS pada masanya dulu merupakan senjata pendek yang paling terkenal. Bahkan di masanya dulu juga keris diyakini dipandang sebagai senjata pusaka yang memiliki kekuatan tertentu. Pada sebagian masyarakat di Nusantara, terutama di Jawa, juga sampai di Semenanjung Melayu, Malaysia, keyakinan itu masih tertanam hingga hari ini.
Sampai hari ini para ahli berpendapat bahwa keris berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Karena itulah sampai hari ini eksistensi keris masih sangat terjaga di Jawa, dan bagi masyarakat Jawa keris telah dipandang sebagai salah satu bentuk peninggalan budaya yang adiluhung. Sehingga keris tak bisa dipisahkan dengan perilaku dan aktivitas budaya masyarakat Jawa.
Bagaimana dengan masyarakat Melayu? Tak begitu jauh berbeda dengan masyarakat Jawa, sebagian masyarakat Melayu juga memandang bahwa keris merupakan salah satu peninggalan budaya yang sampai hari ini masih dihargai keberadaannya. Keris masih tetap dipandang sebagai bagian dari bentuk budaya yang sangat berharga, dan mendapat tempat yang istimewa. Karena itulah hingga hari ini masyarakat Melayu masih sangat mengenal apa yang disebut dengan Keris Melayu.
Di Semenanjung Melayu, Malaysia, misalnya. Seorang pakar dan pemerhati keris di Malaysia, Mohd Ramli Raman, dalam makalahnya tentang Keris Melayu Semenanjung yang pernah disampaikan dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Agustus tahun lalu (2008), mengatakan bahwa peranan keris dalam masyarakat Melayu begitu besar. Menurutnya, keris bukan hanya senjata tempur tetapi juga meliputi segala aspek kehidupan yakni antara yang terpenting sebagai regalia kekuasaan di tiga belas propinsi dan sebuah daerah nasional (sentral) yaitu Wilayah Persekutuan yang meliputi tiga bagian seperti Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan di Sabah (Pemerintah Pusat atau Kerajaan Persekutuan).
Ramli Raman yang pakar dari Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur ini sempat pula menguraikan bahwa pada setiap negeri di Malaysia mempunyai keris-keris kebesaran atau keris kerajaan (keris diraja). Keris kebesaran itu terdiri dari sebuah keris pendek, sebuah keris panjang (keris penyalang atau gabus ataupun disebut keris alang, juga dipanggil keris terapang). Keris-keris itu semuanya menjadi simbol kekuasaan Melayu. Dan, salah satu keris kerajaan yang sangat terkenal di Malaysia adalah keris Yang Dipertuan Agong.
Sejak kapan keris yang berasal dari Jawa itu kemudian bisa dimiliki juga oleh masyarakat Melayu? Bila meminjam pendapat Ramli Raman, akan terlihat jelas bahwa sejarah keris Melayu itu telah melalui liku perjalanan sejarah yang panjang. Seperti diakui oleh Ramli Raman, keris Melayu itu permulaannya berasal dari Tanah Jawa yakni sejak zaman kegemilangan Majapahit. Sejarah mencatat, seorang Empu (ahli pembuat keris) dari Jawa telah datang ke daerah Pattani (Thailand Selatan) sekitar penghujung abad ke 15 dan awal abad ke 16.
Pada awalnya dulu, Pattani merupakan wilayah kerajaan Melayu. Dari Pattani itulah, sang Empu yang kemudian dikenal dengan nama Empu Pandai Sarah (Pande Sarah) mengembangkan bentuk keris yang dibawanya dari Jawa. Empu Pandai Sarah memang seorang Empu yang sangat kreatif. Ia tidak terpaku pada keris dari tanah kelahirannya di Jawa. Ia membuat kreasi baru yang berbeda dengan keris di bumi kelahirannya. Bentuk keris yang dibuat Empu Pandai Sarah itulah yang hingga hari ini dikenal dengan sebutan keris Melayu. Bentuk keris yang awalnya dibuat oleh Empu Sarah itu pun kemudian melebar ke seluruh Tanah Melayu. Dan, nama Keris Pandai Sarah hingga hari ini masih sangat dikenal di Semenanjung Melayu.


Ragam Bentuk Keris Melayu
Sejak pertama kali dikenalkan oleh Empu Pandai Sarah, bentuk-bentuk keris Melayu pun terus berkembang dari masa ke masa. Seperti halnya di Jawa, keris Melayu pun penuh dengan nilai-nilai estetika. Seperti mempunyai dua belah mata, yang melebar di pangkal dan tirus di ujungnya serta tajam. Mata kerisnya lurus dan berlok-lok dengan keindahan pamor serta hulu yang indah dan menarik. Demikian pula sarung keris, juga penuh dengan nilai estetika.
Para pewaris Empu Pandai Sarah pun bermunculan. Salah seorang di antaranya Sang Guna, yang merupakan empu pertama di zaman Sultan Muhammad Syah Melaka. Sang Guna telah membuat keris tempa panjang, berukuran tiga jengkal.
Hulu keris Melayu berukuran sekitar 15 cm. Bentuknya membengkok di bagian tengahnya. Kebanyakan hulu keris Melayu diukir dengan ukiran tangan penuh nilai estetika Melayu. Hulu keris itu biasanya dibuat dari kayu atau akar pohon kayu seperti pohon kemuning, tegor, tempinis, petai belalang, lebang, kayu hitam dan lainnya. Selain dari kayu atau akar pohon, hulu keris Melayu juga ada yang dibuat dari gading gajah, tanduk, gigi ikan paus, emas, perak, besi dan lainnya.
Hulu keris Melayu juga punya berbagai nama, seperti hulu Anak Ayam Teleng, Anak Ayam Sejuk, Jawa Demam, Kakaktua, Tapak Kuda dan Pekaka. Kemudian motif ragam hias di hulu keris Melayu juga beraneka-macam seperti bermotifkan bunga timbul, awan larat, bunga tebuk, ketam guri, bentuk fauna dan lainnya.
Bilah keris Melayu juga penuh daya tarik. Keris Melayu mempunyai beragam bentuk dan ukuran. Sebagian besar keris Melayu memiliki jenis yang berlok, samada tiga, lima, tujuh atau sembilan dan lurus. Keris Melayu juga ada yang memiliki panjang sampai 61 cm, dan berlok sampai 29 lok. Di samping itu ada keris Melayu yang ujungnya seperti mata pedang. Keris jenis itu misalnya Keris Sundang.
Seperti halnya di Jawa, selain mempunyai beragam jenis dan bentuknya, keris Melayu juga mempunyai sejumlah nama. Nama-nama keris itu sesuai dengan bentuk dan kegunaannya, bahkan ada yang meyakini sesuai dengan ‘kekuatan’ yang ada di dalamnya. Perlu diketahui, keyakinan bahwa keris itu memiliki semacam ‘kekuatan’ atau ‘tuah’ tak hanya terdapat di masyarakat Jawa, tapi juga di kalangan masyarakat Melayu, baik di Semenanjung Melayu, Malaysia, maupun di ranah Nusantara Melayu lainnya.
Beragam nama keris Melayu, khususnya di Semenanjung Melayu, Malaysia, yang masih dikenal hingga hari ini di antaranya: Keris Sepukal, Keris Sempena, Keris Cerita, Keris Picit, Keris Tajung, Keris Sulok Belingkong (lok tiga), Keris Apit Liang (lok lima), Keris Jenoya (lok tujuh), Keris Rantai (lok hingga 21 lok), Keris Andus (23 sampai 29 lok), Keris Melela, Keris Tok Chu, Keris Beko, Keris Beko Debek, Keris lepeng Terengganu, Keris Tajung, Keris Pekaka dan Keris Coteng.
Bila dalam khasanah Melayu dikenal kata-kara masyhur yang dulu pernah diucapkan Laksamana Hang Tuah „Tak Kan Melayu Hilang di Bumi“, maka bagi kita di Bumi Nusantara ini yang ingin menjaga dan mempertahankan eksistensi keris sebagai warisan budaya adiluhung sudah sepantasnya juga kita menggelorakan semangat dan tekad „Tak Kan Keris Hilang di Bumi“. sutirman eka ardhana

