Rabu, 28 Oktober 2009

Zai

Zai
Cerpen Sutirman Eka Ardhana

IDUL Fitri tinggal tiga hari lagi. Dan, ini malam pertama aku di kampung, di rumah, setelah tiga tahun tak pernah pulang. Ya, tiga tahun sudah kutinggalkan kota kelahiranku, Bengkalis. Tiga tahun aku tinggal di Yogya, melanjutkan kuliah. Sekarang aku pulang, ingin merayakan lebaran bersama Ayah dan Emak.
Sayangnya, malam ini tak lagi purnama. Bahkan sehabis sholat tarawih di surau tadi, di langit tak ada secuil bintang pun yang muncul. Hanya awan hitam yang terlihat menebal, membuat malam menjadi begitu pekat. Tapi di ujung kampung ada cahaya yang merebak ke atas. Dari kejauhan, cahaya yang tampak menyeruak di pucuk-pucuk rimbun pepohonan karet itu bagai mengirimkan daya pesona yang besar.
Lalu, terdengar ada dentang suara gong yang mendayu. Seperti halnya cahaya yang merebak, suara gong itu pun datang dari kawasan ujung kampung. Suara gong itu bagai mengandung kekuatan magis yang mampu menggerakkan orang-orang yang mendengarnya untuk datang mendekat. Alunan irama gong yang mendayu dari kejauhan itu memang terkesan khas dan aneh.
Dentang suara gong itu pun menggodaku. Dentangnya seakan-akan memiliki daya dorong yang luar biasa untuk mempengaruhi rasa ingin tahuku. Aku bergegas bangkit dari duduk di beranda rumah. Niatku sudah jelas, mendatangi tempat di mana suara gong itu berasal. Tapi, begitu aku akan melangkah, Emak muncul di pintu.
“Kauhendak ke mana, Ar?” tanya Emak seketika.
“Mak tak dengar suara gong itu? Ada apa ya, Mak? Saya mau ke tempat gong itu berbunyi,” jawabku sambil membetulkan letak krah jaket yang kupakai.
“Oh, itu di ujung kampung! Dari orang-orang di pasar tadi pagi, Mak dengar tak jauh dari rumah Tuk Penghulu malam ini ada acara tari belian,” jelas Emak.
“Tari belian? Ah, ini kan bulan puasa, Mak? Biasanya di malam bulan puasa seperti ini orang-orang bertadarus, membaca Al-Quran, bukan membuat acara tari belian,” potongku.
“Kabarnya ada anak gadis sakit. Sakitnya sudah payah, hingga seorang Bomo dari Senggoro terpaksa dipanggil untuk mengadakan upacara belian,” jelas Emak lagi.
“Ada anak gadis sakit?! Siapa dia, Mak?” aku diburu rasa ingin tahu.
“Entahlah, Mak lupa bertanya siapa anak gadis yang sakit itu.”
“Tapi, tak jauh dari rumah Tuk Penghulu itu, Mak?”
“Yang Mak dengar di pasar tadi begitu.”
“Kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja ya, Mak? Di zaman semaju ini, masih juga ada yang berobat ke Bomo.”
“Kata orang, sakitnya anak gadis itu bukan sakit sembarang sakit.”
“Ah, siapa gerangan yang sakit itu?” aku jadi gelisah.
“Apa ada anak gadis di sekitar rumah Tuk Penghulu yang kau kenal?”
Aku hanya mengangguk. Tanpa menoleh ke Emak lagi, aku segera melangkah ke luar pintu beranda.
“Kalau mau ke sana, naik kereta angin biar cepat,” kata Emak begitu melihat aku tidak menghampiri sepeda yang tersandar di dekat beranda rumah.
Entah mengapa, perasaanku tiba-tiba menjadi bergebalau begitu mendengar penjelasan Emak, ada anak gadis yang sakit di dekat rumah Tuk Penghulu, kepala desa di kampungku, sehingga lupa dengan sepeda milik ayahku itu. Padahal jika dengan mengendarai sepeda, kawasan ujung kampung itu dapat kucapai hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Walaupun hatiku ragu apakah masih bisa mengayuh sepeda dengan sempurna, maklumlah selama di Yogya aku tak pernah lagi bersepeda.