Senin, 28 September 2009

Monumen Cinta

Monumen Cinta Itu Bernama Borobudur

DENGAN cinta Rakai Panangkaran atau Pancapana membangun Candi Borobudur. Dengan cinta ia persembahkan karya agung itu kepada Sang Maha Pecipta, kepada Sang Permaisuri terkasih, Dewi Tara, dan kepada segenap rakyatnya. Dengan cinta pula ia berusaha mensejahterakan rakyatnya. Dengan cinta ia membangun peradaban manusia. Dengan cinta ia membangun kejayaan negerinya. Dengan cinta ia memperkenalkan negeri dan bangsanya ke dunia.
Dengan cinta pula Rakau Balitung membangun Mantyasih (Meteseh). Dengan cinta, ia menjadikan daerah Mantyasih sebagai daerah perdikan. Dengan mata cinta, ia melihat jauh ke depan, bahwa Mantyasih nantinya akan menjadi suatu kawasan yang mempunyai arti sangat besar dan penting bagi kehidupan manusia. Dengan gelora cinta, ia minta rakyatnya untuk terus membangun dan membangun.
Cinta adalah cahaya kehidupan. Cinta adalah pelita peradaban. Karena cinta, kehidupan dan peradaban manusia terus berkembang dan mengalami kemajuan dari masa ke masa. Karena cinta manusia terus berlomba membangun jiwanya, membangun semangat, membangun diri dan membangun kehidupannya. Karena cinta manusia berpacu mencapai kemajuan, berpacu meraih prestasi, dan berpeacu menanamkan eksistensi.
Cinta adalah keindahan. Keindahan adalah cinta. Orang yang bijak berulangkali mengatakannya begitu. Memang begitulah kenyataannya. Cinta dan keindahan, dua hal yang tak bisa dipisahkan. Di masa ada cinta, pasti di situ ada keindahan. Di mana ada keindahan, di situ pula ada cinta.
Cinta dan keindahan, dua hal yang senantiasa bergelora dan bersenandung di dada Rakai Panangkaran. Cinta dan keindahan senantiasa bernyanyi di samudera hatinya. Cinta dan keindahan senantiasa membara dalam semangatnya untuk membangun. Cinta dan keindahan, dua hal yang sangat berperan dalam dibangunnya Candi Borobudur, yang kini menjadi candi kebanggaan Indonesia itu.
Konon, suatu petang, ketika matahari hampir tenggelam di balik perbukitan, Rakai Panangkaran sedang duduk memandangi keindahan alam di tepian telaga. Ketika itu ia sengaja ingin menyendiri, tanpa didampingi permaisuri, Dewi Tara. Hanya beberapa pengawal saja yang mengawasinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Semburat jingga dari matahari senja di balik bukit yang memantul di permukaan telaga begitu indahnya. Bunga teratai yang bermekaran di telaga itu pun bagaikan butiran-butiran mutiara yang disebarkan dari langit. Burung-burung yang beterbangan di atas telaga, melengkapi pesona keindahan itu. Rakai Panangkaran terpesona. Sangat terpesona.
Rakai Panangkaran melihatnya sebagai suatu keindahan yang tiada tara. Keindahan yang alami. Keindahan yang seakan tiada batasnya.Keindahan yang tidak seorang pun bisa memberikannya, kecuali Sang Maha Pencipta Penguasa Semesta. Rakai Panangkaran lalu menghaturkan puja dan sembahnya kepada Sang Maha Pencipta. Setelah itu mendadak ia teringat kepada permaisuri terkasihnya, Dewi Tara.
Dalam keheningan hatinya ketika itu, seketika muncul gagasannya untuk membangun sesuatu sebagai tanda cintanya kepada Sang Maha Pencipta, kepada sang permaisuri tercinta Dewi Tara, dan kepada rakyatnya. Ia lalu membayangkan sebuah bangunan indah dan megah, di tengah-tengah telaga. Ia tidak sekadar membayangkan. Tidak sekadar membangun gagasan. Gelora cinta di dadanya telah mewujudkan gagasannya itu menjadi kenyataan. Gelora cinta telah mewujudkan Candi Borobudur yang megah dan tersohor sampai ke belahan dunia mana pun hingga hari ini.
Saya bermalam-malam merenung, seandainya bisa menjaga serta terus menggelorakan semangat cinta dan keindahan yang ada di dada Rakai Panangkaran dan Rakai Balitung itu, betapa indahnya kota kita. Betapa nyamannya kawasan ini. Marilah, kita bangun kota dan kawasan ini dengan cinta dan keindahan.
sutirman eka ardhana