***
SEHABIS memarkir sepeda di bawah sebuah pohon, aku segera menyeruak di antara kerumunan orang yang berjejal melingkar di halaman rumah panggung yang besar. Halaman rumah itu terang benderang dengan sejumlah lampu petromak yang digantung di beberapa tempat. Resah dan debar di dadaku sejak di ujung jalan yang menuju ke lokasi berkerumunnya banyak orang semakin mengencang. Zai-kah yang sakit?! Bukankah rumah panggung itu rumahnya Pakcik Awang, ayahnya Zai?! Kalau bukan Zai yang sakit, lantas siapa? Pakcik Awang tak punya anak gadis lain, selain Zai!
Tetapi, aku belum melihat Zai di tengah-tengah kerumunan orang itu. Yang ada hanya seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Lelaki itu sedang menengadahkan tangannya ke atas dengan mulut bergerak-gerak bagai sedang membacakan mantera persis di depan nyala api yang membara dari timbunan kayu, yang sengaja disediakan untuk menjadi api unggun. Cahaya nyala api itulah yang dari kejauhan terlihat menyeruak di pucuk-pucuk pepohonan karet. Dan lelaki tua itu sudah pasti Tuk Bomo yang diundang untuk memimpin upacara belian.
Sekitar tiga meter sebelah barat api unggun tampak jung kecil atau perahu-perahuan sepanjang satu meter. Di dekatnya terdapat balai kecil. Jung maupun balai kecil itu terbuat dari pelepah pohon kelapa. Di dalam balai kecil itu terlihat beberapa butir telur ayam, sepiring beras kunyit, sepiring beras putih, segenggam bunga dan segelas air putih.
Tiba-tiba Tuk Bomo menghentakkan kaki kanannya ke tanah tiga kali seraya mulutnya bergerak-gerak seperti sedang membacakan mantera. Secara bersamaan dentang suara gong yang ditabuh seorang lelaki muda itu berdentang lebih cepat lagi. Penabuh gendang panjang yang duduk di sebelah penabuh gong itupun meningkahkan gendangnya dengan irama yang tak kalah cepatnya.
Tak sampai tiga menit kemudian, dari dalam rumah panggung itu sekitar enam lelaki turun menggotong tempat tidur yang terbuat dari kayu. Di atas tempat tidur terbaring seorang perempuan muda berselimutkan kain putih. Di belakanganya tampak Pakcik Awang dan isterinya, Makcik Hasnah.
Aku terperangah. Wajah itu masih kuingat. Masih sangat kukenal. Mata yang terpejam dan bibir yang terkatup itu masih melekat di ingatan. Ya Tuhan, dia Zai! Tak salah lagi, dia memang Zai! Aku mencoba mendekat, melangkah lebih dekat. Tetapi beberapa lelaki yang mengawal Tuk Bomo dengan cepat menghalangi langkahku.
“Ayo mundur!” salah seorang dari pengawal Tuk Bomo menggertakku.
Dengan perasaan terpaksa aku mengundurkan langkah. Kembali ke dalam kerumunan. Aku menyadari, bila nekat mendekat ke tempat Zai terbaring, mungkin banyak orang akan marah karena menganggap perbuatanku itu mengganggu Tuk Bomo.
Orang-orang di kerumunan itu pun saling berbisik. Saling bercakap satu sama lain. Tidak sedikit pula yang berkata agak sedikit keras.
“Kabarnya baru sebulan ini dia sakit. Tak mau makan. Tak mau keluar kamar. Tak mau bercakap-cakap dengan siapapun. Mandi pun, kalau tak dipaksa, dia tak mau. Bahkan, beberapa hari lalu dia mengamuk. Segala barang yang ada di dekatnya dibuang, dilemparnya keluar rumah. Piring-piring dilempar. Gelas-gelas dilempar keluar. Banyak yang pecah,” ada yang berkata begini.
“Kenapa bisa begitu? Padahal dia itu gadis cantik, gadis periang.”
“Kabarnya juga, penyebabnya karena dia mau dinikahkan dengan pemuda dari kampung sebelah. Lelaki yang mau dijodohkan dengan dia itu anak orang kaya juga. Tapi dia menolak. Dia tak mau dinikahkan dengan pemuda pilihan ayahnya itu. Konon, ayahnya tetap memaksa. Mungkin karena dipaksa terus, dia jadi stress. Dan terus, ya jadi seperti sekarang ini.”
“Kenapa ya dia menolak? Padahal umurnya sudah cukup untuk bersuami.”
“Mungkin dia sudah punya pilihan yang lain. Mungkin ada yang ditunggunya.”
Dadaku terguncang. Terguncang bukan kepalang. Jadi dia mau dinikahkan?! Tapi dia tak mau! Ah, apa benar ada yang ditunggunya?! Jadi??? Aku didera kebingungan.
Ah, aku jadi ingat hari-hari manis bersamanya dulu. Hari-hari indah saat berkeliling kota. Hari-hari penuh kesan saat bercengkerama memandang laut. Memandang riak gelombang di Selat Bengkalis. Memandang burung-burung camar yang terbang dan hilang di kejauhan. Dan aku ingat, bagaimana ia meneteskan air mata ketika kucium pertama kali di bawah rimbunan kebun karet. Aku pun juga ingat bagaimana wajahnya terlihat sendu saat mengantarku di pelabuhan ketika akan berangkat ke Jawa tiga tahun lalu.
“Bang Ar, tak akan melupakan Zai, kan?” katanya dengan air mata berderai.
“Percayalah, Abang pasti akan selalu ingat Zai,” ucapku sambil mengusap air mata yang di pipinya.
“Abang janji?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Bang, Zai tetap akan menunggu Abang,” ujarnya lirih ketika akan melangkah masuk ke kapal.
Tiba-tiba terdengar orang ramai berteriak. Ribut. Gaduh. Aku terkesiap. Teriakan itu membuyarkan lamunanku.
“Ya Allah, dia bangun dan mengamuk!” ada yang berseru begini.
“Dia memukul Tuk Bomo!”
“Astaga, batangan kayu berapi di api unggun itu dipukulkannya ke Tuk Bomo,” teriak yang lain.
Benar! Aku tidak salah lihat. Zai mengamuk bagai seekor singa betina yang marah. Semua peralatan dan sesaji yang ada tercerai-berai. Jung dan balai kecil luluh-lantak diinjak dan ditendangnya. Piring tempat beras kunyit dilemparkannya ke arah pengawal Tuk Bomo. Tepat mengena di kepala. Pengawal Tuk Bomo itu terjatuh, dan piring pun pecah berantakan. Zai seperti ingin memburu orang-orang di sekitarnya dengan mengibas-ibaskan potongan kayu yang masih ada bara apinya.
Suasana jadi kacau-balau. Makcik Hasnah, emaknya Zai, berteriak-teriak menangis. Pakcik Awang juga berteriak, tak jelas apa yang diteriakkannya. Beberapa orang berusaha menyelamatkan Tuk Bomo dan berusaha menggotongnya menjauh. Orang-orang yang semula berkerumun menonton di sekitarnya menghindar menyelamatkan diri, takut jadi korban amukan. Hanya aku yang tetap berdiri di tempat. Terpana menyaksikan semuanya. Menyaksikan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ada yang mencoba menarik lenganku, mengajakku menjauh, ada pula yang berteriak menyuruhku menghindar, tapi semua tak kuhiraukan.
Aku masih tetap berdiri. Terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Dan, Zai tiba-tiba sudah berada tepat di depanku. Hanya berjarak sekitar dua meter. Di tangannya tetap melekat sepotong kayu yang ujungnya masih membara api. Orang-orang berteriak, menyuruhku segera lari. Matanya yang membara memandang tajam, tak berkedip.
“Zai,” aku mencoba menyapa, ramah. “Masih ingat dengan Abang?”
Belum ada reaksi. Ia tetap berdiri di tempatnya. Memandang tajam.
“Masih ingat Abang, Zai?” suaraku lagi.
Ia masih tetap tak berkedip memandangku. Tapi mata itu sudah tidak lagi menyala. Nyala api di matanya tampak meredup.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Kayu di tangannya dilepaskan. Setelah itu ia menghambur ke arahku. Memeluk tubuhku erat-erat.
“Bang Ar, kapan pulangnya? Kenapa tak bilang-bilang ke Zai? Bang, Zai mau ikut Abang. Mau ikut Abang,” katanya sambil menangis terisak-isak di dadaku.
Aku terperangah. Benar-benar terperangah. **
Yogya, menjelang Idul Fitri 1430 H
Catatan:
- Tari belian = tarian untuk penyembuhan
- Bomo = semacam dukun.