Darmogandhul

Darmogandhul
Pesan Islam dalam Pemahaman Jawa

SALAH satu karya sastra Jawa Klasik yang hingga hari ini masih menjadi bahan perbincangan atau bahkan perdebatan adalah Serat Darmogandhul. Karya sastra klasik yang ditulis oleh Ki Kalamwadi pada tahun 1830 Jawa ini berbentuk puisi yang sarat dengan ajaran kehidupan berdasarkan tasawuf Islam. Sebagai sebuah suluk atau ajaran kehidupan berdasar tasawuf Islam, tidak semua orang dengan mudah memahami serta mencerna pesan-pesan mulia tentang kehidupan di dalamnya.
Pesan-pesan kehidupan di dalam Darmogandhul ini dituangkan dalam bentuk paparan dialog antara Ki Kalamwadi (sang penulis) dengan seorang tokoh bernama Darmogandhul. Darmogandhul adalah seorang murid atau santri yang sedang mempelajari tentang Islam.
Dalam dialog-dialog itu Ki Kalamwadi menceritakan tentang kedatangan Islam di Jawa dan runtuhnya Majapahit. Diceritakan tentang permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, yang selalu membujuk sang Prabu untuk memeluk agama Islam. Karena kebetulan sang permaisuri yang berasal dari Campa itu beragama Islam. Bahkan ketika itu kemenakan sang permaisuri, yakni Sayid Rahmat, yang kemudian dikenal dengan Sunan Bonang, sudah tinggal di Jawa (di wilayah Majapahit).
Islam semakin berkembang di Majapahit, setelah Sayid Rahmat oleh Prabu Brawijaya diberi tanah di Tuban. Tak hanya diberi tanah atau wilayah, tapi juga diizinkan untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah sepanjang pantai utara Jawa. Wilayah penyebarannya dari Blambangan sampai Banten.
Setelah itu, salah seorang putera Prabu Brawijaya yang lahir di Palembang bernama Raden Patah dan beragama Islam, diberi tanah dan kekuasan di wilayah Demak dengan diangkat sebagai Bupati. Seperti halnya Sayid Rahmat, Raden Patah juga diberi izin atau kebebasan untuk menyebarkan Islam. Dengan posisi Raden Patah sebagai Bupati di Demak, syiar Islam pun semakin berkembang di Jawa atau di wilayah Majapahit.
Akan tetapi persoalan kemudian muncul ketika langkah Sunan Bonang untuk berdakwah Islam di Kediri ditentang oleh penguasa setempat Ki Buta Locaya. Merasa ditentang, Sunan Bonang lalu menghancurkan arca kuda berkepala dua yang terdapat di Desa Bogem, Kediri. Padahal arca itu merupakan buah karya dari Prabu Jayabaya.
Peristiwa perusakan itu dilaporkan Patih Gajah Mada kepada Prabu Brawijaya. Sang Prabu yang semula sudah memberikan kesempatan dan kebebasan Islam dikembangkan di wilayahnya menjadi murka. Prabu Brawijaya lalu memerintahkan Sunan Bonang dan pengikutnya (yang beragama Islam) untuk keluar dari wilayah Majapahit, kecuali Ngampelgading dan Demak. Artinya, pengikut Islam hanya boleh tinggal di wilayah Ngampelgading dan Demak saja.
Diuraikan juga di dalam Darmogandhul, kisah runtuhnya Majapahit setelah diserang tentara Demak. Ketika itu Demak diperintah oleh Raden Patah dibantu para Wali Sanga. Dalam penyerangan ke Majapahit, Mahapatih Gajah Mada yang terkenal itu tewas, tentara Majapahit porakporanda, dan Majapahit akhirnya dikuasai Demak. Prabu Brawijaya kemudian meninggalkan istana dan bersama pembantunya bersembunyi di suatu wilayah. Kemudian orang-orang Majapahit yang tinggal diperintahkan untuk memeluk agama Islam.

Dakwah yang Santun
Diuraikan juga tentang pertemuan Raden Patah dengan neneknya, Nyai Ngampeldenta, di Ngampeldenta. Sang nenek menyesalkan tindakan Raden Patah sebagai seorang anak yang telah menyerang kerajaan yang dipimpin ayahnya sendiri. Tindakan itu dinyatakan sebagai perbuatan yang tidak terpuji dan tak pantas dilakukan oleh seorang anak kepada ayahnya.
Raden Patah kemudian menyesali perbuatannya. Ia sangat bersedih. Dan, iapun kemudian meminta bantuan Sunan Kalijaga untuk mencari ayahnya, Prabu Brawijaya. Bila bertemu, ayahnya diminta untuk kembali ke Majapahit, memimpin kerajaan itu lagi. Usaha Sunan Kalijaga berhasil. Prabu Brawijaya ditemukan di Blambangan. Berkat dakwah yang santun dan rendah hati dari Sunan Kalijaga,Prabu Brawijaya bersedia pulang ke Majapahit. Sikap kecewa dan sakit hatinya terhadap Islam bisa terhapus. Bahkan ia sempat menyatakan kesediaannya untuk memeluk Islam dengan sepenuh hati.
Bila menyimak karya klasik ini dengan pikiran dan hati yang tersekat-sekat, memang ada beberapa bagian di dalam Serat Darmogandhul yang terasa mengganjal dan mengganggu. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan pemahaman Islam yang terbatas pula.
Tetapi terlepas dari semua itu, sesungguhnya Serat Darmogandhul sudah memberikan pelajaran kepada kita untuk ikhlas meminta maaf dan menyesali perbuatan yang dipandang salah. Dengan posisi apapun, misalnya apakah seorang Raja, penguasa, atau hanya rakyat jelata, untuk tidak segan-segan meminta maaf dan menyatakan penyesalannya bila merasa bersalah.
Kemudian Darmogandhul juga telah memberikan pelajaran tentang bagaimana sesungguhnya cara berdakwah atau memperkenalkan suatu paham (ajaran) agama ke suatu masyarakat yang masih merasa asing dengan paham baru tersebut. Murkanya Prabu Brawijaya karena ada arca yang dirusak, menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah jalan atau cara yang tepat. Tapi kelembutan, kebijaksanaan, dan cara penyampaian yang tepat, seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga kepada Prabu Brawijaya, sehingga ia tertarik kepada Islam, merupakan langkah yang pantas dilakukan.
Di dalam Serat Darmogandhul juga diceritakan tentang penolakan para punakawan Prabu Brawijaya, Sapdopalon dan Noyogenggong, terhadap Islam, dan kemudian kekecewaan keduanya kepada Prabu Brawijaya yang tertarik kepada Islam dan tidak melestarikan agama yang dianut para pendahulunya,yakni Buddha.
Bagian ini jelas memberikan pelajaran kepada kita untuk senantiasa menghargai perbedaan pendapat. Di dalam kehidupan, perbedaan pendapat antara satu sama lainnya adalah sesuatu yang wajar. Dan, bila itu terjadi maka perbedaan itu haruslah disikapi dengan bijaksana dan hati yang jernih. Karena setiap manusia bebas berpendapat dan menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Demikianlah, Darmogandhul yang banyak dipersoalkan dan dipandang kontroversial itu sesungguhnya sarat dengan ajaran-ajaran mulia tentang kehidupan atau pesan-pesan Islam dalam cara pandang dan pemahaman Jawa.
sutirman eka ardhana

Sabtu, 26 September 2009

Bedhaya Ketawang, Lambang Cinta
Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul

ISTANA-istana kerajaan di Jawa, terutama Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai “pusatnya budaya Jawa”, kaya akan kesenian-kesenian klasik dan tradisional. Di lingkungan Keraton Surakarta, salah satu tarian klasik itu adalah tarian Bedhaya Ketawang. Tarian yang hampir sama terdapat di Keraton Yogyakarta yakni tarian Bedhaya Semang.
Tari Bedhaya Ketawang tidak hanya sekadar tarian klasik atau tarian tradisional yang mempunyai nilai budaya yang adiluhung. Tapi tarian ini juga merupakan tarian sakral yang sarat dengan nuansa mistis. Banyak yang meyakini, munculnya suasana mistis dalam tari Bedhaya Ketawang itu dikarenakan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul, sang penguasa kerajaan gaib Laut Selatan telah ikut serta menari.
Kenapa Nyi Roro Kidul ikut serta menari bersama penari-penari Bedhaya Ketawang lainnya itu? Kisah keikutsertaan Nyi Roro Kidul, yang oleh sebagian masyarakat Jawa di Surakarta dan Yogyakarta serta kawasan pantai selatan Jawa lainnya diyakini sebagai penguasa gaib di Laut Selatan itu, tidak terlepas dari sejarah awal mula terciptanya tari Bedhaya Ketawang tersebut.
Di dalam kitab Wedhapradangga diuraikan jelas bahwa tarian Bedhaya Ketawang itu merupakan karya agung dari Sultan Agung yang memerintah Kerajaan Mataram, yang beribukota di Kotagede, Yogyakarta, sejak 1613 sampai 1645. Sultan Agung tidak sendirian dalam mencipta tarian tersebut. Nyi Roro Kidul yang diyakini memiliki hubungan batin sangat dekat dengan Sultan Agung ikut membantunya. Bahkan diyakini pula, bila tari Bedhaya Ketawang merupakan lambang atau gambaran dari kisah kasih antara Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul, kisah percintaan yang abadi antara Raja Mataram dengan Ratu Laut Selatan.
Gendhing Ketawang yang digunakan untuk mengiringi tarian Bedhaya Ketawang itu pun sarat dengan nuansa mistis. Alunan gendhingnya seakan membawa setiap orang yang mendengarnya masuk ke dalam dunia yang penuh kegaiban. Hal itu dikarenakan para pakar gamelan Keraton yang diminta bantuannya oleh Sultan Agung, telah membuat gendhingnya dengan laku spiritual yang tinggi.

Sembilan Gadis Suci
Sebagai tarian klasik yang disakralkan, tari Bedhaya Ketawang tidak seperti tarian-tarian klasik lainnya yang bisa ditarikan dalam setiap saat atau setiap upacara. Tari Bedhaya Ketawang hanya boleh ditarikan pada saat paling istimewa di dalam Keraton yakni penobatan Raja (Susuhunan) serta peringatan penobatan raja atau jumenengan. Dengan demikian, dalam setahun tari Bedhaya Ketawang hanya akan ditarikan sekali saja.
Tari Bedhaya Ketawang ditarikan oleh sembilan penari perempuan. Penarinya pun harus benar-benar pilihan. Tidak sembarang perempuan boleh menarikannya. Para penarinya harus berstatus gadis dan harus benar-benar berstatus suci, tidak hanya dalam pengertian masih berstatus perawan, tapi juga pada saat menarikannya harus dalam kondisi terbebas dari haid.
Kesakralan tari Bedhaya Ketawang ini juga sudah terlihat sejak proses persiapannya. Misalnya, sebelum dipentaskan atau ditarikan, para penarinya terlebih dulu harus menjalankan puasa selama beberapa hari. Tidak itu saja. Proses latihannya juga tidak boleh dilakukan setiap hari. Ada hari-hari tertentu yang boleh digunakan untuk latihan, yakni hanya pada hari Senin Wage dan Selasa Kliwon. Waktu latihannya pun hanya boleh dilaksanakan pada malam hari.
Pentas tari Bedhaya Ketawang juga dipenuhi sejumlah sesaji. Sesaji yang sangat penting dan harus selalu ada pada setiap pentas tari Bedhaya Ketawang adalah tersedianya seperangkat busana dan peralatan kecantikan perempuan yang ditaruh secara khusus dan tertata rapi di dalam sejumlah nampan. Seperangkat busana dan alat-alat kecantikan itu disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul.
Konon, penonton yang mempunyai mata gaib atau daya linuwih tinggi akan dapat melihat saat Nyi Roro Kidul datang ke arena tarian dan berganti pakaian dengan mengenakan busana serta peralatan kecantikan yang disediakan dalam sesaji. Setelah mengenakan busana tersebut, Nyi Roro Kidul lalu masuk ke tengah-tengah arena menari dan ikut menari bersama sembilan gadis penari lainnya.
Pada saat bersamaan dengan masuknya Nyi Roro Kidul ke arena tarian, gerak tari para penari pun semakin terlihat indah, gemulai dan mempesona. Mata pengunjung atau penonton yang menyaksikan tarian itu seperti enggan untuk berkedip barang sesaat pun. Tarian Bedhaya Ketawang itu pun seperti penuh magnet yang telah menghipnotis mata para penontonnya. Suasana yang sakral dan mistis pun benar-benar terasa.
Ketika tari Bedhaya Ketawang ditarikan di Keraton Surakarta pada penobatan KGPH Hangabehi sebagai Sri Susuhunan Paku Buwono XIII, September 2004 lalu, banyak tamu atau pengunjung yang terkagum-kagum dengan kelemah-gemulaian para penarinya. Sejumlah pengunjung meyakini, kelemah-gemulaian para penari Bedhaya Ketawang itu dikarenakan pengaruh pesona dari Nyi Roro Kidul yang telah ikut menari bersama.
sutirman eka ardhana

Rabu, 23 September 2009

Zaman Edan

Zaman Edan

DALAM beberapa tahun terakhir ini kita terlalu sering mendengar dan membaca tentang apa yang disebut sebagai "zaman edan". "Sekarang kita sedang berada di zaman edan. Di zaman yang serba tidak menentu. Di zaman yang sulit, zaman penuh angkara murka dan kesewenang-wenangan," demikian antara lain rentetan kalimat tentang zaman edan yang sering muncul dan diucapkan oleh sejumlah orang, baik yang tokoh kasepuhan, atau memiliki kemampuan daya linuwih, maupun hanya yang sekadar bisa bicara saja..Berbagai contoh peristiwa yang terjadi dan dialami bangsa ini sekarang memang cukup beralasan untuk menyebutkan bahwa kita kini sedang berada di zaman edan atau menuju ke zaman kehancuran. Bangsa ini memang seakan sedang menjalani kehidupan di zaman edan dan zaman yang terkutuk. Cobalah lihat, betapa kehancuran peradaban itu kini sedang menimpa negeri kita. Kita saling bunuh satu sama lain, aksi-aksi teror dengan ledakan bom dan lainnya terjadi di sejumlah tempat, saling bacok, saling melukai, juga saling menganiaya. Kerusuhan dan kebringasan sepertinya sedang menjadi bagian dari kehidupan kita. Bencana pun selalu bermunculan. Dari tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, luapan Lumpur, dan banyak lainnya lagi.Perihal zaman edan "jauh-jauh hari" memang sudah dilontarkan oleh pujangga R Ng Ronggowarsito dalam beberapa karyanya, di antaranya dalam salah satu karya terkenalnya, "Serat Kalatidha".Budayawan H Karkono Partokusumo dalam buku "Zaman Edan – Pembahasan Serat Kalatidha Ranggawarsitan (Proyek Javanologi, 1983) menyebutkan istilah "zaman edan" terdapat di dalam Serat Kalatidha yang berisikan 12 bait tembang sinom.Berbicara soal zaman edan, ada dua bait Serat Kalatidha yang menarik untuk dibaca dan direnungkan, yakni bait pertama dan bait ketujuh.
Bait pertamanya berbunyi :Mangkya darajating praja, kasuryan wus sunya ruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, ponang paramengkawi, kawilating tyas malatkung, kongas kasudranira, tidhem tandhaning dumadi, hardoyengrat dening karoban rubeda.
(Terjemahannya: Sekarang martabat negara, tampak telah sunyi sepi, (sebab) rusak pelaksanaan peraturannya, karena tanpa teladan, maka sang pujangga diliputi oleh kesedihan hati, merasa tampak kehinaannya, bagaikan kehilangan tanda-tanda kehidupannya, karena ia mengetahui kesengsaraan dunia yang tergenang oleh berbagai kalangan.)
Bait ketujuh berbunyi:Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah karsa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada. (Terjemahannya: Mengalami zaman edan, serba sulit dalam pemikiran, ikut menggila tak tahan, kalau tidak iku tidak mendapat bagian, akhirnya kelaparan, takdir karena Allah, untung-untungnya yang lupa, lebih beruntung yang ingat dan waspada.)
Apa yang ditulis Ronggowarsito dalam bait pertama dan ketujuh Serat Kalatidha itu memang sedang terjadi sekarang ini. Kini, negara dan pemerintahan memang sudah kehilangan martabatnya. Korupsi merajalela, dan sulit terberantaskan, sekalipun ada lembaga yang paling berwenang untuk memberantasnya seperti KPK. Tindak kriminalitas tak pernah reda. Para elit politik dan elit kekuasaan sering saling hujat, saling mencemooh dan saling jelek-menjelekkan. Tampaknya para elit sudah tidak lagi bisa membedakan antara kritik dengan hujatan dan cacimaki.
sutirman eka ardhana