Dimuat: Harian “SUARA KARYA”, Sabtu, 24 Oktober 2009

Selasa, 20 Oktober 2009

Cerpen "Rahasia Lelaki"

Rahasia Lelaki

Cerpen: Sutirman Eka Ardhana

KEGEMBIRAAN lelaki itu seketika lenyap, ketika anak lelakinya datang dan memperkenalkan perempuan muda yang menjadi calon isterinya. Kegembiraan yang sudah dipendamnya selama tiga hari tiga malam itu mendadak berubah drastis menjadi kegelisahan yang dahsyat. Kegelisahan itu bercampurbaur dengan kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat.
Tiga hari lalu, pagi-pagi sekali anak lelakinya yang baru sebulan diwisuda menjadi sarjana komunikasi itu datang menemuinya di beranda rumah.
“Pak, saya mau menikah,” kata anak lelakinya dengan suara agak tergagap.
Lelaki itu terpana. Ia merasa tak yakin dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
“Bapak merestui kan kalau saya mau menikah?” lagi anak lelakinya bersuara.
“Kamu mau menikah? Apa telinga Bapak tidak salah dengar?” lelaki itu bertanya dengan keheranan yang masih mengental.
“Tidak, Pak. Bapak tidak salah dengar. Saya kepingin menikah. Untuk itu saya minta Bapak dan Ibu segera melamar gadis calon isteri saya itu ke orangtuanya.”
Isteri lelaki itu muncul di beranda. Pembicaraan menjadi berhenti seketika.
“Lagi membicarakan apa? Saya datang kok langsung diam?” tanya isterinya, curiga.
Mereka saling pandang. Anak lelakinya mencoba tersenyum. Tapi di balik senyum itu terlihat jelas ada ketegangan di wajahnya.
“Ada apa, tho?” suara isterinya tak sabar.
“Ini lho, anak lelakimu ini menyatakan keinginannya untuk menikah. Ia minta kita untuk melamar seorang gadis, calon isterinya itu,” lelaki itu berkata apa adanya.
“Menikah? Melamar?” gumam isterinya, seperti tak yakin.
“Ya, itu yang tadi dikatakan anak lelakimu ini.”
“Tapi yang mau dilamar itu siapa? Anak siapa? Dan tinggal di mana? Apa perempuan Yogya? Perempuan Solo? Perempuan Magelang? Atau perempuan dari Gunungkidul?” tanya beruntun dari isterinya.
“Nah, itu tadi yang ingin kutanyakan. Tapi keburu kamu datang, pertanyaannya jadi buyar.”
“Ayo, sekarang jelaskan, siapa gadis pilihanmu itu? Siapa orangtuanya? Dan di mana tinggalnya?” tanya isterinya ini ditujukan kepada anak lelakinya.
Dicecar pertanyaan seperti itu, anak lelakinya pun gugup.
“Ayo, cepat katakan. Biar semuanya jadi jelas.”
“Namanya …… namanya ….. Trisnani. Nama orangtuanya …….. wah …. saya masih belum jelas. Nantilah saya tanyakan. Tapi orangtuanya tinggal di Jakarta,” jawab anak lelakinya terbata-bata.
“Dan perempuan yang ingin kau lamar itu sekarang tinggalnya di mana? Di Jakarta atau di Yogya?”
“Dia kost di Yogya. Dia baru saja lulus D-3 Perhotelan.”
“Sudah berapa lama kau kenal dia?”
“Sekitar satu tahun. Tapi pacarannya ya baru enam bulanan ini.”
“Belum pernah diajak kemari?”
“Belum. Saya sengaja tidak pernah mengajaknya ke rumah dan mengenalkannya kepada Bapak dan Ibu, soalnya biar jadi kejutan.”
“Apakah niatmu ini sudah bulat?”
“Sudah.”
“Baiklah, nanti biar Bapak dan Ibu rundingkan dulu. Dan yang penting, ajak anak perempuan itu ke mari, kenalkan pada Bapak dan Ibu.”
“Baik, nanti tiga hari lagi dia saya kenalkan kepada Bapak dan Ibu.”
Malam hari, lelaki itu dan isterinya pun sibuk membicarakan keinginan anak lelakinya untuk menikah.
“Tentang keinginan anak kita itu, menurutmu bagaimana, Bu?” tanya lelaki itu ketika bersama isterinya sudah berada di atas tempat tidur.
“Ya, terserah Bapak saja.”
“Kalau menurutku, ya senang-senang saja kalau dia mau menikah. Mau punya isteri. Apalagi dia sudah sarjana. Dan terus terang, di usia-usia menjelang senja seperti ini aku memang sudah kepingin punya cucu. Kepingin momong cucu. Wah, betapa bahagianya kalau punya cucu.”
“Ah, melamar saja belum. Apalagi menikah. Kok, sudah menghayal momong cucu. Bapak ini mengada-ada saja.”
“Aku tidak mengada-ada, Bu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya akan terjadi nanti. Karenanya kita harus segera memenuhi keinginan anak kita itu, melamar calon isterinya. Melamar secepatnya. Biar cepat pula mereka menikah. Dan kemudian akan cepat pula kita punya cucu.”
“Tapi, anak kita itu kan belum bekerja, Pak. Bagaimana nanti ia mengurusi rumahtangganya?”
“Ah, soal bekerja itu soal nanti. Yang penting, aku ingin cepat-cepat punya cucu. Apalagi kita kan masih sanggup bila hanya membiayai kehidupan seorang menantu dan seorang cucu. Bahkan beberapa cucu pun masih sanggup.”
Tiga hari yang dijanjikan anak lelakinya pun tiba. Menjelang petang anak lelakinya datang bersama seorang perempuan muda. Perempuan muda itu cantik. Berkulit kuning langsat. Rambutnya tergerai ikal sebahu. Dan, ada lesung pipit di kedua pipinya.
Lelaki itu sudah tak sabar lagi untuk melihat wajah calon menantunya. Isterinya yang sedang berada di dapur langsung ditariknya menuju ke ruang tamu.
“Ayo Bu, calon menantu kita sudah datang,” serunya gembira sambil menarik lengan isterinya.
“Sabar dulu tho, Pak. Biarkan dia duduk dulu di ruang tamu.”
“Aku sudah tidak sabar untuk segera melihatnya, Bu.”
Begitu muncul di ruang tamu, lelaki itu terpana sesaat. Matanya nyaris tak berkedip sedikitpun. Perempuan muda yang dibawa anak lelakinya itu benar-benar cantik. Luar biasa! Dia benar-benar cantik! Betapa bangganya punya menantu secantik itu! Isterinya pun terpesona. Ada kegembiraan yang meledak-ledak dalam hatinya menyaksikan anak lelaki semata wayangnya itu begitu pandai memilih calon isteri.
“Pak …Bu…, kenalkan ini Trisnani yang saya ceritakan itu,” kata anak lelakinya memperkenalkan perempuan muda yang bersamanya.
Trisnani, perempuan cantik yang dibawa anaknya itupun mengulurkan tangan dengan sopan dan malu-malu. Lelaki itupun menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat. Isterinya juga melakukan hal yang sama.
Mereka lalu terlibat pembicaraan yang hangat dan menyenangkan.
“Orangtua Nak Trisnani tinggal di Jakarta?” lelaki itu mulai bertanya.
“Betul, Pak,” perempuan yang dikenalkan anaknya itu menjawab lembut.
“Boleh kami tahu, siapa nama orangtua Nak Trisnani?” lelaki itu bertanya lagi, untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga sang calon menantu.
“Nama ayah saya, Pramono. Lengkapnya, Pramono Sulistyo.”
“Oooo,” lelaki itu manggut-manggut. Juga isterinya.
“Kalau nama ibunya, siapa?” isteri lelaki itu ikut bertanya, ketika perempuan kekasih anaknya baru saja akan melanjutkan kata-katanya.
“Ibu saya, namanya Farida.”
“Siapa?” tanya lelaki itu untuk lebih meyakinkan lagi nama yang baru saja didengarnya.
“Farida, Pak. Lengkapnya Farida Utaminingsih.”
Lelaki itu tergetar. Nama yang diucapkan itu mengingatkannya pada seseorang. Pada seorang perempuan yang dulu sempat singgah dalam kehidupannya.
“Farida Utaminingsih?” tanpa sadar lelaki itu mengucapkannya, meski lirih.
“Betul. Dan waktu muda dulu, ibu saya lebih dikenal dengan nama Farida Santoso.”