Selasa, 22 September 2009

Seksualitas Jawa

Seksualitas Jawa di Dalam Serat Centhini


SERAT Centhini merupakan karya sastra lama Jawa yang hingga hari ini tetap menjadi rujukan, setiap kali kita ingin berbincang-bincang atau berdiskusi tentang sejarah panjang perjalanan dan eksistensi budaya Jawa. Ketika akan 'membahas' perilaku sosial dan budaya Jawa, para pakar sepertinya tidak merasa lengkap bila tidak menyimak Serat Centhini terlebih dulu.

Hal itu dikarenakan Serat Chentini yang merupakan karya gubahan Mangkunegaran IV pada abad 19 itu, merupakan karya sastra Jawa yang sangat lengkap menyajikan beragam hal yang berhubungan dengan tatanan, kebutuhan, perilaku, sikap dan budaya masyarakat Jawa.

Di zamannya, Serat Centhini termasuk dalam karya tulisan yang berani dan mengungkap persoalan secara gamblang serta apa adanya. Menariknya lagi, penulis atau penggubahnya adalah seorang bangsawan yang terhormat di Pura Mangkunegaran, Solo.

Persoalan seks yang sangat pribadi pun diungkap secara terbuka, dan tanpa basa-basi di dalam Serat Centhini. Hebatnya lagi, persoalan seks yang diungkap tak sebatas yang ada pada kehidupan masyarakat kecil atau rakyat jelata, tapi juga yang terjadi di lingkungan istana atau para bangsawan di keraton Jawa.

Ketika berbicara tentang seks tradisional Jawa, Serat Centhini itu juga telah mengungkapkan tentang 'penyalahgunaan' seks, dari perselingkuhan atau skandal seks sampai ke prostitusi.

Benedict Anderson, pengamat masalah-masalah Jawa, di dalam bukunya Professional Dreams: Reflections on Two Javanese Classics, mengakui kehebatan Serat Centhini yang dengan berani dan apa adanya mengungkap perilaku seks di kalangan bangsawan keraton di Jawa. Misalnya, skandal atau hubungan seks antara seorang adipati dengan perempuan biasa dari desa.

Menyinggung soal pelacuran atau prostitusi, Serat Centhini pun mengungkapkannya secara lugas dan terbuka. Selain mengungkapkan riwayat munculnya pelacuran di Jawa, juga diuraikan beragam teknik bercinta para pelacur dalam melayani dan memuaskan lelaki pasangannya.

Teknik-teknik bercinta itu tentu dimaksudkan agar para lelaki pasangannya merasa puas dan senang berhubungan seks dengan perempuan yang menjajakan dirinya tersebut. Diuraikan juga, dengan teknik-teknik bercinta yang dikuasainya, perempuan yang berprofesi sebagai pelacur itu mampu melayani atau berhubungan seks dengan lebih dari satu lelaki. Bahkan sampai beberapa lelaki.

Sejarah pelacuran di Yogyakarta juga diungkapkan di Serat Centhini tersebut. Mungkin kita tak percaya, jika di dekat lokasi makam raja-raja Mataram di Imogiri dulu pernah ada lokasi 'bisnis seks' atau tempat perempuan-perempuan menyediakan dirinya untuk jasa pelayanan seks. Rasanya, Sri Mangkunegaran IV yang menulis Serat Centhini tidak akan mungkin berbohong dan mengada-ada dengan menyebutkan bahwa di dekat makam-makam raja di Imogiri itu ada tempat pelacuran.

Para pemikir atau intelektual Jawa di zamannya dulu memang sudah menanam keyakinan bahwa seks merupakan salah satu bagian dari budaya kehidupan manusia. Seks adalah sesuatu yang logis dan alamiah. Sejak dulu juga, para pemikir Jawa sudah memandang dan berpendapat bahwa seks atau seni bercinta sebagai bagian dari harmoni kehidupan manusia yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Karena itulah banyak para pemikir atau intelektual Jawa di masa lalu yang menulis 'beragam pengetahuan dan persoalan' tentang seks. Serat Centhini merupakan salah satu di antaranya. Kemudian pemberian pemahaman tentang seks juga terdapat di dalam Serat Gatoloco dan Serat Dharmogandhul.

Di masa kini, kita terkadang gamang untuk berbicara tentang seks, apalagi sampai menulisnya secara lugas, gamblang dan terbuka. Kita khawatir dituding tak tahu diri, atau sengaja menyebarluaskan pemahaman tentang seks, yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang tabu. Kenapa kita tidak belajar atau bercermin terhadap apa yang dilakukan para pemikir Jawa di masa lalu, misalnya kepada Sri Mangkunegaran IV yang menulis Serat Centhini, yang sudah sejak jauh-jauh hari berpendapat bahwa persoalan seks bukanlah hanya persoalan di dalam kamar. Tetapi seks adalah persoalan kehidupan. Persoalan kemanusiaan. Dengan memahami seks, kita akan menghargai kehidupan.

sutirman eka ardhana

Serat Sabda Tama Petunjuk Utama Kehidupan

Serat Sabda Tama

Petunjuk Utama Kehidupan

BAGI masyarakat Jawa, Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito adalah seorang sastrawan dan pujangga besar, yang karya-karyanya hingga hari ini masih tetap dikagumi, bahkan dipercaya kebenaran kandungan isinya.