Dada lelaki itu tak hanya tergetar, tapi tergoncang. Lelaki itu menahan napas, dan mencoba menahan getaran serta goncangan di dadanya.
“Ya, Farida Santoso. Santoso itu kakek saya, tapi sekarang sudah almarhum. Kakek saya itu orang Yogya, dan sekarang saya tinggal di rumah kakek.”
“Di mana?”
‘Di Kotagede.’
Getaran dan goncangan di dada lelaki itu semakin dahsyat. Tubuhnya terasa lemas dan berkeringat dingin. Tapi ia masih belum yakin sepenuhnya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia masih ingin bertanya. Bertanya lebih jelas lagi.
“Berapa usia Nak Trisnani sekarang?” lelaki itu bertanya lagi dengan harap-harap cemas.
“Duapuluh satu tahun, Pak. Saya lahir tahun 82.”
Dada lelaki itu seperti ditusuk tombak.
“Oh iya, saya ada membawa foto ibu saya, tapi fotonya waktu muda dulu, semasa masih di Yogya,” kata perempuan kekasih anaknya lagi sambil membuka dompet dan mengeluarkan sehelai foto, lalu menyerahkannya ke lelaki itu.
Tangan lelaki itu tergetar menerimanya. Dan, jantungnya seperti berhenti berdetak, takkala memandang sehelai foto perempuan yang ada di tangannya. Betapa tidak. Wajah di foto itu tak mungkin dilupakannya. Wajah itu, wajah yang pernah punya arti. Wajah yang dulu sempat menyelusup ke dalam hatinya. Wajah Farida Santoso. Wajah kekasih gelapnya kala itu.
Lelaki itu tak mampu bersuara lagi. Getaran dan goncangan di dadanya kian memuncak. Dadanya sesak. Kepalanya memberat, bagai dibebani bongkahan-bongkahan batu. Dan matanya mendadak berkunang-kunang.
Setelah meletakkan foto itu di meja, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mencoba bangkit dari duduk. Tapi tubuhnya limbung dan terhuyung-huyung.
“Eh ……..Pak, kenapa?” isterinya terkejut melihat lelaki itu nyaris terjatuh.
“Kepalaku mendadak pusing. Pusing sekali,” lelaki itu masih sempat berkata begini.
Lelaki itu dipapah, dibawa ke kamar oleh isteri dan anaknya. Sementara perempuan yang menjadi kekasih anaknya hanya bingung dan terheran-heran.
****
DI DALAM kamar, setelah ditinggal isteri dan anaknya keluar, lelaki itu berbaring dengan kegelisahan yang sulit dikendalikannya lagi. Kegelisahan itu begitu dahsyat. Begitu luar biasa. Seumur hidup belum pernah ia merasakan kegelisahan sedahsyat ini.
Ingatannya lalu melayang ke masa-masa duapuluh tahun lebih yang lalu. Ingatannya tertuju ke sebuah nama, Farida Santoso. Nama yang tadi disebutkan oleh kekasih anak lelakinya sebagai nama ibunya. Padahal, nama itu adalah nama kekasih gelapnya dulu. Nama pasangan selingkuhnya waktu itu.
Ia pun lalu ingat, suatu hari duapuluh satu tahun lalu, Farida Santoso datang menemui dan mengatakan dirinya hamil. Dan, iapun ingat, bagaimana terlukanya hati Farida waktu itu, karena ia mengatakan tidak bisa bertanggungjawab, karena sudah punya anak isteri. Untunglah Farida tidak terus mendesaknya, bahkan memilih membawa luka hatinya ke Jakarta.
“Kalau begitu, perempuan kekasih anakku itu pasti anakku juga. Pasti anak dari benihku yang dikandung Farida dulu, dan yang dibawanya pergi meninggalkan Yogya. Kalau begitu, ia tidak boleh jadi menantuku. Tidak. Sama sekali tidak boleh. Ia adalah anakku juga,” deretan kata-kata ini menerjang keras di dalam dadanya.
Dan, ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk memberitahukan kepada anak lelakinya, juga kepada isterinya, tentang siapa Trisnani sebenarnya. Tapi ia tak kuasa melakukannya. Ia tidak punya keberanian untuk membuka rahasia kelam masa lalunya. Ia tak kuasa untuk membuat hati isterinya terluka. Mulutnya seakan terkatup rapat, tak bisa digerakkan.
Di dalam kamar, ia pun terkulai, tak berdaya.***
Yogya, 2003.

Senin, 05 Oktober 2009

Keris Melayu

Keris Melayu
Awalnya Dibuat Seorang Empu dari Jawa

KERIS pada masanya dulu merupakan senjata pendek yang paling terkenal. Bahkan di masanya dulu juga keris diyakini dipandang sebagai senjata pusaka yang memiliki kekuatan tertentu. Pada sebagian masyarakat di Nusantara, terutama di Jawa, juga sampai di Semenanjung Melayu, Malaysia, keyakinan itu masih tertanam hingga hari ini.
Sampai hari ini para ahli berpendapat bahwa keris berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Karena itulah sampai hari ini eksistensi keris masih sangat terjaga di Jawa, dan bagi masyarakat Jawa keris telah dipandang sebagai salah satu bentuk peninggalan budaya yang adiluhung. Sehingga keris tak bisa dipisahkan dengan perilaku dan aktivitas budaya masyarakat Jawa.
Bagaimana dengan masyarakat Melayu? Tak begitu jauh berbeda dengan masyarakat Jawa, sebagian masyarakat Melayu juga memandang bahwa keris merupakan salah satu peninggalan budaya yang sampai hari ini masih dihargai keberadaannya. Keris masih tetap dipandang sebagai bagian dari bentuk budaya yang sangat berharga, dan mendapat tempat yang istimewa. Karena itulah hingga hari ini masyarakat Melayu masih sangat mengenal apa yang disebut dengan Keris Melayu.
Di Semenanjung Melayu, Malaysia, misalnya. Seorang pakar dan pemerhati keris di Malaysia, Mohd Ramli Raman, dalam makalahnya tentang Keris Melayu Semenanjung yang pernah disampaikan dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Agustus tahun lalu (2008), mengatakan bahwa peranan keris dalam masyarakat Melayu begitu besar. Menurutnya, keris bukan hanya senjata tempur tetapi juga meliputi segala aspek kehidupan yakni antara yang terpenting sebagai regalia kekuasaan di tiga belas propinsi dan sebuah daerah nasional (sentral) yaitu Wilayah Persekutuan yang meliputi tiga bagian seperti Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan di Sabah (Pemerintah Pusat atau Kerajaan Persekutuan).
Ramli Raman yang pakar dari Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur ini sempat pula menguraikan bahwa pada setiap negeri di Malaysia mempunyai keris-keris kebesaran atau keris kerajaan (keris diraja). Keris kebesaran itu terdiri dari sebuah keris pendek, sebuah keris panjang (keris penyalang atau gabus ataupun disebut keris alang, juga dipanggil keris terapang). Keris-keris itu semuanya menjadi simbol kekuasaan Melayu. Dan, salah satu keris kerajaan yang sangat terkenal di Malaysia adalah keris Yang Dipertuan Agong.
Sejak kapan keris yang berasal dari Jawa itu kemudian bisa dimiliki juga oleh masyarakat Melayu? Bila meminjam pendapat Ramli Raman, akan terlihat jelas bahwa sejarah keris Melayu itu telah melalui liku perjalanan sejarah yang panjang. Seperti diakui oleh Ramli Raman, keris Melayu itu permulaannya berasal dari Tanah Jawa yakni sejak zaman kegemilangan Majapahit. Sejarah mencatat, seorang Empu (ahli pembuat keris) dari Jawa telah datang ke daerah Pattani (Thailand Selatan) sekitar penghujung abad ke 15 dan awal abad ke 16.
Pada awalnya dulu, Pattani merupakan wilayah kerajaan Melayu. Dari Pattani itulah, sang Empu yang kemudian dikenal dengan nama Empu Pandai Sarah (Pande Sarah) mengembangkan bentuk keris yang dibawanya dari Jawa. Empu Pandai Sarah memang seorang Empu yang sangat kreatif. Ia tidak terpaku pada keris dari tanah kelahirannya di Jawa. Ia membuat kreasi baru yang berbeda dengan keris di bumi kelahirannya. Bentuk keris yang dibuat Empu Pandai Sarah itulah yang hingga hari ini dikenal dengan sebutan keris Melayu. Bentuk keris yang awalnya dibuat oleh Empu Sarah itu pun kemudian melebar ke seluruh Tanah Melayu. Dan, nama Keris Pandai Sarah hingga hari ini masih sangat dikenal di Semenanjung Melayu.