Sepanjang hidupnya (1802 – 1873 M), pujangga yang hidup pada masa kejayaan Keraton Surakarta tersebut telah menghasilkan puluhan karya atau serat bernilai dan berestetika tinggi. Karya-karyanya itu sampai hari ini diakui sebagai 'warisan ajaran kehidupan yang sangat berharga'.

Cobalah simak salah satu karya besarnya yang berjudul "Serat Sabda Tama". Bait demi bait di dalam Serat Sabda Tama ini syarat dengan petunjuk dan petuah dalam menjalani kehidupan, agar manusia tidak tergelincir dan masuk ke dalam kubangan kehidupan yang salah. "Sabda" berarti ucapan, petunjuk atau juga petuah. Sedang "Tama" berarti utama, berharga, dan penting. Jadi "Sabda Utama" bisa diartikan sebagai ucapan atau petunjuk yang utama.

Beberapa bait dari terjemahan Serat Sabda Tama ini membuktikan semua itu.

Diharap semuanya maklum bahwa di zaman Kala Bendu

sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan

kepada kesulitan.

Hasilnya hanya perbuatan buruk.

Zaman Kala Bendu adalah zaman serba tak menentu, zaman yang penuh kesulitan. Karenanya, di zaman yang seperti ini siapapun juga sebaiknya berusaha mengurangi hawa nafsunya dalam mengejar hal-hal sifatnya hanya untuk keuntungan pribadi tapi merugikan orang lain. Para pemimpin, para pejabat, para politikus, apalagi wakil-wakil rakyat di parlemen, tak hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarganya, kelompok atau partainya saja, tapi juga memikirkan nasib rakyat secara menyeluruh.

Sebaiknya selalu berbuat untuk hal-hal yang baik.

Bisa memberi perlindungan kepada siapapun juga.

Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,

melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

Siapapun juga, tak peduli apa statusnya, bisa pejabat, eksekutif, anggota legislatif, politikus, pedagang, atau hanya rakyat biasa, semestinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari haruslah tetap berkomitmen untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan bersama. Yang kuat bisa melindungi yang lemah. Yang kaya bisa membantu yang miskin. Dan, pemerintah atau aparat negara, sesuai tugasnya yang diatur Undang-undang haruslah dapat memberikan perlindungan dan pengayoman kepada rakyat. Bukan justru sebaliknya, melakukan hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Hal ini berbeda dengan yang ngaji pumpung.

Hilang kewaspadaannya dan kesulitan yang selalu dijumpai,

selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.

Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.

Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun

mempercayainya.

Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

Akan tetapi bagi siapa saja yang dalam kehidupannya sehari-hari menerapkan perilaku 'aji mumpung', perilaku memanfaatkan kesempatan dan kedudukan, melakukan hal-hal yang memanfaatkan kedudukan, kewenangan dan kekuasaan, maka kehidupannya akan selalu kacau, tak pernah tenang dan tenteram, dan penuh kebohongan. Akibatnya, hari-harinya pun akan dilalui dengan perbuatan-perbuatan yang merugikan dan justru bisa berbahaya bagi kehidupannya nanti. Dan, ketika perilakunya nanti diketahui, maka akan jatuhlah martabat dan kehormatannya. Orang-orang pun tak lagi mau mendengar kata-katanya, karena dianggap hanya penuh kebohongan.

Azabnya zaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.

Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.

Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

Bila manusia tak kunjung memperbaiki perilaku hidupnya, maka di zaman Kala Bendu yang penuh kesulitan itu justru akan bertambah menyiksa. Tak hanya itu, perbuatan angkara murka dan kesewenang-wenangan semakin merajalela. Dan, perbuatan-perbuatan baik pun nyaris tak terlihat. Bahkan, kadang kala sulit membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang jahat. Itu semua terjadi karena perilaku jahat atau buruk telah mendominasi tingkah laku manusia.

Empat bait dari 21 bait Serat Sabda Tama ini sudah cukup memberikan gambaran betapa karya besar Ronggowarsito ini syarat dengan petunjuk atau petuah berharga untuk siapapun bila ingin berhasil dan berarti dalam kehidupan. Berarti tidak saja bagi kehidupannya sendiri, tapi juga berarti bagi kehidupan orang lain. Kehidupan lahiriah dan batiniah. Kehidupan yang lebih luas dan mensemesta. sutirman eka ardhana

Senin, 21 September 2009

“Arjuna Wiwaha” dan “Kresnayana”

“Arjuna Wiwaha” dan “Kresnayana”

tak Sekadar Berkisah Tentang Cinta

KHASANAH kepenulisan di negeri ini sesungguhnya sudah berusia panjang. Jauh sebelum era modern menyentuh dan merasuki kebudayaan di bumi Nusantara, dunia kepenulisan sudah tumbuh dan berkembang. Bahkan, tak berlebihan untuk menyebutkan bahwa dunia kepenulisan di negeri ini, terutama di Jawa, muncul beriringan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk-bentuk kebudayaan itu sendiri.

Masa kejayaan Kerajaan Kediri yang berlangsung sejak tahun 928, diakui sebagai masa-masa suburnya dunia kepenulisan Jawa kuno. Di masa ini dunia kepenulisan benar-benar telah mendapat tempat yang terhormat. Para raja yang berkuasa di Kediri, dari masa ke masa, senantiasa memberikan ruang kreativitas yang luas. Dan, karya-karya yang dihasilkan para pujangga itu telah dijadikan rujukan atau referensi bagi tatanan kehidupan.

Setidaknya ada duapuluh karya buku atau kitab yang populer di masa Kerajaan Kediri. Keduapuluh buku atau kitab karya para pujangga kenamaan Kediri masa itu meliputi buku Agastya Parwa, Adi Parwa, Asramawasana Parwa, Bisma Parwa, Kunjarakarna, Prasthanika Parwa, Mosala Parwa, Swargarohana Parwa, Sabha Parwa, Udyoga Parwa, Uttara Kanda, Wirata Parwa, Arjuna Wiwaha, Sumanasantaka, Kresnayana, Smaradhana, Bhomakarya, Bharatayuda, Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Di samping ke-20 buku atau kitab yang populer ini masih terdapat banyak karya buku lainnya.

Seni wayang atau pewayangan merupakan bentuk kesenian yang populer dan terhormat di masa itu. Bentuk kesenian wayang ini tumbuh terhormat di dalam lingkungan istana dan berkembang luas di masyarakat. Kepopuleran seni wayang itu pun telah mempengaruhi dunia kepenulisan. Dalam berkarya para pujangga atau penulis masa itu tidak bisa lepas dari seni wayang dengan beragam kisah serta nilai-nilai filsafat kehidupan di dalamnya. Karena itu keduapuluh buku atau kitab tersebut seluruhnya berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia wayang.