Ragam Bentuk Keris Melayu
Sejak pertama kali dikenalkan oleh Empu Pandai Sarah, bentuk-bentuk keris Melayu pun terus berkembang dari masa ke masa. Seperti halnya di Jawa, keris Melayu pun penuh dengan nilai-nilai estetika. Seperti mempunyai dua belah mata, yang melebar di pangkal dan tirus di ujungnya serta tajam. Mata kerisnya lurus dan berlok-lok dengan keindahan pamor serta hulu yang indah dan menarik. Demikian pula sarung keris, juga penuh dengan nilai estetika.
Para pewaris Empu Pandai Sarah pun bermunculan. Salah seorang di antaranya Sang Guna, yang merupakan empu pertama di zaman Sultan Muhammad Syah Melaka. Sang Guna telah membuat keris tempa panjang, berukuran tiga jengkal.
Hulu keris Melayu berukuran sekitar 15 cm. Bentuknya membengkok di bagian tengahnya. Kebanyakan hulu keris Melayu diukir dengan ukiran tangan penuh nilai estetika Melayu. Hulu keris itu biasanya dibuat dari kayu atau akar pohon kayu seperti pohon kemuning, tegor, tempinis, petai belalang, lebang, kayu hitam dan lainnya. Selain dari kayu atau akar pohon, hulu keris Melayu juga ada yang dibuat dari gading gajah, tanduk, gigi ikan paus, emas, perak, besi dan lainnya.
Hulu keris Melayu juga punya berbagai nama, seperti hulu Anak Ayam Teleng, Anak Ayam Sejuk, Jawa Demam, Kakaktua, Tapak Kuda dan Pekaka. Kemudian motif ragam hias di hulu keris Melayu juga beraneka-macam seperti bermotifkan bunga timbul, awan larat, bunga tebuk, ketam guri, bentuk fauna dan lainnya.
Bilah keris Melayu juga penuh daya tarik. Keris Melayu mempunyai beragam bentuk dan ukuran. Sebagian besar keris Melayu memiliki jenis yang berlok, samada tiga, lima, tujuh atau sembilan dan lurus. Keris Melayu juga ada yang memiliki panjang sampai 61 cm, dan berlok sampai 29 lok. Di samping itu ada keris Melayu yang ujungnya seperti mata pedang. Keris jenis itu misalnya Keris Sundang.
Seperti halnya di Jawa, selain mempunyai beragam jenis dan bentuknya, keris Melayu juga mempunyai sejumlah nama. Nama-nama keris itu sesuai dengan bentuk dan kegunaannya, bahkan ada yang meyakini sesuai dengan ‘kekuatan’ yang ada di dalamnya. Perlu diketahui, keyakinan bahwa keris itu memiliki semacam ‘kekuatan’ atau ‘tuah’ tak hanya terdapat di masyarakat Jawa, tapi juga di kalangan masyarakat Melayu, baik di Semenanjung Melayu, Malaysia, maupun di ranah Nusantara Melayu lainnya.
Beragam nama keris Melayu, khususnya di Semenanjung Melayu, Malaysia, yang masih dikenal hingga hari ini di antaranya: Keris Sepukal, Keris Sempena, Keris Cerita, Keris Picit, Keris Tajung, Keris Sulok Belingkong (lok tiga), Keris Apit Liang (lok lima), Keris Jenoya (lok tujuh), Keris Rantai (lok hingga 21 lok), Keris Andus (23 sampai 29 lok), Keris Melela, Keris Tok Chu, Keris Beko, Keris Beko Debek, Keris lepeng Terengganu, Keris Tajung, Keris Pekaka dan Keris Coteng.
Bila dalam khasanah Melayu dikenal kata-kara masyhur yang dulu pernah diucapkan Laksamana Hang Tuah „Tak Kan Melayu Hilang di Bumi“, maka bagi kita di Bumi Nusantara ini yang ingin menjaga dan mempertahankan eksistensi keris sebagai warisan budaya adiluhung sudah sepantasnya juga kita menggelorakan semangat dan tekad „Tak Kan Keris Hilang di Bumi“. sutirman eka ardhana