Di masa jayanya, Kerajaan Kediri memiliki puluhan pujangga yang menulis karya-karya terkemuka. Tapi di antara sekian banyak pujangga atau penulis itu, hanya beberapa nama saja yang namanya dikenal hingga kini. Di antaranya Empu Kanwa, Empu Triguna, Empu Manoguna, Empu Dharmaja, Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Arjuna Wiwaha

Salah satu buku atau kitab karya Empu Kanwa yang sangat populer di zamannya adalah “Arjuna Wiwaha”. Buku ini berisi tentang kisah cinta yang penuh tantangan dan ujian antara Arjuna dengan Dewi Supraba. Di dalam buku berbentuk tembang yang ditulis semasa Kediri diperintah Prabu Airlangga (1019-1042) ini terurai bagaimana jalinan kidan cinta Arjuna dengan Dewi Supraba itu tidak berlangsung dengan mudah.

Untuk mempersunting Dewi Supraba, Arjuna harus terlebih dulu menjalani laku topo atau bertapa terlebih dulu di puncak Gunung Indrakila. Untuk menuju ke puncak Gunung Indrakila saja bukanlah hal yang mudah. Kemudian ketika bertapa pun beragam godaan berdatangan. Godaan-godaan itu tentu saja untuk menggagalkan kekhusukan Arjuna dalam bersemedi. Bila Arjuna berhasil dikalahkan atau terpengaruh dengan godaan-godaan itu maka semedinya pun gagal. Jika gagal dalam bersemedi, maka sudah dapat dipastikan niatnya untuk mempersunting Dewi Supraba pun tidak kesampaian.

Arjuna berhasil melawan godaan-godaan itu, sehingga ia berhasil menyelesaikan semedinya. Akan tetapi ujian baginya belum berakhir di situ. Ujian berikutnya adalah tantangan dari Prabu Nirwatakawaca, raja raksasa yang terkenal sakti mandraguna. Tapi Arjuna pantang menyerah. Cinta telah membakar semangatnya untuk mengalahkan sang raja raksasa itu. Cinta telah menumbuhkan kekuatan yang maha dahsyat dalam dirinya. Kekuatan itu telah mampu mengalahkan Prabu Nirwatakawaca yang kesaktiannya sangat ditakuti di dalam jagad pewayangan.

Buku atau kitab karya Empu Kanwa ini tak sekadar berkisah tentang kisah percintaan Arjuna dengan Dewi Supraba. Tapi kitab ini telah menguraikan serangkaian pedoman kehidupan yang semestinya dijadikan pedoman atau pegangan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Arjuna Wiwaha telah memberikan pelajaran kehidupan yang sangat berharga, bahwa hidup adalah sesuatu yang penuh tantangan. Keberhasilan dalam hidup adalah keberhasilan dalam mengalahkan tantangan itu.

Kresnayana

Kisah cinta dari dulu hingga kini selalu menjadi sumber inspirasi bagi para pujangga atau penulis dalam berkarya. Demikian pula dalam karya-karya Jawa kuno, tidak sedikit yang bersumber atau terinspirasi dari kisan-kisah percintaan.

“Kresnayana” yang merupakan karya Empu Triguna berbentuk tembang ini seperti halnya “Arjuna Wiwaha” juga berkisah tentang kisah cinta. Buku atau kitab yang ditulis di masa akhir kekuasaan Prabu Warsajaya (1104) di Kerajaan Kediri ini berkisah tentang kisah percintaan yang penuh liku antara Dewi Rukmini dengan Prabu Kresna.

Dikisahkan di buku ini, Prabu Bismaka yang merupakan raja di Kerajaan Kundina menjodohkan puterinya, Dewi Rukmini, dengan Prabu Suniti, raja Kerajaan Cedi. Tanpa terlebih dulu meminta persetujuan puterinya, Dewi Rukmini, dan juga isterinya, Dewi Pretukirti, Prabu Bismaka langsung menyelenggarakan acara pertunangan.

Dewi Rukmini sesungguhnya tidak menyetujui langkah ayahnya itu. Karena ia sudah punya pilihan hati sendiri, yakni Prabu Kresna. Pilihan Dewi Rukmini ternyata mendapat dukungan ibunya, Dewi Pretukirti. Lantas kedua ibu dan anak ini pun menyusun rencana untuk menggagalkan rencana sang ayah.

Walaupun mendapat penolakan, Prabu Bismaka tetap bertekad melaksanakan niatnya untuk menyelenggarakan acara pernikahan puterinya dengan Prabu Suniti. Acara perkawinan yang megah dan meriah pun disiapkan. Segenap kawula istana disibukkan dengan aktivitas mempersiapkan perhelatan akbar tersebut.

Tetapi ketika perhelatan besar itu akan dimulai, dan rombongan mempelai lelaki, Prabu Suniti sudah hampir sampai di gerbang istana, kegemparan pun terjadi. Sang mempelai perempuan, Dewi Rukmini mendadak lenyap dari dalam Keputren. Ternyata, sebelum semuanya sempat terjadi, Prabu Kresna terlebih dulu melakukan aksinya. Dengan bantuan Dewi Pretukirti dan Dewi Rukmini sendiri, Prabu Kresna menyelinap ke dalam Keputren dan kemudian membawa lari sang puteri.

Pesan apa yang sesungguhnya disampaikan Empu Triguna lewat “Kresnayana”? Secara sederhana saja, kitab ini memberikan pesan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Kekuasaan yang seperti apa pun kuat dan kokohnya, tak akan dapat mengalahkan atau merobohkan benteng cinta yang tulus dan suci. Selain itu, tindakan memaksakan kehendak bukanlah sesuatu yang bijak. Memaksakan kehendak adalah tindakan yang tak terpuji. Para orangtua seharusnya menghormati hak dan pilihan anaknya. Memaksakan keinginan kepada anak, bisa jadi memunculkan sikap perlawanan dari sang anak itu sendiri.

sutirman eka ardhana

Kunjarakarna

“Kunjarakarna” Uraikan Siksaan di Neraka

SALAH satu buku atau kitab Jawa kuno yang populer di zamannya adalah kitab “Kunjarakarna”. Kitab yang ditulis dalam bentuk kakawin atau tembang ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri diperintah oleh Dharmawangsa (991 – 1016). Seperti banyak buku atau kitab Jawa kuno lainnya di masa itu, di kitab ini tidak diketahui siapa nama sang pujangga atau penulisnya. Sang pujangga hanya menyebut dirinya sebagai “kadi ngwang adusun”, yang artinya pujangga atau penulis dari dusun.
“Kunjarakarna” buah karya pujangga yang rendah hati itu di masanya tentu layak dikategorikan sebagai sebuah karya buku yang spektakuler. Betapa tidak. Buku atau kitab ini, berbeda dengan kebanyakan kitab karya lainnya. Kitab ini membahas dan menguraikan tentang “apa dan bagaimana’ dengan neraka.
Di dalam ajaran-ajaran agama selalu ditemukan kata-kata tentang sorga dan neraka. Sorga adalah tempat untuk manusia yang semasa hidupnya selalu beriman dan patuh dengan ajaran-ajaran agamanya. Sedangkan neraka adalah sebaliknya. Neraka dikhususkan untuk manusia yang tidak beriman dan menolak kebenaran ajaran agama Allah.
Dengan kata lain, sorga adalah suatu tempat yang paling menyenangkan dan penuh keindahan. Sementara neraka adalah tempat yang paling tidak menyenangkan, sangat menyakitkan, tempat menjalani siksaan atau hukuman bagi orang-orang yang semasa hidupnya selalu berbuat kejahatan, mengingkari agama dan lain-lainnya yang serba buruk.
Neraka yang mengerikan, menakutkan, dan tempatnya menjalani siksaan, atau tempatnya Tuhan memberikan hukuman kepada orang-orang yang semasa hidupnya tak pernah mengindahkan ajaran-ajaran agama itulah yang diuraikan di dalam kitab “Kunjarakarna”.
Imajinasi sang pujangga atau penulis kitab ini memang sungguh luar biasa. Ia telah membawa pikiran, jiwa dan rasa segenap pembaca kitab ini ‘melesat jauh’ untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya ‘alam neraka’ yang sangat mengerikan dan penuh siksaan itu. Para pembaca di masa itu telah dibawa oleh sang pujangga untuk menyelusup se dalam-dalamnya ke ‘alam neraka’, guna mengetahui bagaimana sesungguhnya yang ada dan terjadi di sana. Misalnya, ragam atau bentuk siksaan apa saja yang ada, dan kenapa siksaan-siksaan yang mengerikan dan sangat pedih itu diberikan.

Membersihkan Diri
Seperti kebanyakan kitab Jawa kuno lainnya di masa itu, “Kunjarakarna” juga berangkat dari latar belakang cerita dunia pewayangan. Dikisahkan oleh sang pujangga, tentang kisah perjalanan raksasa Kunjarakarna yang ingin merubah dirinya menjadi manusia.
Perubahan jati diri raksana menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh Kunjarakarna itu ternyata tidaklah mudah. Sesakti apa pun atau sehebat apa pun ilmu yang dimiliki Kunjarakarna, tapi untuk merubah dirinya agar bisa menjadi manusia biasa bukanlah sesuatu yang mudah.
Tapi sebagai raksasa yang sudah bertekad bulat untuk meninggalkan kehidupannya sebagai raksasa, Kunjarakarna tak pernah putus asa. Ia pun lalu bergegas menemui Sang Bhatara Wairocana yang berada di kayangan. Di hadapan Bhatara Wairocana, sambil terisak-isak menangis Kunjarakarna menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan kehidupannya sebagai raksasa dan berganti dalam kehidupan sebagai manusia.
Kehidupan sebagai raksasa membuatnya menjadi berwatak seperti setan, selalu berbuat kerusakan dan kejahatan. Kunjarakarna mengaku, dirinya tak sanggup lagi menjalani kehidupan seperti itu. Ia ingin menjalani kehidupan baru yang serba damai, tenteram, penuh kesabaran, penuh kelembutan, terhindar dari perbuatan yang penuh keangkaramurkaan.
Pada mulanya Sang Bhatara Wairocana terkejut dan heran dengan kedatangan Kunjarakarna. Karena tidak pernah ada raksasa yang mau bersimpuh dan menangis tersedu di depan Dewa. Tetapi hal yang tak pernah terjadi itu telah terjadi di hadapannya. Raksasa Kunjarakarna bersimpuh dan menangis di depannya, meminta agar dirubah menjadi manusia.
Setelah meyakini bahwa keinginan Kunjarakarna itu memang tulus keluar dari dalam hati sanubarinya, Bhatara Wairocana pun kemudian menyatakan kesediaan dirinya untuk membantu. Tapi caranya tidak mudah. Ada ‘syarat laku’ cukup berat yang harus dijalani oleh Kunjarakarna. Salah satu syaratnya, Bhatara Wairocana meminta Kunjarakarna menemui Bhatara Yama Dipati di Tegal Petrabhuwana untuk membersihkan diri atau meruwat diri.
Tanpa membuang waktu, Kunjarakarna pun bergegas menemui Yama Dipati di Tegal Petrabhuwana. Tegal Petrabhuwana adalah suatu tempat untuk para arwah manusia yang semasa hidupnya selalu melakukan kejahatan dan keangkaramurkaan menjalani hukuman siksaannya. Tegal Petrabhuwana ini adalah tempat yang bernama neraka itu. Setelah bertemu dengan Bhatara Yama Dipati, Kunjarakarna pun kemudian menjalani ruwatan atau pembersihan diri di Tegal Petrabhuwana.
Apa yang dialami atau diperolehnya selama mengikuti pembersihan diri di Tegal Petrabhuwana itu merupakan balasan atau hukuman dari apa yang telah dilakukannya selama menjalani kehidupan sebagai raksasa. Dan, Kunjarakarna menjalani semua proses ‘hukuman’ di Tegal Petrabhuwana itu, demi niat dan kesungguhan hatinya untuk menjadi manusia yang bersih dan jauh dari keangkaramurkaan.

Siksaan Panjang
Di dalam buku atau kitab “Kunjarakarna” dijelaskan betapa panjangnya siksaan yang diterima oleh para pendosa di neraka. Ada tingkatan hukuman. Tingkatan hukuman itu misalnya lama hukuman atau siksaan bagi pendosa yang mencapai 1,8 miliar tahun. Siksaan itu akan dialami sepanjang hari tanpa henti. Raungan dan jeritan tangis tidak akan pernah bisa menghentikan siksaan maha pedih itu.
Sang pujangga di dalam “Kunjarakarna” menguraikan pula tentang ragam kejahatan yang dibaginya dalam duapuluh jenis. Masing-masing jenis kejahatan itu mempunyai bentuk hukuman yang berbeda satu sama lain. Di antaranya ada dua jenis yang masuk kategori terberat, yakni kejahatan anidya paradrwya dan anidra parawadha.
Mereka yang termasuk sebagai pelaku kejahatan anidya paradrwya adalah yang semasa hidupnya suka memiliki atau menguasai harta milik orang lain dengan cara melawan hukum, seperti perampok, pencuri, dan tentu juga termasuk para koruptor. Sedangkan yang masuk jenis kejahatan anidra parawadha adalah mereka yang semasa hidupnya bergelimang dengan kejahatan seksual. Misalnya memperkosa, terlibat perdagangan seks, berselingkuh, suka mengganggu isteri atau suami orang lain, dan lainnya lagi.
Mau tahu apa hukuman atau siksaan yang dialami oleh mereka yang masuk dalam kategori pelaku kejahatan anidya paradrwya? Di dalam “Kunjarakarna” disebutkan, di dalam neraka hukuman yang akan diterima antaralain tubuhnya dipotong-potong dengan gergaji besi yang teramat panas. Bayangkan, bagaimana jerit raung saat tubuh digergaji. Tak terbayang bagaimana sakitnya. Potongan tubuh itu disatukan kembali, lalu digegerjai lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang.
Sedang bagi yang masuk dalam kategori anidra parawadha, di dalam neraka mereka akan mendapat hukuman dihimpit batu sebesar gunung, tubuhnya akan ditusuk-tusuk tombak api dan digulung lempengan tembaga panas membara. Sungguh mengerikan.

sutirman eka ardhana